Pembantu?
Meluapkan emosi pada sebuah kolom komentar pada media
sosial atau mencurahkan isi hati atau pemikiran pada media sosial memanglah
bagus. Karena hal itu merupakan alternatif atau alat melakukan coping
stres, dimana hal tersebut membuat
kita merasakan sebuah kepuasan tersendiri dengan menerima banyak tanggapan dari
publik. Tindakan
coping stres adalah strategi atau cara yang digunakan seseorang untuk mengatasi
atau merespons stres dalam kehidupan sehari-hari. Kepuasan ketika kita mendapat perhatian dari banyak orang
secara anonim, merupakan salah satu dari element coping
stres.
Kognitif (Pemikiran) :
- Reframing: Mengubah cara pandang terhadap suatu situasi untuk melihatnya dari sudut pandang yang lebih positif atau konstruktif.
- Pemecahan Masalah: Mengidentifikasi masalah secara spesifik dan mencari solusi yang memungkinkan.
- Penerimaan:
Menerima kenyataan dan menghadapi situasi tanpa menyangkal atau menghindari.
Anda
akan mengubah cara pandang anda terhadap stres yang sedang anda hadapi, dengan
mengandalkan reverensi dari publik anonim yang belum tentu orang tersebut
memberikan saran yang kongkrit atau belum tentu juga jika orang tersebut anda
jadikan referensi pernah mengalami situasi tersebut dan mampu survive dari
situasi tersebut.
Solusi
yang anda terima dari berbagai macam sumber akan membantu anda menemukan sebuah
solusi dan mampu membuat anda survive. Tapi, apakah anda yakin survive dengan
saran dari yang anonim tanpa diketahui kebenaran dari pemahamannya? Apakah anda benar – benar melakukan identifikasi
masalah yang menjadi stresor anda? Jika semua itu terjadi, apakah anda siap jika
ternyata tindakan tersebut ternyata malah memperburuk kondisi?
Pada akhirnya anda hanya akan menerima kenyataan dan
menghadapi situasi tanpa menyangkal atau menghindarinya.
Tindakan
coping stres seharusnya dapat
memberikan kepuasan atau merasa lega bagi sebagian orang, terutama jika
strategi coping tersebut efektif dalam mengurangi atau mengatasi stres yang
dialami. Namun jika memperkeruh atau mempersulit
diri anda, apa yang anda lakukan? Apakah anda akan memposting stresor anda atau
mencari solusi lain dari media sosial yang berbeda? Atau mencoba menghubungi
beberapa orang dekat anda untuk meminta saran?
Pada dasarnya aspek yang harus anda pertimbangkan untuk
melakukan coping stres itu sangat sederhana tanpa mengandalkan orang lain pun
juga saya yakin anda mampu mencapai kepuasan tersebut. Saya beri gambaran
sederhananya, menurut Richard Lazarus yang merupakan seorang
psikolog terkemuka yang memainkan peran penting dalam pengembangan teori stres
dan coping. Salah satu kontribusi terbesarnya adalah pengembangan teori
pemilihan dan penilaian (appraisal) dalam konteks stres. Teori ini dikembangkan
bersama Susan Folkman. Pada buku
karangannya "Stress, Appraisal, and Coping"
(1984) menerangkan beberapa
cara di mana tindakan coping stres dapat memberikan kepuasan :
1.
Pemecahan
Masalah: Menemukan solusi yang efektif untuk mengatasi masalah
dapat memberikan rasa pencapaian dan kepuasan. Ketika seseorang berhasil
menyelesaikan suatu masalah atau menangani situasi stres, mereka mungkin merasa
lebih baik tentang diri mereka sendiri.
2.
Relaksasi
dan Kesejahteraan Fisik: Tindakan coping seperti meditasi,
yoga, atau olahraga dapat merangsang pelepasan endorfin atau hormon bahagia,
yang dapat meningkatkan suasana hati dan memberikan sensasi kesejahteraan.
3.
Dukungan
Sosial: Mencari dukungan dari teman atau keluarga, atau
terlibat dalam hubungan sosial yang positif, dapat memberikan rasa koneksi,
dukungan emosional, dan kepuasan.
4.
Perubahan
Pola Pikir: Mengubah pola pikir negatif menjadi
positif atau menerapkan strategi pemikiran yang lebih adaptif dapat membantu
seseorang merasa lebih kontrol terhadap situasi dan mengurangi tingkat stres.
5. Pencapaian
Pribadi: Mengatasi stres sering melibatkan pencapaian pribadi,
entah itu dalam pengelolaan waktu, penyelesaian proyek, atau mencapai tujuan
tertentu. Hal ini dapat memberikan rasa pencapaian dan kepuasan pribadi.
Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa setiap individu unik, dan apa yang berhasil sebagai tindakan coping dan memberikan kepuasan bagi satu orang mungkin tidak sama untuk orang lain. Beberapa strategi coping mungkin memerlukan waktu atau latihan untuk memberikan efek yang diinginkan, dan hasilnya dapat bervariasi tergantung pada konteks dan situasi tertentu. Juga, ada saat-saat di mana tindakan coping mungkin memerlukan penyesuaian atau variasi untuk tetap efektif seiring waktu.
Pada Teori Pemilihan dan Penilaian (Transactional Model of Stress and Coping) Richard Lazarus (1922) terdapat 2 elemen, yaitu :
Pemilihan (Appraisal):
- Penilaian Primer: Melibatkan penilaian awal terhadap apakah suatu kejadian atau situasi merupakan ancaman atau tantangan.
- Penilaian Sekunder: Melibatkan penilaian terhadap sumber daya dan kemampuan individu untuk mengatasi situasi tersebu.
- Coping Problem-Focused: Mencakup upaya untuk mengubah situasi yang menjadi sumber stres.
- Coping Emotion-Focused: Mencakup upaya untuk mengatasi atau mengubah respons emosional terhadap situasi stres.
Menurut
Lazarus, individu tidak hanya merespons secara pasif terhadap stres, tetapi
mereka terlibat secara aktif dalam proses penilaian dan pengelolaan stres
tersebut. Selain itu, teorinya menekankan pentingnya persepsi dan penilaian
individu terhadap situasi, yang dapat mempengaruhi respons koping yang dipilih.
Sekarang
saya umpamakan, seorang individu yang sudah termakan oleh pola pikir yang lahir
dari media sosial, yang banyak memberikan limbah pada mineset seorang individu.
Dimana saya umpakan seorang wanita muda dengan usia 19-21 tahun, dimana wanita
tersebut memiliki mineset ”ingin menjalani kehidupan rumah tangga yang ideal,
dengan tanpa tekanan”. Dan sempat melempar sebuah pertanyaan pada sebuah forum
diskusi “kamu mencari istri apa pembantu?”, dimana kalimat tersebut lahir dari
mineset yang telah dicemari oleh limbah tadi.
Pertanyaan
tersebut mungkin mencerminkan asumsi atau stereotip tertentu tentang peran atau
tujuan seseorang, yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman atau stres. Jika
pertanyaan itu mencerminkan tekanan sosial untuk memenuhi ekspektasi tertentu,
itu bisa menciptakan stres karena individu mungkin merasa dihadapkan pada
harapan atau norma tertentu. Pertanyaan semacam ini bisa menyinggung privasi
dan memunculkan perasaan ketidaknyamanan, yang dapat dianggap sebagai sumber
stres.
Semua
itu tidak salah, tapi kurang pas. Kita anggap wanita tersebut sempat mencari solusi
dari trauma masa lalunya yang diakibatkan sebuah tuntutan atau sebuah kondisi
extream ke orang terdekatnya. Dan kita anggap wanita tersebut memiliki mineset
lain dimana mantan masihlah memiliki peran sebagai teman, dan merupakan
kategori sebagai orang terdekat untuk mencari sebuah solusi. Ya, mantan
pasangan juga dapat dikategorikan sebagai orang dekat, terutama karena mereka
memiliki sejarah hubungan yang lebih intim. Meskipun hubungan romantisme
tersebut telah berakhir, masih ada potensi untuk menjalani hubungan yang
berbeda setelahnya. Apakah mantan pasangan termasuk dalam kategori orang dekat
tergantung pada tingkat kedekatan dan jenis hubungan yang dijalin setelah
berakhirnya hubungan romantisme.
Ada
beberapa faktor yang memepengaruhi pemikiran seperti itu. Itu boleh dan tidak
salah juga.
Lalu
kita berlanjut pada topik pembahasan utama kita, jika semua hal itu pada anda. Bukankah
anda yang menjadi stresor anda sendiri, anda menciptakan kondisi yang demikian
dan anda menyalahkan kondisi tersebut. Apakah anda sehat? Sebenarnya tidak,
anda mengubah kondisi diri anda sedemikian rupa hanya untuk mencapai
aktualisasi diri yang anda ekspetasikan sendiri.
Ok,
kita ganti topik…
Bagaimana
jika saya umpamakan sebuah break dalam hubungan asmara, dengan alasan bahawa
anda merasa berdosa karena telah melakukan berbagai macam hal bersama pasangan
anda. Anda mengatakan bahwa yang melakukan selama itu bukanlah anda, dan hanya
sebuah paksaan dari pasangan anda. Anda bersikap manja, nempel nempel, ingin
ini, ingin itu, dan sejenisnya, dan setelah semua itu anda mengatakan bahwa
kebaikan pasangan anda hilang semua karena perasaan berdosa anda? Anda sehat? Kemungkinan
tidak.
Perasaan
berdosa, anda dapat dari saran atau masukan dari teman dekat atau bahkan mantan
yang masuk kedalam kategori orang dekat anda. Pakah anda sempat berfikir jika
mereka hanya mengambil keuntungan dari kondisi anda? Mengapa saya bertanya
demikian? Karena tidak menutup kemungkinan itu terjadi, dimana potensi hal itu
ada diangka 26.32%.
Mengapa
saya menyimpulkan demikian? Banyak hal yang mendasari kesimpulan saya tersebut.
Salah satunya berasal dari teori René Descartes. Descartes, seorang filsuf dan
matematikawan terkenal dari abad ke-17. Descartes adalah tokoh penting dalam
sejarah pemikiran Barat dan dikenal karena kontribusinya pada filsafat
rasionalisme dan metode ilmiah.
Descartes
terkenal dengan pernyataannya "Cogito, ergo sum" (Saya berpikir, maka
saya ada), yang menekankan keberadaan diri sebagai titik dasar kebenaran yang
tidak dapat dipertanyakan. Ia mengambil pendekatan skeptisisme radikal untuk
mempertanyakan semua pengetahuan yang ada dan mencari dasar yang pasti untuk
pengetahuan. Dengan menerapkan teori tersebut, maka melahirkan kesimpulan saya.
Apakah
anda sudah melakukan analisa yang luas dengan memikirkan sekian banyak problem
pada sekian banyak solusi? Apakah anda telah benar – benar mempercayai saran,
solusi, atau masukan dari mantan dan orang terdekat tanpa memikirkan sekian
banyak resiko dari hal tersebut?
Dalam
merespons stres dan mengambil keputusan, perlu diingat bahwa setiap individu
memiliki cara unik dalam menghadapinya. Coping stres, jika diterapkan dengan
baik, dapat memberikan rasa puas, sebaliknya, bisa memperkeruh situasi jika
tidak dielola secara hati-hati. Berbagai strategi seperti pemecahan masalah,
dukungan sosial, dan perubahan pola pikir dapat memberikan kepuasan dalam
mengatasi stres.
Pengaruh
media sosial dan interaksi dengan orang terdekat mampu membentuk mineset
seseorang, memengaruhi cara berpikir dan bertindak. Kritis dalam mengevaluasi
masukan dan saran yang diterima, terutama dari mantan pasangan atau orang
terdekat, sangat penting untuk memastikan bahwa hal tersebut benar-benar
membantu dan tidak justru memperparah situasi.
Dalam
konteks hubungan asmara, perasaan berdosa dan pemikiran negatif bisa berdampak
pada keputusan dan interaksi. Pendekatan skeptisisme ala Descartes menunjukkan
pentingnya analisis mendalam sebelum membuat keputusan signifikan. Jika perlu,
konsultasi dengan profesional kesehatan mental dapat memberikan pandangan
objektif dan arahan yang dibutuhkan.
Penting
untuk diingat bahwa kepuasan dan pemahaman diri dapat dicapai melalui pemilihan
strategi coping yang sesuai dan pengambilan keputusan yang matang. Dengan
kesadaran diri, refleksi, dan keterbukaan terhadap berbagai sudut pandang,
seseorang dapat menghadapi stres dengan lebih efektif dan mencapai keseimbangan
emosional yang lebih baik.
Bagaimana menurut anda? Tulis dikolom komentar.
Komentar
Posting Komentar
Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar