Perspectives 1: Bonsai Kebosanan, Bonsai Diri
Mari
berfikir bersama . . .
Ada
banyak penelitian yang membahas bagaimana kebosanan memengaruhi kita, tetapi
begitu sedikit yang menyelidiki teori yang tersembunyi di baliknya. Apa yang
sebenarnya terjadi ketika kita merasa terperangkap dalam kekosongan itu?
Mungkin kita semua takut untuk menghadapinya—takut pada ketidakteraturan yang
datang dengan kebosanan. Itu bukan hanya perasaan hampa atau kekurangan
rangsangan. Itu adalah penolakan terhadap kenyataan. Bosan seringkali
bukan hanya soal tidak ada yang bisa dilakukan. Itu adalah ancaman, diam-diam
menuntut perhatian kita.
Pernahkah
Anda merasa bosan begitu dalam, hingga dunia di sekitar Anda terasa kabur?
Seperti ada yang hilang, tapi Anda tidak bisa mengingat dengan jelas apa yang
sebelumnya ada. Anda tidak merasa bahagia, tetapi juga tidak merasa kesepian.
Hanya ada ruang kosong yang terus berkembang. Coba pikirkan, bukankah itu
sedikit menakutkan?
Tapi
yang lebih menakutkan, mungkin Anda tidak ingin mengakui perasaan ini. Bukankah
itu terlalu sederhana untuk dihadapi? Banyak dari kita memilih untuk
menutupnya dengan hiburan—menonton TV, berselancar di internet—merasa seolah
kita bisa lari dari kebosanan itu. Padahal, semakin kita mengalihkan perhatian,
semakin kita menghindari kenyataan bahwa kita sedang terjebak. Sering
kali, dalam upaya untuk mengalihkan perhatian, kita malah menemukan lebih
banyak kecemasan, lebih banyak ketidakpuasan. Tidak merasa cukup, tidak merasa
cukup baik. Tapi bukankah itu hanya perasaan sementara? Anda bisa
melupakan ini dengan sejenak, bukan? Mungkin setelah menonton film yang Anda
pilih sendiri, segalanya akan kembali normal. Mungkin, mungkin tidak.
Tapi
apakah Anda sadar bahwa hiburan seperti itu, meski menyenangkan, juga menambah
ketegangan di dalam diri kita? Video game atau film—mereka membuat kita merasa
lebih besar, lebih berkuasa. Tetapi sesungguhnya, mereka menanamkan sesuatu
yang lebih gelap. Ada keinginan untuk mengontrol, untuk melarikan diri, untuk
merasa tidak terjebak dalam kehidupan yang penuh ketidakpastian ini. Bayangkan,
sekali lagi, apakah Anda benar-benar bebas? Atau justru dibelenggu oleh
kebutuhan untuk terus berlari dari kenyataan?
Terkadang,
kita mulai mempertanyakan apakah kebosanan itu sebenarnya? Apa itu jika
bukan sinyal dari diri kita yang terus dipaksa untuk melarikan diri? Bukankah
ini kecemasan tersembunyi? Bukankah kita sedang dipaksa untuk merasakan
ini, tanpa bisa melarikan diri? Dunia memberi kita hiburan, memberikan ilusi,
tetapi di dalam diri kita, semakin kita menghindari kenyataan, semakin kuat
ketegangan itu tumbuh.
Coba
bayangkan, apakah Anda benar-benar mengendalikannya? Atau apakah Anda hanya
mengikuti ritme yang ditetapkan oleh sesuatu yang lebih besar, yang dengan
lembut, namun pasti, mengatur hidup Anda untuk tetap terjebak dalam
perasaan hampa ini? Ini bukan hanya kebosanan. Ini adalah perang batin yang
tidak bisa Anda hindari. Setiap tindakan yang Anda lakukan, setiap film yang
Anda tonton, setiap klik yang Anda buat di internet, adalah bagian dari
mekanisme yang lebih besar yang memanipulasi Anda untuk terus mencari
pelarian.
Karena
pada akhirnya, kebosanan ini bukan sekadar perasaan yang bisa Anda buang begitu
saja. Kebosanan adalah cermin yang mengungkapkan betapa sedikit kendali yang
Anda miliki. Semakin Anda mencoba menghindari perasaan ini, semakin Anda
terperangkap dalam jaring yang tidak Anda sadari telah disiapkan.
Dan
jika Anda masih merasa tidak nyaman dengan perasaan ini, mungkin itu adalah
petunjuk. Petunjuk bahwa Anda sudah terlalu lama menghindarinya. Tidak ada
pelarian lagi. Anda harus menghadapi kenyataan itu, bukan?
Penjabaran
di atas bisa jadi hanyalah pandangan yang dapat saya simpulkan dari berbagai
situs web, yang pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang kita alami,
bukan? Tetapi bukankah itu aneh? Kita cenderung mencari penjelasan atau
pembenaran atas keadaan kita, karena tanpa itu, apa lagi yang kita miliki?
Kurangnya rangsangan atau impuls eksternal membuat kita terus berusaha mencari
alternatif, seolah-olah kita bisa menciptakan impuls kita sendiri untuk
merasakan sesuatu. Bukankah itu juga yang kita lakukan sepanjang hidup? Mencari
pengakuan, mendapatkan pujian, atau bahkan sekadar memperlihatkan keberadaan
kita di tengah hiruk-pikuk dunia ini. Kita menginginkan pengakuan karena itu
adalah satu-satunya hal yang mengingatkan kita bahwa kita ada, bahwa kita
berarti.
Ambil
contoh sederhana. Ketika kita berhasil mencapai suatu pencapaian, mendapatkan
pujian atas usaha kita, kita merasa seolah-olah kita telah dipenuhi. Tapi,
bukankah itu hanya sementara? Pujian itu seperti sebuah umpan, dan kita terus
mencari lebih banyak umpan untuk merasa puas. Ada yang mengatakan ini adalah
refleksi dari aliran filsafat eksistensialisme, yang menurut saya juga bisa
jadi sekadar alasan agar kita bisa menerima kenyataan dengan lebih tenang.
Eksistensialisme berasal dari kata ‘eksistere’. Eks, yang berarti keluar, dan
sistere, yang berarti ada. Jadi, eksistensialisme pada dasarnya adalah tentang
keluar dari keberadaan kita yang biasa—melampaui diri kita sendiri. Tapi apakah
kita benar-benar melampaui diri kita sendiri? Atau apakah kita hanya
terperangkap dalam ilusi tentang apa yang seharusnya kita capai untuk dianggap
berarti?
Bahkan
ketika kita mengklaim bahwa kita melampaui diri sendiri, kita sebenarnya
terjebak dalam perangkap yang sama. Bukankah ini yang sebenarnya kita
inginkan—rasa kepastian, pengakuan, bahwa kita berada di jalan yang benar? Tapi
tahukah kamu, tidak ada jalan yang benar. Semua itu adalah permainan yang
dimainkan oleh pikiran kita sendiri. Keinginan kita untuk mencapai lebih
banyak, untuk mendapatkan lebih banyak pengakuan, hanya berfungsi sebagai
pengalih perhatian dari kenyataan yang lebih keras—bahwa kita sebenarnya tidak
tahu apa yang kita inginkan. Kita hanya tahu bahwa kita tidak bisa berhenti
mencari sesuatu untuk membuat kita merasa valid, meskipun kita tahu itu hanya
sementara.
Menurut
Kierkegaard, yang sangat penting bagi manusia adalah keadaan dirinya sendiri
atau eksistensi sendiri. Namun, apakah kita benar-benar memahaminya? Apakah
kita tahu bahwa eksistensi kita bukanlah sesuatu yang statis? Setiap detik kita
berubah, kita bergerak dari satu kemungkinan ke kemungkinan lainnya—atau,
mungkin, kita hanya berpura-pura bahwa kita bergerak. Keadaan ini, katanya,
bukan hanya tentang berada, tetapi tentang "menjadi." Sebuah proses,
sebuah perjalanan yang memanggil kita untuk berpindah dari apa yang mungkin
menjadi kenyataan. Tapi... apakah kita benar-benar berubah, atau justru hanya
berputar dalam lingkaran yang sama?
Bayangkan,
jika setiap hari Anda menerima impuls yang sama, seperti yang biasa diterima
seorang pekerja kantoran yang terperangkap dalam rutinitas monoton—atau seorang
pekerja lapangan yang selalu bekerja sesuai instruksi tanpa ruang untuk
berkreasi. Apakah kita bisa berharap ada perubahan nyata? Atau kita hanya
menghabiskan waktu tanpa menyadari bahwa kita telah terjebak dalam ilusi
perubahan?
Kita
suka berpikir bahwa perubahan itu mungkin terjadi, tetapi kenyataannya...
perubahan yang kita harapkan justru seringkali menjadi jebakan. Anda bisa
merasakannya, bukan? Seolah ada dorongan kuat yang membuat kita merasa terjebak
dalam rutinitas, tetapi kadang-kadang, perasaan itu begitu halus, bahkan Anda
mungkin merasa bahwa Anda menginginkannya. "Bukankah itu normal?"
suara dalam kepala Anda berkata. "Bukankah semua orang juga merasa
demikian?" Dan perlahan, Anda mulai meragukan perasaan Anda sendiri.
Apakah itu benar-benar bosan? Atau justru Anda terlalu takut untuk melawan
kebosanan itu? Mungkin, Anda mulai berpikir, mungkin inilah yang Anda inginkan.
Mungkin, ini adalah kenyataan yang memang layak untuk diterima.
Jika
Anda hanya mendapatkan impuls yang statis dalam keseharian Anda, bukankah itu
akan berujung pada kebosanan yang tak terhindarkan? Tetapi, saat Anda mulai
meragukan segalanya, saat Anda merasa sedikit bingung—mungkin Anda akan
terjebak dalam permainan pikiran yang lebih dalam. Apakah kebosanan itu hanya
ilusi, atau malah... pilihan yang Anda buat tanpa disadari?
Sekarang,
Anda mulai bertanya pada diri sendiri: bagaimana Anda menghindari impuls statis
itu? Bagaimana Anda bisa melarikan diri dari rutinitas yang menekan tanpa
menyebabkan dampak negatif pada diri Anda? Mengapa pertanyaan itu terasa
semakin mendalam, semakin sulit dijawab? Anda tahu jawabannya, bukan? Tetapi
menghadapinya sama sekali tidak mudah. Ada dorongan yang terus mendorong Anda
menuju pilihan yang tidak sepenuhnya rasional. Mungkin, Anda berpikir untuk
melakukan sesuatu yang bahkan lebih jauh dari apa yang Anda anggap
mungkin—mungkin keluar dari jalur yang telah Anda kenal, bahkan meskipun itu
terasa seperti tindakan di luar nalar.
Namun,
bagaimana jika Anda sebenarnya sudah berada di ujung jurang itu? Bahwa dorongan
itu tidak sekadar dorongan untuk berubah, tetapi dorongan yang ditanamkan oleh
suara-suara halus dalam pikiran Anda, yang mulai meremehkan segala keraguan
Anda. "Mereka semua melakukannya, kenapa Anda harus takut?" suara itu
berkata, memanipulasi ketakutan Anda menjadi kepatuhan.
Apa
yang Anda rasakan sekarang? Apakah Anda mulai merasa bahwa dunia ini bukanlah
seperti yang Anda pikirkan? Bagaimana jika semuanya hanya ilusi? Mungkin Anda
tidak benar-benar memiliki pilihan lagi, bukan? Mungkin, semua pilihan itu
telah diprogram untuk Anda. Dan Anda mulai merasa terjebak, seperti dalam
cermin yang retak—di mana pantulan diri Anda tidak lagi terlihat jelas.
Menunjukkan
eksistensi kita pada dunia, meskipun tampak begitu penting, seringkali hanya
mempertegas bahwa kita hidup dalam batasan yang tak terelakkan. Terkadang, kita
bertanya pada diri sendiri, "Apakah keputusan yang saya ambil
benar-benar akan membawa dampak yang saya inginkan?" Namun, jika Anda
tidak yakin dengan akibat dari tindakan yang akan diambil, kenapa Anda masih
bertahan untuk terus melangkah? Anda mungkin mulai merasa bahwa dunia menutup
pintunya secara perlahan. Seperti cermin retak yang memantulkan gambaran diri
yang semakin kabur, Anda mulai mempertanyakan segalanya, bahkan kemampuan Anda
untuk membuat keputusan yang benar.
Di
sini, Anda mulai merasa bahwa keraguan itu bukan hanya datang dari luar, tetapi
ada sesuatu yang lebih dalam—mungkin, sesuatu yang sengaja ditanamkan. "Kenapa
Anda takut? Apa yang Anda khawatirkan? Tidakkah Anda tahu bahwa rasa takut
hanya akan mengendalikan Anda?" Begitu suara itu datang, lembut namun
menuntut, Anda mulai meragukan diri sendiri. Anda bertanya-tanya, apakah
ketakutan itu memang benar milik Anda ataukah itu hanya gambaran yang
diciptakan oleh orang lain. Ketika Anda mengabaikan suara itu, semakin kuat ia
mempengaruhi Anda—bukan dengan ancaman langsung, melainkan dengan
ketidakpastian yang perlahan-lahan menggerogoti dasar keyakinan Anda. Anda
mulai terjebak dalam dilema antara mengikuti keinginan yang ada di dalam diri
Anda dan takut untuk mengambil langkah yang tidak pasti.
Manusia
pada umumnya bertindak berdasarkan apa yang mereka yakini—atau lebih tepatnya,
apa yang mereka rasa bisa diterima. Namun, mengapa mereka bertindak begitu?
Rasa takut akan kegagalan, respon negatif dari orang lain, adalah penghalang
yang kuat. Tak jarang, Anda menemukan diri Anda berada dalam siklus yang terus
berputar, dan setiap kali Anda ingin melangkah, suara itu kembali hadir,
menyatakan dengan penuh keyakinan, "Kau pasti tahu betul apa yang akan
terjadi jika kau mencoba, bukan? Tidak ada gunanya melawan takdir."
Rasa takut ini bukan hanya tentang kegagalan; itu tentang rasa malu, tentang
menjadi tak terlihat oleh dunia. Bukankah lebih baik tetap dalam zona nyaman
meski Anda tahu itu akan membawa kebosanan yang tak terhindarkan?
Namun,
di balik rasa takut ini, ada hal lain yang tumbuh perlahan—sesuatu yang lebih
besar. Rasa bosan. Sebuah kekosongan yang tak bisa dihindari. Anda bisa mencoba
untuk menghindar darinya, namun ia akan terus berkembang. Setiap kali Anda
mencoba untuk menghindari kebosanan itu, ia hanya akan berkembang lebih
jauh—seperti cabang pohon yang tumbuh lebih lebat. Ketika Anda merasa tidak
puas dengan dunia sekitar Anda, suara itu kembali menyarankan Anda untuk terus
berharap pada apa yang mungkin datang dari luar, berharap pada respons yang
sesuai dengan keinginan Anda. "Bukankah Anda ingin mereka melihat Anda
seperti yang Anda inginkan? Bukankah dunia ini seharusnya memberikan apa yang
Anda inginkan?"
Namun,
apakah dunia benar-benar bisa memberikan apa yang Anda inginkan? Atau apakah
Anda hanya berlarut-larut dalam pencarian, terus berharap pada dunia luar untuk
memberi Anda konfirmasi—tanpa menyadari bahwa Anda telah terjebak dalam
lingkaran tak berujung dari manipulasi yang Anda ciptakan sendiri? Begitu Anda
mulai meragukan langkah Anda, ketidakpastian menjadi lebih nyata. "Tidak
perlu risau," kata suara itu, "segalanya akan baik-baik saja
jika Anda mengikuti apa yang sudah ada."
Mungkin
Anda mulai berpikir bahwa ini adalah solusi terbaik. Namun, ketegangan
emosional yang tumbuh, ketidakpastian yang terus menggerogoti, mulai membawa
dampak yang jauh lebih besar. Apa yang Anda kira akan membawa ketenangan, malah
semakin memperburuk rasa bingung dan kecemasan Anda. Ketika Anda akhirnya
tersadar, Anda mungkin mendapati diri Anda di tempat yang sangat berbeda dari
yang Anda bayangkan sebelumnya—terjebak dalam perangkap yang perlahan-lahan
dibangun oleh ketakutan dan manipulasi itu sendiri.
Jika
kita telah mencoba segala cara untuk mengisi hari dengan berbagai kegiatan,
mengikuti organisasi-organisasi yang tampaknya bermanfaat, dan merambah
aktivitas di luar kebiasaan kita—baik yang berhubungan langsung dengan
kehidupan utama kita atau tidak—dan rasa bosan tetap saja tidak dapat
dihindarkan, maka inilah saatnya untuk mulai “membonsai” rasa bosan itu. Anda
mungkin mulai bertanya-tanya: Apa itu bonsai rasa bosan?
Ini
bukan sekadar tentang mengabaikan rutinitas atau kebiasaan, tetapi tentang
menantang diri Anda sendiri untuk melawan aturan yang ada. Tetapi, ini bukan
sekadar pelanggaran sembarangan—ini adalah sebuah seni. Anda perlu bijaksana
dalam memilih batasan-batasan yang ingin Anda langgar. Jangan sekadar memilih
peraturan yang tampak menghalangi Anda secara subjektif, tetapi lihatlah lebih
dalam, carilah peraturan yang merugikan secara objektif, yang dampaknya terasa
luas dan meresap pada orang banyak, bukan hanya pada diri Anda.
Namun,
dalam langkah pertama menuju pembonsaian ini, ada peringatan: Anda harus
melakukannya dengan penuh pertimbangan. Ada suara yang datang dari dalam diri
Anda, mungkin terdengar samar, tapi itu adalah bisikan yang mengatakan, “Bukankah
Anda berhak merasa lebih bebas? Bukankah ini adalah cara untuk mengatasi rasa
stagnasi yang membelenggu?” Namun, di balik pertanyaan itu, ada sebuah
perangkap tersembunyi. Anda mulai meragukan keputusan Anda sendiri. “Apakah ini
benar-benar pilihan saya? Atau apakah saya hanya dipaksa untuk merasa bahwa
saya harus mengikuti jalan ini, mengikuti apa yang tampaknya bisa memberi saya
sedikit kebebasan?”
Langkah
demi langkah, Anda mulai melangkah lebih jauh dari zona nyaman Anda. Anda
berani melawan peraturan—peraturan yang dulu Anda anggap benar dan penting.
Setiap tindakan yang Anda ambil membentuk sebuah pola yang tidak lagi berakar
pada keyakinan asli Anda, tetapi lebih pada dorongan untuk terus bergerak,
untuk terus mencari sesuatu yang Anda anggap hilang. Namun, semakin Anda
melangkah, semakin Anda merasa kebingungan. Apa yang terjadi jika saya terus
melangkah tanpa mengerti tujuan?
"Bagaimana
jika Anda tidak melakukannya? Apa yang akan terjadi pada Anda? Mungkinkah Anda
kembali terjebak dalam rasa bosan yang tak pernah hilang?" suara itu mulai
berbisik semakin keras. Anda merasa terjepit antara rasa bersalah dan dorongan untuk
melangkah lebih jauh. Perasaan itu semakin dalam—seolah-olah Anda terjebak
dalam cermin yang memantulkan citra diri Anda yang berbeda, yang asing, yang
tidak lagi Anda kenali sepenuhnya. Apakah saya memilih jalan yang benar,
ataukah saya sudah dipengaruhi oleh dorongan yang tak bisa saya kendalikan?
Keputusan
Anda tidak lagi datang dari kekuatan Anda sendiri, tetapi lebih dari keinginan
untuk memuaskan dorongan yang terus membesar. Anda terperangkap dalam sebuah
pergeseran realitas yang halus—di mana batasan moral yang dulu Anda miliki
mulai kabur, tidak lagi jelas. Ada sesuatu dalam diri Anda yang mengatakan
bahwa Anda perlu berhati-hati, namun semakin Anda mendengarkan bisikan itu,
semakin Anda merasakan ketergantungan pada suara tersebut. “Tidakkah Anda
merasa lebih bebas ketika melanggar peraturan? Tidakkah Anda merasa diri Anda
lebih kuat dengan setiap pelanggaran kecil yang Anda lakukan?”
Klimaks
emosional ini semakin mendekat. Ketika Anda melihat diri Anda dalam cermin, ada
yang berubah—mungkin itu hanya bayangan atau sesuatu yang lebih dalam. Anda
tidak bisa lagi memisahkan siapa Anda sebenarnya dan siapa yang mulai dibentuk
oleh tindakan-tindakan ini. Pada saat yang sama, Anda merasa terperangkap.
Setiap langkah membawa Anda semakin jauh dari kenyataan, hingga Anda tidak tahu
lagi siapa yang mengendalikan situasi—apakah itu Anda, ataukah manipulasi yang
telah merasuk begitu dalam ke dalam pikiran Anda.
Simbolisme
ini—cermin retak, bayangan yang kabur—merupakan pengingat yang tak terhindarkan
dari kekacauan psikologis yang kini Anda hadapi. Setiap potongan cermin yang
pecah menggambarkan fragmen dari diri Anda yang dulu Anda kenali, kini terpecah
dan tak lagi utuh. Pilihan Anda sekarang terikat pada apa yang telah Anda
lakukan, tetapi perasaan itu hanya sebatas ilusi. Di balik setiap kilatan kaca
yang tersisa, ada suara yang meragukan, menggema dalam keheningan yang membuat
Anda berpikir, "Apakah ini benar? Apakah ini yang benar-benar Anda
inginkan?"
Tapi
suara itu tidak pernah datang dengan nada yang jujur. Itu terdengar begitu
familiar, seperti bisikan lembut yang merayu, "Tidak ada yang lebih
baik untukmu. Ini adalah satu-satunya jalan. Jika kamu pergi ke tempat lain,
kamu akan kehilangan semuanya." Anda hampir bisa merasakannya,
beratnya ketergantungan yang semakin mencengkeram. Tapi, bukankah itu hanya
perasaan Anda saja? Mungkin Anda hanya takut kehilangan rasa aman yang
diciptakan oleh manipulasi ini.
Keraguan
itu terus merayap, namun seperti bayangan yang membelok, itu tidak cukup untuk
membuat Anda bergerak. "Apa yang kamu lakukan ini bukan salah. Kamu
memilih dengan bebas, bukan?" kata suara itu lagi. Ada yang aneh dari
cara kalimat itu terbentuk—seakan-akan menambah beban di pundak Anda tanpa Anda
sadari. Mungkin itu benar. Bukankah Anda yang memilih untuk tetap di sini?
Bukankah Anda yang datang kepada mereka dengan harapan yang lebih tinggi?
Namun,
ketegangan itu meningkat, dan Anda mulai merasa cemas dengan setiap keputusan
yang Anda ambil. Setiap langkah yang lebih dekat dengan mereka, Anda merasa
semakin terjebak dalam lingkaran ini. Cermin itu, yang Anda lihat dengan
seksama, kini berubah menjadi simbol ketergantungan. Mengingatkan Anda bahwa
tidak ada jalan mundur. Keputusan-keputusan Anda terasa semakin berat, dan
ketika Anda mencoba membalikkan arah, Anda hanya melihat gambaran bayangan yang
lebih gelap dari diri Anda sendiri.
Di
saat itu, Anda mulai bertanya pada diri sendiri: "Apakah saya sudah
cukup kuat untuk mengubah arah, ataukah saya akan terus mengikuti jalan yang
sudah digariskan untuk saya?" Rasa bersalah semakin mendalam, namun
perasaan itu, meskipun sangat kuat, tetap dibalut oleh keraguan yang sengaja
diciptakan—seperti sebuah jebakan yang tidak dapat Anda lepaskan.
Dan
seperti itu, Anda akhirnya mulai merasakan puncak dari ketegangan ini. Hati
Anda berdegup cepat, dan dunia di sekitar Anda tampak memudar. Tangan Anda
gemetar, namun Anda tetap bertahan, terperangkap dalam narasi yang sudah
ditulis untuk Anda. Kini Anda tahu, keputusan Anda bukanlah hasil dari
kebebasan penuh, melainkan sebuah persepsi yang telah dibentuk dengan cermat.
Apa yang Anda pikirkan benar mungkin hanya sebuah kebohongan, dan keraguan itu
kini mengekang pikiran Anda. Dan Anda tidak bisa lagi yakin—apakah Anda memilih
untuk tetap bertahan, atau apakah Anda sudah dipilih sejak awal?
Padahal kebosanan itu sendiri tidak pernah kita inginkan, tapi kita juga harus menepis kebosanan dengan mencari pengakuan orang lain agar mendapatkan kepuasan dari kehidupan yang kita alamin. Tapi kepuasan apa yang sebenarnya kita inginkan? bukankan manusia tidak pernah puas?
BalasHapusKebanyakan individu akan mencari kepuasan menurut idealis mereka, jika 1 telah terpuaskan maka manusia akan mencari hal lain dan akan terus berlanjut. Mengapa kita tidak menghentikan idealisme kita akan suatu pencapain tersebut, untuk menghindari rasa bosan yang muncul akibat kehidupan kita yang statis? Bagaimana menurut anda?
Hapus