Hujan
Di
balik tirai awan kelabu, tetesan-tetesan hujan turun dengan lembut, membawa
cerita yang tersembunyi di dalam setiap tetesnya. Hujan bukan hanya sekadar
gerimis di langit, melainkan pelukan lembut dari alam yang hadir untuk mengusir
kesedihan dan tekanan yang mungkin merayap dalam diri kita. Saat hujan menari
di atap-atap, ia menjadi teman setia yang membawa kehangatan samar, ibarat
pelukan yang menenangkan jiwa yang gelisah. Dalam setiap tetesnya, hujan
mengajak kita bersembunyi dari keramaian dunia, memberi kesempatan untuk
meresapi keindahan ketenangan dalam relung hati yang terlindungi oleh
rintik-rintik yang penuh makna.
Charlie
Chaplin (1985) pernah berkata “Aku suka berjalan di bawah hujan, sehingga
tidak ada seorang pun yang bisa melihatku menangis.”
Perjalanan
di bawah hujan bukan hanya tentang menjauh dari tatapan dunia, tetapi juga
tentang menyembunyikan setiap tetes air yang mencuri kesedihan dari matamu.
Hujan menjadi teman setiamu, menyamar dalam rintiknya sebagai alibi untuk
menangis tanpa takut dihakimi oleh pandangan orang lain. Di antara
tetesan-tetesan hujan, kamu menemukan kebebasan untuk meresapi emosi tanpa
batas, seperti pelukan alam yang penuh pengertian. Mungkin, di balik setiap
langkahmu di bawah hujan, ada kekuatan yang lahir dari keberanianmu untuk
berbagi air mata dengan langit.
Ketika anda merasa berdosa atau melakukan kesalahan dan
anda terpukul akan hal itu, sehingga anda berfikir anda adalah yang paling
berdosa dan bersalah. Anda cukup tamak, kenapa anda berfikir bahwa kesalahan
anda lebih besar dari rahmat tuhan?
Kenapa anda bersikap seolah memiliki semua itu sendiri?
Apakah anda tidak berfikir bahwa ada jalan lain untuk survive? Apakah anda
tidak berfikir bahwa orang lain tidak mengalami hal seberat apa yang anda
rasakan?
Anda ingin berdamai? Tapi anda tidak pernah melakukan
perdamaian itu, lalu apa yang anda maksud dengan berdamai?
Saya ibaratkan dalam hubungan romansa masa lalu, atau
lebih familiar dengan sebutan gamon. Anda merasa kalau anda belum bisa
berdamai? Lalu apa yang menjadi indikator anda untuk mendiaknosa kesembuhan,
perdamaian, atau memaafkan diri sendiri, atau juga penerimaan kondisi? Anda
tidak akan pernah bisa menentukan indikator itu secara paten dan reliable.
Reliabel yang dimaksud disini adalah dimana indikator tersebut telah diuji pada
beberapa subjek dan objek dengan menghasilkan hasil akhir sama. Apakah anda bisa
menemukan indikator itu?
Tentu tidak, anda hanya beralasan, beralasan untuk
menghindari pasangan anda yang saat ini ketika mengajaknya break sejenak dari
hubungan saat ini dengan mengatas namakan berdamai. Berdamai secara harfia
adalah menerima semua yang terjadi dalam konteks apapun, dan mulai melupakan
masa lalu, untuk membentuk kerjasama. Perbedaan dalam kerja sama tersebut mampu
dibalut dalam selubung harmoni, dengan negosiasi.
Berdamai bukan melarikan diri dan bersembunyi, anda hanya
akan menunda move on anda. Anda beralasan berdamai dengan masa lalu, dan
bernegosiasi dengan pasangan anda sekaran untuk break sampai anda mampu
berdamai dengan keadaan. Lalu pasangan anda menolak, karena jelas poin
keuntungannya sedikit, tidak imbang, bahkan terkesan anda memanfaatkan pasangan
anda yang sekarang. Lalu anda merespon dengan mengatakan jangan egois? Anda
sehat? Tidak, bisa saya asumsikan anda gila karena pengaruh dari limbah luar.
Coba anda berfikir jernih. Ada pernah dengar aliran
filsafat vitalisme? Vitalisme merupakan sedikit dari sekian banayak aliran
filsafat yang memiliki porsen relevansi dengan kehidupan itu di angka 84%. Aliran
ini berpendapat bahwa kenyataan sejati
pada dasarnya adalah energi, daya, kekuatan/nafsu yang bersifat irasional.
Dapatkah anda menangkap maksud dari pemaparan saya diatas
tadi? Baik akan saya jabarkan sedikit. Menurut pemaparan materi yang diberikan
oleh Widodo (2022), Perilaku manusia merupakan manifestasi dari kekuatan
irasional. Vitalisme percaya bahwa seluruh aktivitas atau
perilaku manusia pada dasarnya merupakan perwujudan dari energi, daya, kekuatan
non fisik yang tidak rasional dan
instingtif.
Disini irrasional merujuk pada sesuatu yang
tidak rasional atau tidak masuk akal. Secara simpel dan jelas, irrasional dapat
diartikan sebagai perilaku, pikiran, atau keputusan yang tidak didasarkan pada
logika atau pemikiran yang rasional. Ini bisa mencakup tindakan atau keputusan
yang tidak masuk akal, tidak dapat dijelaskan dengan baik, atau bertentangan
dengan logika yang umum diterima. Sedangkan perilaku “rasional” adalah rasionalisasi.
Sampai sini apa yang anda tangkap? Bukankah anda mulai
merasa bingung? Apakah anda mulai berfikir jika berdamai yang anda inginkan
merupakan perwujudan dari perilaku rasional atau rasionalisasi? Apakah anda
mulai bingung dengan apa yang menjadi alasan anda untuk berdamai tadi? Jika
iya. Apakah muncul juga pertanyaan dikepala anda, anda sebenarnya berdamai
dengan apa dan siapa atau sesuatu yang bagaiman atau juga kondisi yang seperti
apa?
Bagaimana? Apakah sudah mulai muncul pertanyaan –
pertanyaan itu di kepala dan otak anda?
Baiklah, akan saya lanjutkan sedikit agar anda sedikit
memahami maksud saya.
Keputusan
atau perilaku manusia yang “rasional” pada dasarnya adalah rasionalisasi saja
dari keputusan-keputusan atau
hal-hal yang
tidak rasional tersebut.
Rasio adalah alat rasionalisasi, dalam hal ini rasio hanya
alat yang berfungsi untuk merasionalisasi keputusan-keputusan yang sebetulnya
tidak rasional (Widodo, 2022).
Ungkapan
tersebut menyatakan bahwa keputusan atau perilaku yang dianggap
"rasional" pada dasarnya hanyalah usaha untuk merasionalkan atau
memberikan alasan pada keputusan-keputusan atau hal-hal yang sebenarnya tidak
rasional. Rasio atau akal budi digunakan sebagai alat untuk memberikan
pembenaran atau penjelasan logis terhadap tindakan atau keputusan yang mungkin
tidak beralasan secara dasar. Dengan kata lain, seringkali manusia menggunakan
pemikiran rasional sebagai cara untuk menjelaskan atau membenarkan tindakan
yang mungkin tidak didasarkan pada logika atau nalar yang jelas.
Seperti
ungkapan Charlie Chaplin diatas tadi, yang menyatakan bahwa ia lebih menyukai
berjalan dibawah derasnya hujan sehingga tidak ada yang mengetahui bahwa ia
sedang menangis dan bersedih. Mengapa demikian? Apakah muncul pertanyaan
dibenak anda seperti itu? Apakah ada alasan sebenarnya dibalik ungkapan ia
tersebut?
Saya jelaskan sedikit, alasan sebenarnya Charlie
Chaplin lebih menyukai hal
tersebut. Secara rasiolnya individu lain memang tidak akan mampu melihat dengan
jelas kita sedang menangis atu memasang raut muka sedih kita saat hujan
mengguyur deras. Individu lain hanya akan melihat kita dengan sekilas dan
menyimpulkan sekilas, itu dilakukan bagi mereka yang menaruh rasa penasaran dan
peduli dengan kita, sedangkan yang lain akan masa bodoh. Apakah benar seperti
itu? Lalu dibalik semua itu, Charlie Chaplin hanya ingin melakukan tindakan "resilience." Apakah anda mulai menangkap sesuatu?
Pernyataan
"Aku suka berjalan di bawah hujan, sehingga tidak ada seorang pun yang
bisa melihatku menangis" dari Charlie Chaplin mencerminkan suatu dorongan
irrasional yang mungkin berasal dari pengalaman emosional atau psikologis
pribadi Chaplin. Analisa
sederhananya :
Keinginan
untuk Menyembunyikan Emosi: Pernyataan ini menunjukkan dorongan
untuk menyembunyikan atau menahan emosi tertentu, khususnya kesedihan atau
kelemahan. Mungkin Charlie Chaplin merasa lebih nyaman menyembunyikan
perasaannya di balik tindakan yang tampak sederhana seperti berjalan di bawah
hujan.
Keterkaitan
dengan Karakter Publik: Sebagai seorang entertainer dan
tokoh publik, Chaplin mungkin merasa perlu untuk menjaga citra kebahagiaan atau
kegembiraan di hadapan orang banyak. Pernyataannya bisa mencerminkan upaya
untuk tetap terlihat kuat dan positif di depan orang lain.
Kreativitas
dan Ekspresi Seni: Chaplin, sebagai seorang seniman dan
pelawak, mungkin menggunakan momen-momen seperti berjalan di bawah hujan
sebagai bentuk ekspresi seni atau kreativitas untuk mengatasi perasaan
pribadinya. Ekspresi ini bisa dianggap sebagai cara unik untuk meresapi dan
menyampaikan emosi.
Penolakan
terhadap Kelemahan: Pernyataan ini juga mencerminkan
penolakan terhadap terlihat lemah di hadapan orang lain. Berjalan di bawah
hujan mungkin menjadi metafora bagi Chaplin untuk menunjukkan bahwa dia tetap
kuat meskipun menghadapi kesulitan atau penderitaan.
Kebutuhan
akan Privasi Emosional: Dalam kehidupan pribadinya, Chaplin
mungkin merasa perlu untuk memiliki ruang privasi emosionalnya. Berjalan di
bawah hujan dapat dianggap sebagai cara untuk menciptakan momen pribadi di mana
dia dapat merasakan dan mengatasi emosinya tanpa intervensi orang lain.
Tapi
penting untuk diingat bahwa analisis ini bersifat spekulatif dan didasarkan
pada interpretasi pernyataan tersebut. Hanya Chaplin sendiri yang benar-benar
tahu motivasi dan makna yang sebenarnya di balik kata-katanya.
Bagaimana?
Apakah anda mulai memahami dan mengerti anda sedang berdamai
dengan apa dan dengan siapa anda berdamai?
Silahkan tulis dikolom komentar.
Komentar
Posting Komentar
Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar