Pembantu?

Meluapkan emosi pada sebuah kolom komentar pada media sosial atau mencurahkan isi hati atau pemikiran pada media sosial memanglah bagus. Karena hal itu merupakan alternatif atau alat melakukan coping stres, dimana hal tersebut membuat kita merasakan sebuah kepuasan tersendiri dengan menerima banyak tanggapan dari publik. Tindakan coping stres adalah strategi atau cara yang digunakan seseorang untuk mengatasi atau merespons stres dalam kehidupan sehari-hari. Kepuasan ketika kita mendapat perhatian dari banyak orang secara anonim, merupakan salah satu dari element coping stres.

Kognitif (Pemikiran) :

  1. Reframing: Mengubah cara pandang terhadap suatu situasi untuk melihatnya dari sudut pandang yang lebih positif atau konstruktif.
  2. Pemecahan Masalah: Mengidentifikasi masalah secara spesifik dan mencari solusi yang memungkinkan.
  3. Penerimaan: Menerima kenyataan dan menghadapi situasi tanpa menyangkal atau menghindari.

Anda akan mengubah cara pandang anda terhadap stres yang sedang anda hadapi, dengan mengandalkan reverensi dari publik anonim yang belum tentu orang tersebut memberikan saran yang kongkrit atau belum tentu juga jika orang tersebut anda jadikan referensi pernah mengalami situasi tersebut dan mampu survive dari situasi tersebut.

Solusi yang anda terima dari berbagai macam sumber akan membantu anda menemukan sebuah solusi dan mampu membuat anda survive. Tapi, apakah anda yakin survive dengan saran dari yang anonim tanpa diketahui kebenaran dari pemahamannya? Apakah anda benar – benar melakukan identifikasi masalah yang menjadi stresor anda? Jika semua itu terjadi, apakah anda siap jika ternyata tindakan tersebut ternyata malah memperburuk kondisi?

Pada akhirnya anda hanya akan menerima kenyataan dan menghadapi situasi tanpa menyangkal atau menghindarinya.

Tindakan coping stres seharusnya dapat memberikan kepuasan atau merasa lega bagi sebagian orang, terutama jika strategi coping tersebut efektif dalam mengurangi atau mengatasi stres yang dialami. Namun jika memperkeruh atau mempersulit diri anda, apa yang anda lakukan? Apakah anda akan memposting stresor anda atau mencari solusi lain dari media sosial yang berbeda? Atau mencoba menghubungi beberapa orang dekat anda untuk meminta saran?

Pada dasarnya aspek yang harus anda pertimbangkan untuk melakukan coping stres itu sangat sederhana tanpa mengandalkan orang lain pun juga saya yakin anda mampu mencapai kepuasan tersebut. Saya beri gambaran sederhananya, menurut Richard Lazarus yang merupakan seorang psikolog terkemuka yang memainkan peran penting dalam pengembangan teori stres dan coping. Salah satu kontribusi terbesarnya adalah pengembangan teori pemilihan dan penilaian (appraisal) dalam konteks stres. Teori ini dikembangkan bersama Susan Folkman. Pada buku karangannya "Stress, Appraisal, and Coping" (1984) menerangkan beberapa cara di mana tindakan coping stres dapat memberikan kepuasan :

 1.  Pemecahan Masalah: Menemukan solusi yang efektif untuk mengatasi masalah dapat memberikan rasa pencapaian dan kepuasan. Ketika seseorang berhasil menyelesaikan suatu masalah atau menangani situasi stres, mereka mungkin merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri.

 2.  Relaksasi dan Kesejahteraan Fisik: Tindakan coping seperti meditasi, yoga, atau olahraga dapat merangsang pelepasan endorfin atau hormon bahagia, yang dapat meningkatkan suasana hati dan memberikan sensasi kesejahteraan.

 3.  Dukungan Sosial: Mencari dukungan dari teman atau keluarga, atau terlibat dalam hubungan sosial yang positif, dapat memberikan rasa koneksi, dukungan emosional, dan kepuasan.

 4.  Perubahan Pola Pikir: Mengubah pola pikir negatif menjadi positif atau menerapkan strategi pemikiran yang lebih adaptif dapat membantu seseorang merasa lebih kontrol terhadap situasi dan mengurangi tingkat stres.

 5.  Pencapaian Pribadi: Mengatasi stres sering melibatkan pencapaian pribadi, entah itu dalam pengelolaan waktu, penyelesaian proyek, atau mencapai tujuan tertentu. Hal ini dapat memberikan rasa pencapaian dan kepuasan pribadi.

Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa setiap individu unik, dan apa yang berhasil sebagai tindakan coping dan memberikan kepuasan bagi satu orang mungkin tidak sama untuk orang lain. Beberapa strategi coping mungkin memerlukan waktu atau latihan untuk memberikan efek yang diinginkan, dan hasilnya dapat bervariasi tergantung pada konteks dan situasi tertentu. Juga, ada saat-saat di mana tindakan coping mungkin memerlukan penyesuaian atau variasi untuk tetap efektif seiring waktu.

Pada Teori Pemilihan dan Penilaian (Transactional Model of Stress and Coping) Richard Lazarus (1922) terdapat 2 elemen, yaitu :

Pemilihan (Appraisal):

  • Penilaian Primer: Melibatkan penilaian awal terhadap apakah suatu kejadian atau situasi merupakan ancaman atau tantangan.
  • Penilaian Sekunder: Melibatkan penilaian terhadap sumber daya dan kemampuan individu untuk mengatasi situasi tersebu.
Coping (Penanganan):

  • Coping Problem-Focused: Mencakup upaya untuk mengubah situasi yang menjadi sumber stres.
  • Coping Emotion-Focused: Mencakup upaya untuk mengatasi atau mengubah respons emosional terhadap situasi stres.

Menurut Lazarus, individu tidak hanya merespons secara pasif terhadap stres, tetapi mereka terlibat secara aktif dalam proses penilaian dan pengelolaan stres tersebut. Selain itu, teorinya menekankan pentingnya persepsi dan penilaian individu terhadap situasi, yang dapat mempengaruhi respons koping yang dipilih.

Sekarang saya umpamakan, seorang individu yang sudah termakan oleh pola pikir yang lahir dari media sosial, yang banyak memberikan limbah pada mineset seorang individu. Dimana saya umpakan seorang wanita muda dengan usia 19-21 tahun, dimana wanita tersebut memiliki mineset ”ingin menjalani kehidupan rumah tangga yang ideal, dengan tanpa tekanan”. Dan sempat melempar sebuah pertanyaan pada sebuah forum diskusi “kamu mencari istri apa pembantu?”, dimana kalimat tersebut lahir dari mineset yang telah dicemari oleh limbah tadi.

Pertanyaan tersebut mungkin mencerminkan asumsi atau stereotip tertentu tentang peran atau tujuan seseorang, yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman atau stres. Jika pertanyaan itu mencerminkan tekanan sosial untuk memenuhi ekspektasi tertentu, itu bisa menciptakan stres karena individu mungkin merasa dihadapkan pada harapan atau norma tertentu. Pertanyaan semacam ini bisa menyinggung privasi dan memunculkan perasaan ketidaknyamanan, yang dapat dianggap sebagai sumber stres.

Semua itu tidak salah, tapi kurang pas. Kita anggap wanita tersebut sempat mencari solusi dari trauma masa lalunya yang diakibatkan sebuah tuntutan atau sebuah kondisi extream ke orang terdekatnya. Dan kita anggap wanita tersebut memiliki mineset lain dimana mantan masihlah memiliki peran sebagai teman, dan merupakan kategori sebagai orang terdekat untuk mencari sebuah solusi. Ya, mantan pasangan juga dapat dikategorikan sebagai orang dekat, terutama karena mereka memiliki sejarah hubungan yang lebih intim. Meskipun hubungan romantisme tersebut telah berakhir, masih ada potensi untuk menjalani hubungan yang berbeda setelahnya. Apakah mantan pasangan termasuk dalam kategori orang dekat tergantung pada tingkat kedekatan dan jenis hubungan yang dijalin setelah berakhirnya hubungan romantisme.

Ada beberapa faktor yang memepengaruhi pemikiran seperti itu. Itu boleh dan tidak salah juga.

Lalu kita berlanjut pada topik pembahasan utama kita, jika semua hal itu pada anda. Bukankah anda yang menjadi stresor anda sendiri, anda menciptakan kondisi yang demikian dan anda menyalahkan kondisi tersebut. Apakah anda sehat? Sebenarnya tidak, anda mengubah kondisi diri anda sedemikian rupa hanya untuk mencapai aktualisasi diri yang anda ekspetasikan sendiri.

Ok, kita ganti topik…

Bagaimana jika saya umpamakan sebuah break dalam hubungan asmara, dengan alasan bahawa anda merasa berdosa karena telah melakukan berbagai macam hal bersama pasangan anda. Anda mengatakan bahwa yang melakukan selama itu bukanlah anda, dan hanya sebuah paksaan dari pasangan anda. Anda bersikap manja, nempel nempel, ingin ini, ingin itu, dan sejenisnya, dan setelah semua itu anda mengatakan bahwa kebaikan pasangan anda hilang semua karena perasaan berdosa anda? Anda sehat? Kemungkinan tidak.

Perasaan berdosa, anda dapat dari saran atau masukan dari teman dekat atau bahkan mantan yang masuk kedalam kategori orang dekat anda. Pakah anda sempat berfikir jika mereka hanya mengambil keuntungan dari kondisi anda? Mengapa saya bertanya demikian? Karena tidak menutup kemungkinan itu terjadi, dimana potensi hal itu ada diangka 26.32%.

Mengapa saya menyimpulkan demikian? Banyak hal yang mendasari kesimpulan saya tersebut. Salah satunya berasal dari teori René Descartes. Descartes, seorang filsuf dan matematikawan terkenal dari abad ke-17. Descartes adalah tokoh penting dalam sejarah pemikiran Barat dan dikenal karena kontribusinya pada filsafat rasionalisme dan metode ilmiah.

Descartes terkenal dengan pernyataannya "Cogito, ergo sum" (Saya berpikir, maka saya ada), yang menekankan keberadaan diri sebagai titik dasar kebenaran yang tidak dapat dipertanyakan. Ia mengambil pendekatan skeptisisme radikal untuk mempertanyakan semua pengetahuan yang ada dan mencari dasar yang pasti untuk pengetahuan. Dengan menerapkan teori tersebut, maka melahirkan kesimpulan saya.

Apakah anda sudah melakukan analisa yang luas dengan memikirkan sekian banyak problem pada sekian banyak solusi? Apakah anda telah benar – benar mempercayai saran, solusi, atau masukan dari mantan dan orang terdekat tanpa memikirkan sekian banyak resiko dari hal tersebut?

Dalam merespons stres dan mengambil keputusan, perlu diingat bahwa setiap individu memiliki cara unik dalam menghadapinya. Coping stres, jika diterapkan dengan baik, dapat memberikan rasa puas, sebaliknya, bisa memperkeruh situasi jika tidak dielola secara hati-hati. Berbagai strategi seperti pemecahan masalah, dukungan sosial, dan perubahan pola pikir dapat memberikan kepuasan dalam mengatasi stres.

Pengaruh media sosial dan interaksi dengan orang terdekat mampu membentuk mineset seseorang, memengaruhi cara berpikir dan bertindak. Kritis dalam mengevaluasi masukan dan saran yang diterima, terutama dari mantan pasangan atau orang terdekat, sangat penting untuk memastikan bahwa hal tersebut benar-benar membantu dan tidak justru memperparah situasi.

Dalam konteks hubungan asmara, perasaan berdosa dan pemikiran negatif bisa berdampak pada keputusan dan interaksi. Pendekatan skeptisisme ala Descartes menunjukkan pentingnya analisis mendalam sebelum membuat keputusan signifikan. Jika perlu, konsultasi dengan profesional kesehatan mental dapat memberikan pandangan objektif dan arahan yang dibutuhkan.

Penting untuk diingat bahwa kepuasan dan pemahaman diri dapat dicapai melalui pemilihan strategi coping yang sesuai dan pengambilan keputusan yang matang. Dengan kesadaran diri, refleksi, dan keterbukaan terhadap berbagai sudut pandang, seseorang dapat menghadapi stres dengan lebih efektif dan mencapai keseimbangan emosional yang lebih baik.

 

Bagaimana menurut anda? Tulis dikolom komentar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan

Perspectives 12

Perspectives 4: DIBALIK SEBUAH TABIR