Postingan

Menyikapi Kebenaran dalam Warna Pikiran

Segala Sesuatu Yang Kita Dengar Adalah Opini, Bukan Fakta. Segala Sesuatu Yang Kita Lihat Adalah Prespektif, Bukan Kebenaran (Marcus Aurelius, 2023). Jiwa Menjadi Berwarna Dengan Warna Pikirannya. Kutipan dari Marcus Aurelius, "Segala sesuatu yang kita dengar adalah opini, bukan fakta. Segala sesuatu yang kita lihat adalah perspektif, bukan kebenaran," menawarkan pandangan filosofis yang mendalam tentang bagaimana individu memandang dan memahami dunia di sekitar mereka. Dalam perspektif psikologi positif, kutipan ini sangat relevan karena menekankan pentingnya persepsi dalam membentuk kesejahteraan psikologis. Psikologi positif berfokus pada cara individu memproses pengalaman mereka, membingkai ulang realitas, dan menciptakan makna yang mendukung perkembangan mental yang sehat. Sejalan dengan pandangan Marcus Aurelius, kesejahteraan mental tidak hanya bergantung pada peristiwa eksternal, tetapi juga pada cara kita memilih untuk menginterpretasikannya (Peterson, 2006). Hal i...

Mengungkap Perasaan Terpendam

"Diamlah, dan Jangan Pernah Melupakan Apa yang Telah Mereka Katakan" Dalam interaksi manusia, ada momen-momen ketika emosi memuncak dan kata-kata yang terucap sering kali melampaui batas kesopanan dan kontrol diri. Ketika seseorang benar-benar marah, kita sering kali menyaksikan sebuah fenomena psikologis yang mendalam. Marah bukan hanya tentang reaksi impulsif; ini adalah saat di mana perasaan yang mendalam dan terpendam sering kali muncul ke permukaan. Mengapa kita harus memperhatikan kata-kata yang diucapkan saat seseorang sedang marah? Jawabannya terletak pada mekanisme pertahanan psikologis. Ketika individu mencapai titik marah, pertahanan mereka terhadap emosi yang lebih dalam dan mendalam mulai runtuh. Ini adalah saat di mana mereka melepaskan kontrol diri dan mengungkapkan perasaan yang selama ini mereka sembunyikan. Dalam kondisi ini, kata-kata yang diucapkan sering kali mencerminkan kebenaran mendalam yang tidak selalu muncul dalam keadaan tenang. Seringkali, ...

Fiksi di Beranda

Halo! Masih ingatkah anda dengan bagaimana rumitnya pemikiran seorang wanita? Bagaimana mereka para wanita zaman sekarang mudah termakan stereotip yang ada di media sosial mereka. Mereka memepersulit hidup mereka sendiri dengan standar fiktif  yang beredar dan menjadi ”fyp” pada beranda mereka. Yang mana media sosial memakan ke-outentikan diri mereka sendiri, mengubah pola pikir mereka menggunakan stereotip halus yang bahkan jarang mereka sadari. Mengapa demikian? Bagaiaman bisa hal itu terjadi pada sebagian besar wanita?  Mengapa media sosial seolah menjadi kambing hitam pada pembahasan kali ini? Bukankah diri mereka sendiri saja yang kurang dalam melakukan filter informasi? Nova Aryandra, (2021) menuturkan bahwa, tidak ada yang lebih halus dari cara media sosial membentuk cinta dan kehidupan kita. Kita diajari untuk mencari validasi dalam bentuk 'like' dan komentar, untuk menilai diri sendiri berdasarkan citra orang lain, dan untuk membiarkan standar hubungan ditentukan ol...