Perspectives 3: Mati Versi Lite

Manusia terlahir dengan sebuah takdir mutlak, bahwa yang lahir dengan nyawa pastilah berdampingan dengan kematian. Sebuah kenyataan tak terhindari. Namun, bukankah takdir ini terasa jauh lebih dekat dari yang kita kira? Begitu dekat, bahkan kita bisa merasakannya di setiap napas. Akan tetapi, pernahkah Anda berhenti sejenak untuk bertanya, apakah bayangan yang Anda lihat di hadapan Anda adalah bayangan dari diri Anda sendiri atau justru—kematian?

Pernahkah Anda berpikir bahwa mungkin, justru bayangan itulah yang mengiringi kematian? Bayangan yang selalu ada, tak terpisahkan. Begitu mudah kita memandangnya, tanpa benar-benar memahaminya. Kita sering menganggap bayangan sebagai entitas pasif, sekadar pantulan dari keberadaan fisik, seperti bayangan batu, meja, atau pohon. Namun, mengapa kita merasa bahwa bayangan kita adalah sesuatu yang berbeda, sesuatu yang lebih? Bukankah kita semua sama, semua memiliki bayangan, sama seperti benda mati yang kita pandang dengan sepele? Ini mungkin merujuk pada naluri dasar manusia untuk membedakan diri dari objek mati, suatu kebutuhan untuk merasa unik dalam keberadaan, bahkan dalam menghadapi fenomena universal seperti bayangan.

Kematian juga memiliki bayangan. Apakah Anda bisa melihatnya? Mustahil Anda tidak bisa melihatnya, bukan? Bayangan itu ada di sini, begitu dekat, menunggu untuk dihadapi. Dan jika bayangan itu hadir di setiap sudut kehidupan, apakah kita bisa menghindarinya? Atau apakah kita justru membiarkannya menyelimuti setiap langkah kita, membentuk pandangan kita tentang dunia yang semakin kabur, semakin diselimuti oleh kecemasan eksistensial?

"Kematian... di mana tempatmu? Di mana posisimu sekarang?" Anda bertanya pada diri sendiri, tetapi sejujurnya, apakah Anda yakin akan jawabannya? Mungkin, jawaban itu sudah ada di dalam diri Anda. Mungkin kematian sudah ada di sini, berdiam di dalam bayangan yang Anda lihat—satu langkah lebih dekat dari yang Anda sadari. Setiap pertanyaan yang Anda ajukan pada dunia hanya akan membawa Anda lebih dekat ke dalam ketidakpastian yang membingungkan. Ini mencerminkan pemikiran eksistensialis yang menekankan bahwa kematian bukanlah peristiwa masa depan, melainkan bagian integral dari keberadaan kita saat ini  (Heidegger, 1962/2008).

Dalam kebingungannya, Anda mulai meragukan diri sendiri. Apa yang benar-benar saya tahu tentang kematian? Apakah saya hanya merenungkan sesuatu yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari diri saya, ataukah ada sesuatu yang lebih menakutkan di luar sana? Ketika jawaban itu tak kunjung datang, Anda hanya semakin terperangkap dalam jaring-jaring pertanyaan tanpa akhir, yang semakin mengaburkan batas antara kehidupan dan kematian. Kondisi ini sering digambarkan dalam psikologi sebagai kecemasan kematian (death anxiety), sebuah kegelisahan yang fundamental terhadap kepunahan diri  (Yalom, 1980).

Pikiran Anda, yang sebelumnya tegas, kini mulai terasa samar. Jika kematian begitu dekat, mengapa saya merasa begitu jauh darinya? Apakah saya hanya tidak mau menerima kenyataan, atau apakah kenyataan itu yang enggan menghadapi saya? Bayangan itu semakin mengganggu, bukan? Tak ada tempat untuk bersembunyi, tak ada jalan keluar. Semakin Anda berusaha menghindar, semakin bayangan itu merasuk ke dalam pikiran Anda. Terkadang, bayangan itu malah tampak lebih nyata daripada diri Anda sendiri, menghadirkan paradoks eksistensial bahwa yang kita hindari justru menjadi lebih dominan dalam kesadaran kita.

Dan mungkin, itu adalah saat yang tepat bagi kematian untuk menunjukkan dirinya—untuk meyakinkan Anda bahwa apa yang Anda lihat, apa yang Anda rasakan, bukanlah kebetulan. Kematian itu ada di sini, di dalam setiap keraguan yang melintas, di dalam setiap kegelisahan yang mulai meresap dalam diri Anda. Apa yang Anda inginkan sekarang? Apakah Anda ingin melanjutkan pencarian pemahaman itu, atau biarkan bayangan itu menyatu dengan Anda dalam penerimaan?

Jika bayangan itu begitu nyata, apakah Anda bisa melarikan diri? Atau akankah Anda memilih untuk menerima kenyataan bahwa Anda dan kematian—keduanya berjalan beriringan? Ini mencerminkan pandangan filsafat Stoikisme yang menyarankan penerimaan terhadap apa yang tidak dapat kita kendalikan, termasuk kematian, sebagai jalan menuju ketenangan batin  (Epictetus, n.d.).


Kematian dalam Manifestasi Sehari-hari

Kematian—tak pernah jauh dari kita. Tidak ada ruang yang benar-benar bebas darinya, seperti bayangan yang selalu mengikuti. Seakan, di setiap jejak langkah kita, ada satu yang lebih berat, lebih gelap, menunggu untuk merenggut apa yang kita anggap paling pasti: kehidupan itu sendiri.

Lihatlah, jika kita membandingkan dua perjalanan—berkendara dalam mobil atau berjalan kaki—mana yang lebih dekat dengan kematian? Mungkin, sebagian besar dari kita akan memilih kendaraan. Kendaraan adalah pembunuh diam-diam. Semua merasa aman, tapi bagaimana jika kita benar-benar berhenti untuk berpikir: berapa banyak dari kita yang merasa kebal? Setiap detik yang kita habiskan di balik kemudi, kita lebih dekat dengan kematian dari yang kita sadari. Ini adalah gambaran tentang paparan risiko yang tak terhindarkan dalam kehidupan sehari-hari, sebuah tema yang kerap diangkat dalam studi tentang perilaku berisiko dan persepsi bahaya.

Namun, ini bukan hanya tentang kendaraan, bukan hanya tentang perjalanan panjang yang kita lalui dengan kecepatan, menantang hukum alam. Coba kita pikirkan lebih jauh: apakah tidur bukan sebuah perjalanan yang lebih tak terelakkan? Tidur, yang kita anggap sebagai waktu istirahat, adalah waktu kita melepas kendali, menyerahkan kesadaran kita pada dunia yang tak terlihat. Kita memasuki kegelapan, meninggalkan kenyataan, dan terkadang, kita terjaga dengan perasaan aneh, bahwa kita telah berada di ambang kematian. Mengapa tidur, yang seharusnya memberikan kenyamanan, sering kali terasa begitu dekat dengan kehilangan diri? Tidakkah Anda merasa, saat terlelap, Anda sedikit lebih dekat dengan kematian dari sekadar mimpi buruk yang menunggu?

Jika Anda ragu, pikirkan sejenak: Bukankah tidur itu seperti kematian dalam bentuknya yang paling murni? Kehilangan kesadaran, meski tidak selamanya, adalah bagian dari perjalanan itu. Sama seperti kematian, kita kehilangan diri kita dalam tidur. Namun, apakah tidur benar-benar hanya istirahat? Atau, apakah tidur itu sebuah keheningan yang kita ciptakan untuk menutupi rasa takut kita akan ketiadaan? Bagaimana jika saya mengatakan bahwa tidur bukan hanya waktu untuk melepaskan diri, tetapi juga untuk merasakan, dengan cara yang halus, betapa tipisnya batas antara hidup dan mati? Ini menggemakan konsep 'petite mort' (kematian kecil) dalam tradisi filosofis dan sastra, yang sering merujuk pada momen-momen kehilangan kesadaran atau ekstase, termasuk tidur, sebagai prefigurasi kematian.


Kematian dalam Tren Kontemporer: Budaya Digital dan "Kematian" Daring

Mari kita gali lebih dalam. Tidur, dengan segala kesunyian dan ketenangannya, adalah sarana untuk menghadapi ketakutan kita yang paling besar: ketidakpastian. Tidur adalah ruang yang penuh dengan ketidaktahuan, tempat di mana kita kehilangan diri, meski hanya sementara. Tidakkah Anda pernah terbangun dengan perasaan terkejut, seakan baru saja kembali dari sebuah perjalanan jauh yang tak terduga? Itulah esensi dari tidur. Dan itulah mengapa tidur, dalam banyak cara, adalah pertemuan kita yang paling dekat dengan kematian.

Namun, bagaimana jika saya katakan bahwa Anda sudah tahu itu? Anda sudah tahu bahwa tidur "mengancam" Anda lebih dari yang Anda sadari, tetapi Anda tidak mau menghadapinya. Tidakkah Anda merasa sedikit bersalah karena mengabaikan kenyataan itu? Tidakkah Anda merasa terperangkap dalam rutinitas ini, berbaring setiap malam, menutup mata, dan membiarkan diri Anda tenggelam dalam tidur yang sebenarnya adalah pengingat halus tentang kedatangan yang tak terelakkan? Apa yang membuat Anda merasa begitu nyaman dengan tidur, meskipun, di baliknya, ada bayangan kematian yang menunggu?

Inilah yang saya ingin Anda pikirkan: Tidur adalah simbol. Bukan hanya istirahat, bukan sekadar waktu untuk mengisi ulang tenaga, tetapi waktu untuk merenung, untuk melihat ke dalam kegelapan, dan menyadari betapa tipisnya garis yang memisahkan kita dari kehilangan segala sesuatu yang kita kenal. Tidur, yang kita anggap sebagai suatu keharusan, sebenarnya adalah jembatan antara kita dan ketidakpastian—tempat di mana kita secara tak sadar mengatasi ketakutan terbesar kita: mati. Dan Anda, yang merasa aman dalam tidur Anda, apakah Anda benar-benar merasa aman?

Tren kontemporer memberikan dimensi baru pada konsep "kematian" ini. Di era digital, kita menghadapi fenomena "kematian" daring atau hilangnya jejak digital seseorang. Lite memiliki arti ringan, sedangkan tidur bisa saya anggap sebagai mati versi "lite" atau "digital death". Apakah Anda pernah berpikir tentang itu? Tidur, saat kita menutup mata, dengan lembut menyelimuti kesadaran kita. Namun, apa yang terjadi jika kita tidak terbangun, atau jika akun digital kita "mati" tanpa kita sadari? Bagaimana jika identitas digital kita hilang, atau diakses tanpa persetujuan, tanpa kita sadar?

Pikirkan tentang jejak digital yang kita tinggalkan setiap hari. Setiap unggahan, setiap komentar, setiap profil. Ini adalah "bayangan" digital kita. Saat seseorang meninggal, atau sekadar menghilang dari dunia maya (misalnya, menghapus akun), "kematian" digital mereka memicu pertanyaan: Apakah keberadaan mereka hilang sepenuhnya jika jejak digitalnya tak lagi aktif? Atau apakah "bayangan" digital mereka tetap ada, menjadi arsip data yang mungkin hidup lebih lama dari ingatan fisik? Ini berhubungan dengan konsep "digital afterlife" dan bagaimana teknologi mengubah cara kita memahami warisan dan keberlanjutan eksistensi  (Massimi & Odom, 2017).

"Digital death" itu mungkin hanya tipuan halus dari alam bawah sadar kolektif kita yang membiarkan kita merasa terkoneksi dan abadi secara virtual, namun sebenarnya, kita bisa saja terjebak dalam pusaran data itu selamanya, tanpa benar-benar memiliki kendali atas warisan digital kita. Bukankah itu menarik? "Digital death" seolah-olah adalah batas antara dunia nyata dan dunia digital yang semakin kabur, tempat kita kehilangan kendali atas narasi akhir kita.

Cobalah pikirkan sejenak: kita bisa saja kehilangan kesadaran pada saat-saat tertentu—seperti ketika tenggelam dalam algoritma media sosial atau terpengaruh disinformasi daring. Tapi apakah itu berarti kita sedang "mati" secara kognitif atau identitas, meskipun hanya sebentar? Apakah "mati" dalam konteks digital sesederhana itu—hanya sebuah transisi, sebuah fase yang tidak kita sadari, di mana identitas kita melebur dalam arus data?

Anda pernah merasa seperti itu, bukan? Seperti hidup hanya seolah terlelap dalam gelombang informasi yang datang dan pergi di linimasa. Terkadang, kita merasa ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar scroll atau like, sesuatu yang memisahkan kita dari kenyataan yang lebih mendalam. Sesuatu yang perlahan menyelinap dalam pikiran kita, membuat kita bertanya, "Apa yang sebenarnya terjadi saat kita sangat aktif di dunia maya?" Mungkin kita hanya terjebak dalam ilusi keberadaan digital, dan kenyataannya, kita tidak pernah benar-benar hadir sepenuhnya dalam kehidupan fisik sama sekali. Ini adalah refleksi dari pemikiran simulacra dan simulasi oleh (Baudrillard, 1981/1994), di mana salinan (realitas digital) menggantikan dan bahkan melampaui aslinya.

Namun, apa yang Anda rasa saat mendengar itu? Apakah Anda merasa sedikit ketidaknyamanan? Semakin berpikir bahwa "kehidupan" dan "kematian" digital itu lebih dari sekadar aktivitas dan ketiadaan? Apakah Anda merasa seolah-olah ada yang hilang dari Anda setiap kali Anda terjebak dalam siklus daring? Semakin Anda berpikir tentang hal ini, semakin Anda bisa merasakan ketidakpastian itu masuk ke dalam benak Anda, mulai merusak kenyamanan yang sebelumnya Anda anggap pasti dalam kepemilikan diri.

Cobalah berhenti sejenak dan pikirkan lebih dalam: Jangan terburu-buru menjawab. "Hidup" dan "mati" di era digital bisa jadi lebih dari sekadar konsep biner. Mungkin itu adalah tempat di mana kita mulai mempertanyakan, tanpa sadar, apakah kita pernah benar-benar terjaga dalam realitas fisik kita sendiri? Jika kita tidak benar-benar hidup dalam setiap detik, apakah kita benar-benar sadar? Dan jika kita sadar, apakah kita benar-benar tahu apa yang terjadi di luar sana—apakah kita benar-benar memahami dampak dari apa yang kita terima dan rasakan setiap hari, baik secara fisik maupun digital? Apakah kita tahu siapa yang mengendalikan persepsi kita selama ini? Apakah "hidup" dan "mati" digital hanya sekadar istilah? Atau mungkin, itu adalah momen di mana kita mulai meragukan, tanpa sadar, apakah kita benar-benar memegang kendali atas keberadaan kita? Semua ini terasa begitu familiar, begitu nyata, bukan? Tapi apakah kita benar-benar hidup dalam setiap detik yang kita jalani, ataukah kita hanya berjalan melalui bayangannya, seperti sebuah gambar yang sudah mulai pudar?

Ada saat-saat, mungkin lebih sering dari yang kita sadari, ketika kita merasa sangat yakin dengan sesuatu—persepsi kita, keyakinan kita, bahkan keputusan kita. Tapi benarkah kita mengendalikannya? Ataukah sesuatu, atau seseorang (atau algoritma dan budaya daring), sudah lama mengendalikan apa yang kita anggap benar? Apakah kita benar-benar tahu apa yang terjadi di luar sana—atau lebih buruk lagi, apakah kita tahu siapa yang mengendalikan persepsi kita selama ini, membentuk realitas yang kita lihat melalui cermin digital yang retak?

Perhatikan sejenak. Lihat cermin itu—retak, mungkin tidak terlalu jelas pada awalnya, tapi semakin lama, semakin kita melihatnya, semakin banyak yang hilang (kejelasan identitas). Bayangan kita sendiri, mulai kabur, seperti sebuah gambar yang seharusnya kita kenali, tapi semakin jauh seiring waktu. Dan apakah Anda merasa cemas dengan itu? Apakah Anda mulai merasa tidak yakin siapa yang sebenarnya Anda lihat di sana? Ataukah itu hanya permainan pikiran, seperti yang mungkin Anda ingin yakini?

Jika kita berhenti terlalu lama untuk bertanya, kita mungkin akan mulai meragukan segalanya. Apa yang sebelumnya kita anggap sebagai realitas, kini mulai terkikis oleh lapisan-lapisan simulasi dan umpan digital. Apakah itu suara hati kita sendiri, atau suara yang telah diprogramkan untuk kita dengar dari perangkat kita? Semua pertanyaan ini, perlahan-lahan, menjadi lebih sulit untuk dijawab dengan pasti. Jika kita terlalu banyak berpikir, jika kita terlalu banyak mempertanyakan, apa yang tersisa selain kebingungan yang semakin dalam di tengah cermin digital yang tak lagi memantulkan kebenaran tunggal?

Dan di situlah letak kekuatannya—dalam keraguan yang tercipta, dalam kecemasan yang mulai terpendam. Anda mulai merasa bahwa ada sesuatu yang lebih besar di luar kendali Anda, sesuatu yang terus-menerus memandu langkah-langkah Anda, meskipun Anda merasa seperti masih terjaga. Tapi apakah Anda benar-benar terjaga, ataukah ini hanya ilusi yang dibentuk untuk Anda oleh arsitektur digital? Mungkin, yang sebenarnya terjadi adalah Anda perlahan-lahan kehilangan kendali atas narasi hidup Anda, dan Anda tidak pernah benar-benar menyadarinya.

Lihatlah lagi cermin itu—bayangan semakin terdistorsi. Apakah Anda tahu siapa yang ada di sana? Apakah itu Anda, atau seseorang yang telah digantikan oleh jejak digital, persona daring, atau bahkan sekadar kumpulan data yang bereaksi terhadap umpan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan

Perspectives 12

Bukan Sekadar “Yes-Man”: Menguak Sisi Rentan di Balik Kerentanan Manipulasi