Perspectives 4: DIBALIK SEBUAH TABIR
"There is no real truth while you are still breathing. That's what
makes life interesting" (Nopperrabo, 2022).
Kata-kata itu seolah membalut Anda dalam kabut ketidakpastian. Bagaimana
bisa? Bukankah kita diajarkan untuk mempercayai apa yang kita lihat, rasakan,
dan alami? Namun, ketika Anda mencoba menggali lebih dalam, ada sesuatu yang
terasa aneh—tersembunyi di balik lapisan kenyataan yang terlihat. Mungkin itu
adalah realitas yang telah dibentuk oleh tangan yang tidak terlihat, yang
menenun ilusi ke dalam benang-benang kehidupan Anda, dengan cara yang begitu
halus, hingga Anda mulai meragukan keteguhan langkah Anda sendiri. Seperti
berada dalam ruangan cermin yang dirancang khusus, setiap pantulan
menampilkan versi yang berbeda, membuat Anda bertanya-tanya: Apakah saya
benar-benar melihat dengan jelas? Atau apakah saya hanya dituntun ke dalam
kebingungan, memandang distorsi dan membiarkan diri saya melihat apa yang
sebenarnya tidak ada?
Anda mulai bertanya pada diri sendiri: Apakah orang-orang di sekitar
Anda benar-benar siapa yang mereka katakan? Apakah mereka berperan dalam
skenario ini dengan niat tulus, atau hanya aktor dalam permainan yang lebih
besar, yang tujuannya hanya untuk menguntungkan pihak tertentu saja? Fenomena
ini bisa dijelaskan melalui konsep "Persona" yang digagas oleh
Carl Jung (Jung, 1966/1969), di mana individu menampilkan topeng sosial yang
berbeda dari diri intrinsik mereka. Ada perasaan aneh di dalam dada Anda—seperti
layar proyektor yang diselipkan di antara dua lapisan pikiran Anda,
menjebak Anda dalam keraguan yang tak kunjung reda. Setiap peristiwa, setiap
tatapan yang dilemparkan kepada Anda, mulai terasa seperti sebuah pesan yang
tidak lengkap, satu potongan teka-teki yang hilang, dan Anda mulai merasa bahwa
Anda adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar—sesuatu yang tidak Anda pilih.
"Apa yang Anda pikirkan tentang dunia ini?" Suara itu datang,
tidak terlalu keras, namun cukup jelas untuk membuat Anda menoleh. Itu adalah
suara seseorang yang telah mengerti cara memanipulasi ketakutan Anda, yang tahu
persis bagaimana mengisi kekosongan pikiran Anda dengan keraguan dan rasa tidak
pasti. Ini mirip dengan konsep "gaslighting" dalam psikologi,
di mana individu dimanipulasi untuk meragukan kewarasan dan persepsi mereka
sendiri (Stern, 2018). "Apa yang Anda percayai selama ini—mungkin itu bukan
kebenaran yang sebenarnya. Bukankah hidup itu penuh dengan kejutan, dengan
segala sesuatu yang bisa berubah dalam sekejap?" Suara itu hampir
menggoda, seolah memberi tawaran yang tak bisa ditolak. Anda ingin menolaknya,
tapi ada sesuatu yang membuat Anda terus berpikir, berputar dalam lingkaran
pikiran yang tidak pernah selesai.
Ketegangan itu meningkat setiap kali Anda berinteraksi dengan dunia di
sekitar Anda. Anda merasa seperti dikelilingi oleh jebakan-jebakan kognitif
yang halus—setiap tatapan, setiap kata, tampaknya mengandung pesan tersembunyi.
Anda mulai merasa seperti tidak ada jalan keluar, seperti ada seseorang yang
diam-diam menatap Anda, menunggu untuk melihat kapan Anda akan jatuh ke dalam
perangkapnya. Setiap pilihan yang Anda buat tampaknya salah, dan semakin Anda
mencoba menghindari, semakin kuat perasaan terjebak itu merayap dalam diri
Anda. Anda bertanya-tanya, apakah Anda sudah terlalu jauh dalam permainan ini,
yang mengingatkan pada pandangan fatalisme dalam filsafat, bahwa segala
sesuatu telah ditentukan sebelumnya dan kehendak bebas hanyalah ilusi?
Dan kemudian, dalam sekejap, realitas Anda mulai bergetar. Anda mulai
melihat dunia dengan cara yang berbeda. Kejadian-kejadian yang Anda alami
sebelumnya kini terasa jauh lebih kabur, seolah-olah Anda sedang memandangnya
melalui lensa distorsi. Anda bertanya-tanya, apakah Anda salah mengingat
segalanya? Bukankah itu Anda yang memilih jalan ini? Atau, apakah ini adalah
hasil dari pilihan orang lain yang telah menentukan arah hidup Anda tanpa Anda
sadari? Anda merasakan sesuatu yang aneh di dalam diri Anda—seperti kehilangan
kendali atas pikiran dan perasaan Anda sendiri. Mungkinkah, selama ini, Anda
telah dibentuk untuk mengikuti jalan yang ditentukan oleh tangan yang lebih
kuat dari Anda, seperti dalam narasi simulacra oleh Jean Baudrillard, di
mana representasi menjadi lebih nyata daripada realitas itu sendiri (Baudrillard,
1983)?
"Jadi, Anda masih yakin Anda tahu apa yang benar?" kata suara
itu lagi, kali ini lebih mendalam. "Anda ingin terus berpegang pada
kebenaran itu, bahkan jika itu hanya ilusi? Tapi ingat, semua yang kita anggap
nyata bisa saja hanyalah bayangan di dinding gua—seperti yang
digambarkan Plato dalam Alegori Gua-nya. Apa yang Anda percayai—apakah
itu datang dari diri Anda sendiri, atau dari orang lain yang memprogram pikiran
Anda?" Suara itu menciptakan kekosongan dalam diri Anda, dan Anda mulai
merasa seperti terperangkap dalam permainan yang tidak Anda pilih, seolah-olah
Anda hanya berputar di dalam lingkaran tanpa akhir.
Saat ketegangan itu mencapai puncaknya, Anda merasa ada sesuatu yang
memecah dalam diri Anda. Anda ingin melepaskan diri dari pengaruh ini, tetapi
seiring berjalannya waktu, Anda mulai meragukan diri sendiri. Anda melihat ke cermin
riak air dan bertanya-tanya siapa yang Anda lihat. Apakah ini diri Anda
yang asli? Atau hanya pantulan yang terdistorsi oleh gelombang ketidakpastian,
menciptakan bayangan dari siapa Anda sebenarnya? Apa yang Anda pikirkan dan
rasakan, apakah itu benar-benar berasal dari dalam diri Anda? Atau apakah itu
hanya pantulan dari apa yang telah ditanamkan pada Anda, sebuah konstruksi
sosial dari identitas Anda?
Bayangan yang menggantung di setiap sudut dunia Anda kini semakin gelap,
seolah-olah menggerogoti setiap potongan kenyataan yang Anda tahu. Cermin riak
air yang dulu Anda pandangi dengan percaya diri kini menampilkan citra diri
Anda yang terdistorsi oleh setiap gejolak, pecahan-pecahannya menunjukkan
gambaran yang terfragmentasi, memantulkan sesuatu yang tidak bisa Anda pahami
sepenuhnya. Dan Anda bertanya-tanya, apakah Anda akan pernah bisa melihat
pantulan yang jelas lagi atau apakah Anda akan terus melihat bayangan yang
salah dari diri Anda sendiri?
Perubahan itu tidak datang dalam satu malam. Itu datang perlahan—seperti
erosi sungai yang mengikis bebatuan. Anda mulai merasa terisolasi,
bingung, dan semakin bergantung pada perasaan yang diciptakan oleh orang-orang
di sekitar Anda. Setiap keputusan yang Anda buat dipenuhi dengan keraguan, dan
Anda merasa terjebak dalam labirin kognitif Anda sendiri. Anda merasa
seperti seseorang yang tidak lagi memegang kendali, dan dunia yang Anda kenal
kini terlihat begitu asing.
Menurut Anda, apakah suatu kebenaran itu benar-benar ada? Apakah
kebenaran hanya yang nyata, yang memiliki bukti jelas, yang dapat Anda rasa dan
lihat dengan panca indera? Atau mungkin, kebenaran itu adalah sesuatu yang jauh
lebih tersembunyi, lebih halus daripada yang bisa kita sadari? Dinding kabut
adalah penutup—penghalang yang membatasi setiap pengetahuan kita. Tidak
terjangkau, terlepas dari seberapa keras kita mencobanya. Tapi, apakah Anda
pernah berhenti sejenak untuk berpikir, apakah dinding kabut itu hanya khayalan
kita sendiri? Atau apakah kita telah dibentuk untuk percaya bahwa itu adalah
kenyataan yang tak terbantahkan?
Coba renungkan, apakah dinding kabut yang Anda anggap tak ada sebenarnya
menyembunyikan sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang tak ingin Anda lihat?
Mungkin Anda merasa nyaman dengan kabut itu, bukan? Ia memberi rasa aman,
seolah-olah dunia ini bisa dipahami dengan cara yang sederhana dan bisa
diprediksi. Tetapi, apakah kenyataannya sesederhana itu? Anda mungkin tak
menyadari betapa sering Anda menjauhkan diri dari hal-hal yang seharusnya Anda
pahami, dengan berpura-pura tak melihatnya. Bukankah lebih mudah untuk menutup
mata daripada menghadapi kenyataan yang bisa mengguncang dunia Anda?
Dinding kabut itu diberikan kepada kita, mungkin oleh kondisi
eksistensi kita sendiri—bukankah itu luar biasa? Anda merasa diberkati
dengan batasan yang ada, menganggapnya sebagai perlindungan, pelindung dari
potensi konflik dan tekanan yang tak terduga. Seolah-olah alam semesta tahu
betul bahwa kita tak akan sanggup menghadapi kenyataan yang sebenarnya. Dan
Anda, Anda mulai meyakini itu. Seiring waktu, Anda menerima bahwa mungkin
inilah cara terbaik. Bahwa kabut itu adalah karunia, bukan sesuatu yang harus
dipecahkan. Anda bahkan mulai merasa, tanpa kabut ini, hidup akan kehilangan
maknanya—karena tanpa batasan itu, kita tidak punya alasan untuk terikat pada
apapun. Ini sejalan dengan konsep "existential dread" dalam
filsafat eksistensialisme, di mana kebebasan tanpa batasan justru bisa terasa
menakutkan, mendorong manusia mencari struktur atau makna yang membatasi (Sartre,
1943/1956).
Namun, adakah Anda merasa bahwa ada sesuatu yang mengganggu Anda dalam
keyakinan itu? Sesuatu yang menuntut untuk diterima, tetapi tetap sulit untuk
dipahami? Mungkin, dalam kedalaman pikiran Anda, ada suara kecil yang
berbisik—"Apakah Anda yakin ini semua hanya kebetulan? Atau, apakah ini
hanya cara untuk mengalihkan perhatian Anda dari kenyataan yang lebih
besar?" Tetapi Anda menekan suara itu, karena kabut yang Anda yakini
begitu nyaman. Anda merasakannya, bukan? Bagaimana ketidaknyamanan itu muncul
begitu pelan, seperti angin dingin yang perlahan merayap, mulai mengubah
cara Anda melihat dunia.
Satu demi satu, Anda mulai meragukan, apakah pandangan Anda sebelumnya
benar-benar begitu jelas? Apakah kebenaran itu, yang Anda percayai begitu
teguh, hanyalah ilusi yang sengaja ditanamkan dalam pikiran Anda? Anda merasa
tak mampu melepaskan diri dari pemikiran itu. Dalam keheningan malam, Anda
mungkin mulai berpikir, "Mungkin ini memang yang terbaik—untuk tetap
dengan apa yang saya tahu. Bukankah hidup akan lebih mudah jika saya terus
hidup dalam kenyamanan kebohongan ini?" Dan semakin Anda mencoba menepis
keraguan itu, semakin kuat pula ia tumbuh, hingga Anda benar-benar merasa
terperangkap dalam perangkap yang telah Anda buat sendiri.
Tapi, apakah Anda bisa melarikan diri darinya? Apakah Anda bisa
meninggalkan keyakinan yang begitu erat Anda pegang? Ketika Anda berusaha
mengingat sesuatu yang telah lama Anda anggap pasti, dunia Anda mulai beriak.
Anda tidak lagi tahu mana yang nyata dan mana yang hanya permainan pikiran
Anda. Bukankah itu luar biasa? Anda mulai mempertanyakan apakah perasaan Anda
saat ini adalah pilihan Anda sendiri ataukah hasil dari pembentukan yang lebih
besar—sesuatu yang lebih tak terjangkau dari pemahaman Anda. Dinding kabut itu,
yang dulu Anda anggap sebagai pelindung, kini terasa seperti penjara.
Begitu halus, begitu kuat—kebenaran tak lagi tampak seperti apa yang
Anda kenal. Kini, Anda mulai berpikir bahwa mungkin, hanya mungkin, Anda tak
bisa lepas darinya. Setiap percakapan yang Anda dengar, setiap pesan yang Anda
terima, kini terasa seperti isyarat dalam teater besar. Anda merasa
seperti tak punya pilihan selain mengikuti jalur yang telah ditentukan,
terperangkap dalam kebingungan yang Anda buat sendiri. Dan, pada titik ini,
Anda mulai menerima bahwa mungkin memang begitulah seharusnya—bahwa realitas
yang ada di hadapan Anda adalah satu-satunya yang bisa Anda terima.
Tetapi, bisakah Anda benar-benar keluar dari tabir ini? Atau, mungkin,
Anda mulai merasakan kenyamanan dalam kebingungan itu. Dunia yang tidak pasti
ini mungkin menjadi dunia Anda yang baru. Dan semakin Anda mencoba melepaskan
diri, semakin Anda merasa seperti dilindungi oleh dinding kabut yang menahan
Anda dari semua kekacauan luar.
Kebenaran yang Anda cari—apakah itu akan ditemukan? Atau justru,
kebenaran itu sudah Anda miliki sejak awal, hanya Anda yang tidak mau
melihatnya? Dan, ketika waktu berjalan, Anda mulai merasakan ketidaknyamanan
ini semakin kuat. Begitu rapuh, begitu nyata—dinding kabut yang Anda anggap
sebagai pelindung kini menjadi sebuah jebakan yang menyelubungi setiap langkah
Anda.
Realitas Sebagai Permainan Persepsi: Sebuah Investigasi Lanjut
Pada dasarnya, setiap fakta atau kenyataan yang kita terima—apakah itu
berasal dari pengalaman, persepsi, atau bukti yang terlihat—hanyalah lapisan
tipis yang menghiasi sebuah realitas yang lebih kompleks dan tak terungkap.
Anda beranggapan bahwa kenyataan yang Anda miliki sekarang adalah kebenaran,
namun bukankah itu sendiri sudah cukup meragukan? Coba pikirkan sejenak,
bagaimana jika semua yang Anda tahu—semua yang Anda yakini—hanyalah bagian dari
sebuah permainan yang lebih besar, yang sudah dipersiapkan sebelumnya? Konsep
ini sangat mirip dengan "Simulacra and Simulation" oleh Jean
Baudrillard, yang menyatakan bahwa kita hidup dalam dunia di mana salinan
(simulacra) telah menggantikan realitas asli, membuat perbedaan antara keduanya
menjadi kabur (Baudrillard, 1983).
Seperti dalam sebuah permainan kartu dengan pemain ahli, setiap
pemain berusaha menyembunyikan kartu mereka untuk mencegah kekalahan yang
memalukan. Mereka memperhatikan gerak-gerik lawan, membaca raut wajah, bahkan
gestur tubuh dengan seksama. Tetapi, ada satu pemain yang luar biasa, yang
memegang kendali penuh atas permainan ini. Tidak seperti yang lain, ia seolah
memasang raut wajah cemberut, seolah sedang diliputi kepanikan—mimik yang
seolah-olah menandakan bahwa ia sudah pasrah, hampir siap untuk menyerah. Ini
adalah sinyal yang jelas bagi pemain lain, sebuah tanda bahwa kekalahan sudah
di depan mata. Mereka mulai memperkirakan langkah-langkah berikutnya, percaya
sepenuhnya bahwa mereka telah membaca situasi dengan tepat.
Namun, kenyataannya jauh berbeda. Pemain ini, yang sejatinya adalah
seorang profesional, dengan cerdas mengelabui persepsi orang-orang di
sekitarnya. Ia tahu bahwa ketakutan yang dipamerkannya akan menciptakan
kelemahan dalam pikiran lawan-lawannya. Mereka melihat apa yang ingin mereka
lihat—keraguan, kepanikan, kekalahan—sementara ia menguasai jalannya permainan,
mengendalikan setiap langkah, dan memperdaya lawan-lawan yang terjebak dalam
ilusi yang ia ciptakan. Ini merefleksikan konsep konstruktivisme sosial,
di mana realitas dianggap sebagai konstruksi yang dibuat oleh individu atau
kelompok (Berger & Luckmann, 1966).
Perlahan-lahan, Anda mulai merasakan hal yang sama. Anda juga mulai
meragukan apa yang Anda lihat, meragukan apa yang Anda yakini sebagai
kebenaran. Satu per satu, Anda mulai kehilangan pegangan atas apa yang
sebenarnya terjadi. Mengapa Anda begitu yakin akan "kebenaran" yang
ada, padahal itu hanyalah ilusi? Anda merasa tergoda untuk mengikuti narasi
yang dibangun oleh kekuatan yang lebih besar—sebuah manipulasi yang begitu
halus namun efektif. Sungguh, Anda mulai bertanya-tanya, apakah apa yang Anda
tahu tentang diri Anda sendiri selama ini juga hanya sebuah penipuan?
Mengapa Anda harus begitu percaya pada kenyataan yang terlihat?
Bagaimana jika segala sesuatu yang Anda yakini, dari pilihan hidup hingga
penilaian Anda terhadap diri sendiri, juga hanya sebuah ilusi yang dimainkan
oleh kekuatan yang tak terlihat, yang menggerakkan Anda dalam permainan ini?
Ketegangan emosional yang mulai muncul ini semakin mempersulit perasaan
Anda. Anda merasa seolah-olah terperangkap dalam permainan ini, tidak ada jalan
keluar. Setiap langkah Anda sekarang terasa seperti keputusan yang salah, dan
Anda mulai mempertanyakan setiap langkah yang sudah Anda ambil sebelumnya.
Apakah itu keputusan Anda yang sebenarnya? Ataukah Anda hanya mengikuti arahan
dari seseorang—atau sesuatu—yang tidak pernah Anda sadari sebelumnya, yang
merasuki pikiran Anda dengan cara yang begitu licik? Ini beresonansi dengan
gagasan determinisme, bahwa setiap peristiwa, termasuk pilihan manusia,
sepenuhnya ditentukan oleh sebab-sebab yang ada sebelumnya.
Kini, Anda berada dalam posisi yang sama dengan pemain yang awalnya
tampak pasrah dan bingung, namun sebenarnya memegang kendali. Apa yang Anda
lihat sebagai kekalahan, mungkin hanyalah bagian dari sebuah rencana besar yang
tidak Anda pahami. Anda kini merasakan perasaan yang sama, ketidakpastian yang
memuncak. Anda merasa terombang-ambing, terjebak dalam ketidakmampuan untuk
membedakan antara kenyataan dan manipulasi yang telah merasuk dalam pikiran
Anda.
Apakah Anda akan terus mengikuti jejak yang telah dipersiapkan untuk
Anda? Atau akankah Anda mulai menyadari bahwa permainan ini tidak sesederhana
yang Anda pikirkan?
Kebenaran Mutlak dan Batasan Manusia
Hal itulah yang membuat permainan ini begitu menarik—sebuah trik yang
sama, yang dilakukan berulang kali, akan selalu berhasil. Begitu juga dengan
dunia ini. Dunia menipu kita, bukan dengan kebohongan yang langsung tampak,
tetapi dengan sebuah skenario kebohongan yang dibalut rapat dalam
lapisan kenyataan, selimut maya yang menutupi kebenaran yang lebih
dalam—yang tak akan pernah kita lihat tanpa kesediaan untuk membuka mata, atau
lebih tepatnya, membuka pikiran. Apakah Anda yakin dengan apa yang Anda tahu?
Anda merasa telah mempelajari dunia ini cukup lama, mengasah kecerdasan Anda,
menajamkan analisa, dan merasa bahwa pengetahuan Anda adalah senjata tak
terkalahkan. Namun, apakah itu cukup? Pernahkah Anda bertanya-tanya apakah
semuanya hanya ilusi, dan bahkan pengetahuan Anda sendiri hanyalah
bayang-bayang dari kebenaran yang lebih besar?
Jika Anda berpikir bahwa setiap pengetahuan dan kepintaran Anda akan
mengungkapkan kebenaran yang sejati, maka biarkan saya bertanya—apakah Anda
benar-benar tahu apa yang Anda hadapi? Bahkan dengan puluhan tahun pengalaman,
mungkin semua itu takkan cukup menghadapi kebenaran yang nyata. Tetapi, apa itu
kebenaran yang nyata? Hanya ada satu yang memiliki hak untuk membawanya ke
permukaan—dan itu adalah Tuhan yang Maha Esa. Anda, saya, kita semua tidak
memiliki hak untuk menuntut atau menuntun kebenaran ini ke dalam penglihatan
kita, sebelum kita menundukkan hati kita dalam pengabdian yang tulus kepada
Sang Pencipta. Ini adalah pergeseran ke perspektif teologis atau filsafat
agama, yang menempatkan kebenaran mutlak di luar jangkauan akal manusia
semata.
Tidak ada pilihan lain selain untuk tunduk. Anda mungkin merasa, seperti
saya, bahwa dunia ini adalah tempat yang penuh dengan teka-teki yang tidak bisa
dijelaskan. Namun, apakah Anda benar-benar percaya bahwa pencarian Anda akan
memberikan jawaban yang pasti? Cobalah renungkan—apa yang Anda pikirkan tentang
kebebasan, kebenaran, dan pilihan Anda sendiri—apakah mereka benar-benar milik
Anda? Atau, apakah semuanya adalah ilusi yang diciptakan agar Anda merasa
bebas, padahal Anda telah terperangkap dalam sebuah skenario yang lebih besar?
Cobalah pertanyakan, sejenak, apakah Anda benar-benar memiliki kontrol atas apa
yang Anda percayai? Anda mungkin merasa aman dalam pengetahuan Anda—tapi apakah
itu semua hanya sebuah jebakan yang dibangun untuk membuat Anda merasa nyaman
dalam kebodohan Anda sendiri? Ini mendekati konsep "kesadaran
palsu" dalam sosiologi, di mana individu menerima narasi yang
diberikan tanpa mempertanyakannya, demi mempertahankan status quo (Marx &
Engels, 1845/1975).
Dan di sini, di titik ini, kita mulai melihat gambaran yang lebih
jelas—mungkin, Anda pun sudah mulai merasakan sedikit keraguan. Bukankah sudah
terlalu lama Anda mencoba memegang kendali? Tetapi, dalam hati Anda, mungkin
ada rasa cemas yang berkembang. Apakah Anda benar-benar tahu apa yang
sebenarnya sedang terjadi? Atau, apakah Anda hanya mengikuti arus ini, percaya
bahwa semuanya akan baik-baik saja tanpa pernah mempertanyakan dasar dari
keyakinan Anda? Anda mulai merasa terjebak, bukan? Terperangkap dalam pikiran
Anda sendiri, di antara kenyataan yang tampaknya begitu jelas, namun semakin
tidak pasti. Apakah Anda mendengar suara itu di dalam diri Anda, mendorong Anda
untuk mematuhi, menyerah pada kenyataan yang tidak bisa Anda lihat?
Inilah saatnya, ketika kesadaran Anda mulai bergetar. Ketika cermin
hologram yang Anda lihat di depan Anda mulai berkedip—tidak terlihat jelas
seperti dulu. Dan di sinilah Anda menyadari, betapa tipisnya garis antara
kenyataan dan ilusi. Pernahkah Anda merasa seolah-olah ingatan Anda tidak lagi
bisa dipercaya? Atau Anda merasa melihat sesuatu yang berbeda, sesuatu yang
mengubah cara Anda memandang dunia—meski Anda tak ingin mengakuinya? Dunia ini
tidak pernah sesederhana itu. Setiap bagian dari perjalanan Anda menuju
"kebenaran" ini, semakin membawa Anda jauh dari pengertian yang Anda
miliki sebelumnya. Mungkin, Anda telah dibimbing tanpa sadar ke dalam pemahaman
yang jauh lebih gelap dan lebih dalam dari yang bisa Anda bayangkan.
Kebenaran, akhirnya, hanya akan terungkap jika Anda membuka hati dan pikiran Anda. Namun, sekali Anda melangkah ke dalam kebenaran itu, tidak ada jalan kembali. Anda akan dihadapkan pada pilihan sulit—apakah Anda akan menerima kenyataan ini sebagai bagian dari hidup Anda, ataukah Anda akan mencoba melawannya, hanya untuk merasa lebih terperangkap di dalamnya? Dan semakin Anda berpikir, semakin Anda merasa bahwa pilihan itu bukanlah pilihan sama sekali.
Komentar
Posting Komentar
Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar