Perspectives 10
Manusia
selalu berusaha memahami dirinya dalam konteks sosial. Sejak lahir, kita telah
diprogram untuk mencari penerimaan, merasakan kehangatan dari keberadaan orang
lain, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan. "Gregariousness,"
sebutan untuk naluri sosial manusia, bukan sekadar kebutuhan, tetapi juga jerat
yang tak terlihat—sebuah ilusi kebebasan yang menyelimuti realitas sesungguhnya
(R. Wahyu Widodo, S.Psi.,M.Si, 2022).
Sekarang,
pikirkanlah. Seberapa sering keputusan yang anda ambil benar-benar milik anda
sendiri? Saat anda tertawa di tengah percakapan, apakah itu karena kebahagiaan
sejati atau karena otak anda menginstruksikan bahwa itulah respons sosial yang
diterima? Ketika anda memilih pakaian, apakah itu cerminan gaya pribadi atau
hanya kepatuhan terhadap norma yang ditanamkan sejak lama? Setiap gerakan anda,
setiap kata yang anda ucapkan, adakah yang benar-benar lahir dari kehendak
bebas?
Festinger
(1957) dalam teori disonansi kognitif mengungkapkan bahwa manusia mengalami
ketidaknyamanan psikologis ketika keyakinan mereka bertentangan dengan tindakan
mereka sendiri. Coba ingat kembali, berapa banyak keyakinan yang anda genggam
selama ini hanya karena dunia memaksamu untuk mempercayainya? Jika realitas
yang anda pertahankan mulai bergetar di bawah beban pertanyaan ini, apa artinya
bagi identitas anda? Apakah anda masih memiliki kendali penuh, atau hanya
menjalankan skenario yang ditulis oleh tangan-tangan tak terlihat?
Ada
sesuatu yang mengusik di balik semua ini. Sebuah suara kecil yang berbisik
dalam benak anda: Apakah keinginan anda benar-benar otentik, atau sekadar
refleksi dari ekspektasi orang lain? Jangan terburu-buru menjawab. Biarkan
pertanyaan ini meresap dalam setiap inci pikiran anda. Karena jawaban yang anda
temukan mungkin bukan milik anda, tetapi milik sistem yang selama ini membentuk
anda.
Foucault
(1975) dalam analisisnya tentang kekuasaan dan pengawasan menjelaskan bahwa
masyarakat bekerja seperti panoptikon—sebuah sistem yang membuat individu
secara tidak sadar mengawasi dan menyesuaikan perilaku mereka sendiri. Anda
mungkin berpikir bahwa anda bebas, tetapi apakah itu kebebasan sejati atau
hanya ilusi yang diciptakan agar anda tetap tunduk? Jika aku mengatakan bahwa
setiap keputusan yang anda ambil hanyalah refleksi dari lingkungan sosial anda,
apakah anda akan menyangkalnya? Atau justru mulai meragukan segalanya?
Perlahan,
rasa bersalah merayap. Anda ingin berpikir bahwa anda adalah individu yang
bebas, tapi benarkah demikian? Ataukah kebebasan hanyalah kata yang diciptakan
untuk memberikan kenyamanan semu? Bayangkan dunia tanpa norma, tanpa
ekspektasi. Tanpa semua konstruksi yang menuntun anda hingga detik ini. Apakah
anda masih menjadi diri anda yang sekarang? Ataukah anda hanyalah kepingan yang
hancur, tak mampu mengenali refleksi diri sendiri?
Ketika
anda berbicara dengan seseorang, apakah anda benar-benar mendengar suara
mereka, atau justru gema dari norma yang telah ditanamkan dalam benak anda
sejak lama? Jika aku mengatakan bahwa keinginan anda untuk beradaptasi hanyalah
bentuk lain dari pengorbanan diri demi diterima, apakah anda akan
mengabaikannya atau mulai melihatnya sebagai kebenaran yang selama ini anda
hindari?
Sekarang,
tarik napas dalam-dalam. Biarkan pertanyaan ini mengendap di benak anda: Jika
lingkungan adalah cermin yang membentuk identitas anda, lalu siapa diri anda
ketika cermin itu hancur? Jika anda tidak lagi bisa mengenali refleksi di
hadapan anda, apa yang tersisa dari diri anda?
Tidak
dapat dipungkiri bahwa setiap individu selalu membutuhkan kelompok sosial untuk
memenuhi kebutuhan dasar anda dalam hidup bermasyarakat, terutama ketika anda
merasa kesepian di tengah-tengah dunia yang penuh tekanan ini. Bagi seorang
mahasiswa, keberadaan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) bukan hanya menjadi ajang
untuk mengasah kemampuan, tetapi juga sebagai latihan hidup yang menuntut anda
untuk menyiapkan diri dalam menghadapi tantangan dunia yang sesungguhnya—dunia
yang lebih keras, lebih menekan, lebih tidak memberi ruang bagi kelemahan.
Dalam dunia yang tampaknya penuh dengan peluang, banyak mahasiswa yang mulai
merasakan ketegangan psikologis yang mengikis kekuatan mental anda, menyelinap
perlahan seperti racun yang mempengaruhi tubuh tanpa disadari.
Di
balik perkuliahan yang tampak terstruktur, kehidupan kampus sering kali menjadi
tempat di mana harapan dan kenyataan bertabrakan dengan cara yang sangat tidak
terduga. Anda yang masih merasa percaya diri, berpegang pada keyakinan bahwa
anda dapat mengubah dunia, sering kali terkejut oleh kenyataan yang
menyakitkan. Dunia kerja yang anda impikan bukanlah tempat yang memberi, tetapi
dunia yang menuntut pengorbanan dan sering kali memaksa anda untuk
mengesampingkan nilai-nilai pribadi anda. Di sinilah keraguan mulai
tumbuh—keraguan terhadap pilihan hidup anda, terhadap tujuan yang anda kejar,
dan terhadap identitas yang anda banggakan. Dunia ini bukanlah tempat yang
adil, dan setiap keputusan yang diambil memiliki harga yang harus dibayar.
Sebagian
mahasiswa, mungkin anda merasa bangga dapat masuk dalam suatu UKM yang anda
anggap sebagai tempat untuk menunjukkan eksistensi anda, namun anda tidak
menyadari bahwa anda perlahan-lahan mulai terperangkap dalam lingkaran setan
yang anda sendiri buat. Anda terjebak dalam perasaan bahwa anda harus terus
berprestasi, bahwa anda harus menunjukkan lebih banyak, lebih cepat, dan lebih
baik daripada yang lain, bahkan jika itu berarti mengorbankan kesehatan fisik
dan mental anda. Begitu kuatnya tekanan ini sehingga anda mulai meragukan kenyamanan
yang dulu anda anggap sebagai sesuatu yang wajar. Anda diajak untuk melupakan
kebutuhan pribadi anda—untuk menekan perasaan anda—demi mengabdi pada suatu
tujuan yang bahkan anda sendiri mulai pertanyakan maknanya.
Di
sinilah permainan psikologis dimulai. Seiring waktu, anda menjadi semakin
terbiasa dengan perasaan tertekan. Anda belajar untuk menerima ketegangan itu
sebagai bagian dari hidup anda. Anda belajar untuk mengabaikan rasa lelah,
bahkan rasa cemas, karena anda diyakinkan bahwa ini adalah harga yang harus
dibayar untuk kesuksesan. Namun, ketika dorongan untuk terus bergerak maju
semakin kuat, anda mulai merasakan dampak dari keputusan yang anda
buat—keputusan untuk terus menekan diri anda, bahkan ketika tubuh dan pikiran
anda berteriak meminta jeda. Keputusan yang pada awalnya tampak seperti pilihan
rasional, perlahan-lahan mulai merubah persepsi anda tentang dunia di sekitar
anda. Anda mulai mempertanyakan apakah anda benar-benar bebas, atau justru
terperangkap dalam jaring yang anda buat sendiri.
Konflik
batin ini sering kali muncul sebagai suara yang berbisik di dalam diri
anda—suara yang meragukan apa yang anda lakukan. Apakah ini semua memang jalan
yang benar? Apakah kesuksesan yang dijanjikan itu sebanding dengan pengorbanan
yang harus anda bayar? Seiring waktu, anda mulai meragukan diri anda sendiri,
dan semakin banyak keraguan yang muncul, semakin besar pula ketergantungan anda
pada sumber eksternal yang anda anggap memberikan anda petunjuk—termasuk
lingkungan sekitar anda yang penuh tekanan. Namun, seperti halnya lingkaran
setan, semakin anda mencoba untuk keluar, semakin dalam anda terjerumus ke
dalamnya.
Menggunakan
teori psikologi, kita bisa melihat ini sebagai efek dari proses kognitif
disonansi, di mana anda yang merasa terjebak dalam perasaan tidak nyaman
akibat konflik antara tindakan anda dengan keyakinan anda, mulai mencari cara
untuk mengurangi ketegangan tersebut, sering kali dengan membenarkan
keputusan-keputusan yang anda buat, meskipun anda merasa ada sesuatu yang salah
(Festinger, 1957). Anda cenderung mengubah persepsi anda tentang dunia untuk
menyesuaikan dengan keadaan, meyakinkan diri anda bahwa tekanan yang anda
rasakan adalah sesuatu yang sah.
Lebih
jauh lagi, fenomena ini juga dapat dipahami melalui konsep psikologi
ketergantungan, di mana anda mulai mengandalkan sumber eksternal—dalam hal
ini, standar yang diterapkan oleh UKM dan teman-teman anda—untuk memberi anda
rasa kontrol dan kejelasan, meskipun itu mengorbankan kesejahteraan mental
anda. Anda menjadi terikat pada nilai-nilai yang sebenarnya merugikan anda,
tanpa menyadari bahwa anda telah menjadi budak dari sistem yang anda pilih.
Ketika
anda merasakan kekosongan yang mendalam—perasaan yang datang setelah merasakan
keraguan dan kehilangan kendali, ketika anda akhirnya menyadari bahwa anda
telah menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada diri anda
sendiri. Anda menyadari bahwa dunia yang anda anggap nyata—tempat anda
mengorbankan semua yang anda miliki—adalah dunia yang penuh dengan ilusi dan
manipulasi, sebuah dunia yang membuat anda terus berjalan meskipun anda tahu
bahwa anda telah kehilangan jalan.
Sekarang
saya tanya pada Anda, selaku mahasiswa, seberapa pentingkah UKM bagi Anda?
Seberapa besar pengaruhnya terhadap kehidupan kampus Anda? Seberapa
bermanfaatkah UKM bagi Anda? Apakah Anda pernah berpikir lebih dalam tentang
apa yang sebenarnya terjadi ketika Anda bergabung dalam sebuah organisasi?
Mungkin, Anda percaya bahwa UKM adalah batu loncatan yang menjanjikan untuk
karier masa depan Anda. Tetapi, apakah itu benar-benar seperti yang Anda
pikirkan?
Setiap
organisasi, termasuk UKM, pasti memiliki dampak positif dan negatif. Begitu
juga UKM yang sering dianggap sebagai "kelompok sosial sekunder,"
kelompok yang membentuk hubungan tidak pribadi, sementara tujuannya adalah
untuk mencapai tujuan bersama—yang sering kali tidak lebih dari sekadar kontrak
semu. Apakah Anda benar-benar mengenal orang-orang di sekitar Anda? Atau apakah
Anda hanya mengenal mereka dalam batasan fungsi yang mereka perankan dalam
organisasi itu?
Cobalah
untuk merenung sejenak, bukankah Anda mulai merasa sedikit terjebak? Ada suatu
perasaan yang tidak bisa Anda jelaskan, bukan? Keinginan untuk berkembang,
berprestasi, dan membangun diri dengan mengikuti UKM, terasa begitu menggoda,
namun bukankah ada bayang-bayang ketidakpastian yang mengikutinya? Mengapa,
meskipun Anda merasa semakin banyak terlibat, ada perasaan kosong yang
mengganggu? Ini bukan soal pengembangan diri—ini tentang mengendalikan Anda.
Bayangkan
jika Anda telah mengikuti dan bergabung dalam UKM untuk waktu yang lama. Anda
telah terlibat dalam setiap kegiatan, mengikuti pelatihan, dan melibatkan diri
dalam tim. Tapi, apakah Anda merasa lebih dekat dengan tujuan pribadi Anda,
atau malah semakin jauh dari diri sejati Anda? Apa yang sebenarnya terjadi saat
Anda mendalami lebih jauh? Apakah Anda menyadari bahwa Anda mungkin telah
membiarkan suara-suara di luar Anda mengaburkan suara Anda sendiri?
Sebenarnya,
kemampuan Anda dalam menghadapi dunia kerja memang dapat dilatih dalam UKM—dan
itu adalah kenyataan yang tak terbantahkan. Anda belajar bekerja dalam tim,
mengembangkan keterampilan komunikasi, memecahkan masalah, dan membangun
jaringan. Namun, pernahkah Anda merasa bahwa setiap langkah itu terasa lebih
seperti peran yang harus Anda mainkan dalam skenario yang bukan milik Anda?
Mungkin, Anda hanya menjalani apa yang sudah ditentukan oleh mereka yang
"lebih berpengalaman." Mungkin, Anda berpikir Anda memiliki kontrol
penuh atas pilihan Anda—tetapi seiring berjalannya waktu, Anda mulai melihat
bahwa pilihan-pilihan itu sebenarnya terbentuk oleh ekspektasi yang tak
terlihat, yang terus memanipulasi Anda, membuat Anda semakin bergantung.
Dan
Anda mulai merasa bingung. Benarkah ini semua untuk kebaikan Anda, atau Anda
hanya dipaksa untuk mempercayainya? Terkadang, saat Anda menatap kaca, Anda
bisa melihat diri Anda berbeda. Bagaimana bisa Anda begitu yakin bahwa semua
yang telah Anda lakukan itu berasal dari keinginan sejati Anda, bukan
semata-mata karena Anda dipaksa untuk menerima narasi yang diberikan? Ada
saatnya, Anda merasa seperti sebuah boneka, dengan tali yang tak terlihat, yang
mengendalikan setiap keputusan yang Anda buat.
Seiring
waktu, Anda akan mulai bertanya pada diri Anda, “Apakah ini semua masih
berharga?” Anda menginginkan kesuksesan, pengakuan, dan pengalaman, tetapi
apakah Anda tahu apa yang benar-benar Anda cari? Sebuah pencapaian yang
membebaskan, atau pencapaian yang sesungguhnya mengekang Anda dalam
bayang-bayang ekspektasi yang dipaksakan? Anda merasa semakin sulit membedakan
antara apa yang Anda inginkan dan apa yang orang lain inginkan untuk Anda.
Anda
mulai meragukan nilai yang telah Anda pegang. Anda merasa lebih terisolasi dari
diri Anda sendiri, dikelilingi oleh orang-orang yang, meskipun tampak membantu,
sebenarnya lebih berfungsi untuk mengekang Anda dalam sistem yang telah ada.
Mereka tahu bagaimana memainkan perasaan Anda—mereka tahu betul bagaimana
menempatkan kata-kata yang tepat untuk membuat Anda merasa bersalah, merasa
seolah-olah Anda harus mengikuti alur yang mereka buat.
"Jika
kamu tidak mengikuti ini, bagaimana dengan masa depanmu?" Begitu mereka
berkata. Dan tiba-tiba, Anda merasa bahwa Anda tak punya pilihan lain. Anda
mulai meragukan pilihan Anda sendiri, merasa takut kehilangan kesempatan—dan
tanpa sadar, Anda terjebak dalam lingkaran yang diciptakan oleh mereka. Ketika
Anda mulai merasa terbebani oleh perasaan ini, apakah Anda benar-benar yakin
bahwa semua yang Anda lakukan itu benar-benar datang dari diri Anda, atau Anda
hanya menjalani kehidupan yang telah disusun oleh orang lain?
Ini
adalah titik di mana kontrol Anda atas kenyataan mulai terbelah. Anda mulai
melihat dunia sekitar Anda dengan cara yang berbeda. Apa yang dulu tampak jelas
dan mudah, kini terasa kabur dan penuh dengan keraguan. Dan pertanyaan itu
terus menghantui Anda—apakah Anda akan terus berjalan mengikuti jejak yang
digariskan, atau Anda akan berhenti sejenak untuk mempertanyakan, “Apa
sebenarnya yang saya inginkan?” Anda perlahan mulai menyadari bahwa Anda
mungkin telah kehilangan kontrol, bukan hanya atas pilihan, tetapi atas siapa
diri Anda sebenarnya.
Dengan
mengutip teori dari Foucault tentang kekuasaan dan pengaruh, kita melihat bahwa
kekuasaan tidak hanya datang dari posisi otoritas, tetapi juga dari norma dan
ekspektasi yang dibangun dalam masyarakat—termasuk dalam UKM (Foucault, 1980).
Anda mungkin berpikir bahwa Anda memilih jalan ini, tetapi kenyataannya, Anda
hanya mengikuti jejak yang telah ditentukan untuk Anda, tanpa menyadarinya.
Akan
ada momen ketika Anda menyadari bahwa untuk keluar dari ketergantungan ini,
Anda harus terlebih dahulu mengakui bahwa Anda telah dibentuk oleh narasi orang
lain. Itu adalah momen yang mengguncang, sebuah pencerahan yang penuh dengan
ketegangan, kebingungan, dan perasaan kehilangan kendali. Tetapi apakah Anda
akan menerima kenyataan itu, atau melanjutkan untuk hidup dalam bayang-bayang
yang telah diciptakan untuk Anda?
Pada
awalnya, semua terasa seperti rumah. Organisasi ini menerima Anda, dengan
tangan terbuka, menawarkan kenyamanan, kehangatan, seolah-olah Anda adalah
bagian dari keluarga yang sudah lama tidak bertemu. Ada aturan yang tak
tertulis, tapi Anda tahu, ini semua bagian dari "penyesuaian budaya"
yang perlu Anda pahami, bukan? Mereka memberi Anda kesempatan untuk berkembang,
memberi Anda alat yang seolah-olah akan membantu Anda meraih tujuan-tujuan
besar. Semua tampaknya sesuai dengan janji awal, janji tentang kemajuan,
tentang sukses yang bisa dicapai bersama. Namun, seiring berjalannya waktu,
apakah Anda mulai merasakan sesuatu yang berbeda? Sebuah kejanggalan yang
merayap, perlahan, namun pasti.
Namun,
di balik semua itu, apakah Anda pernah berhenti sejenak untuk mempertanyakan
seberapa penting sebenarnya UKM dan organisasi ini dalam membentuk karakter
Anda? Bukankah sebenarnya, Anda hanya diajari untuk bertahan dalam sistem
yang rapuh, bukan untuk berkembang? Anda mungkin berpikir bahwa Anda sedang
membangun keterampilan, memperluas jaringan, atau mengasah kemampuan yang akan
berguna di masa depan. Namun, bagaimana jika itu hanya ilusi? Anda
ditanamkan dengan gagasan bahwa keberhasilan Anda bergantung pada kemampuan
untuk bertahan di dalam lingkaran ini, padahal kenyataannya, dunia yang lebih
besar di luar sana tidak peduli tentang status Anda dalam organisasi.
Apa
yang diajarkan kepada Anda di dalam organisasi ini bukanlah tentang ketangguhan
sejati. Itu bukan tentang bagaimana bertahan hidup di dunia nyata, di mana
keputusan sulit harus diambil, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat
adalah kunci untuk bertahan hidup. Ini hanya mengajarkan Anda untuk bertahan
dalam sebuah rutinitas yang berulang, mengikuti arus, dan menjadi bagian dari
sistem yang tidak pernah benar-benar menguji kekuatan mental Anda. Ketangguhan
yang diajarkan di sini adalah ketangguhan palsu, yang hanya mempersiapkan Anda
untuk hidup dalam sebuah sistem yang sudah diprogram untuk menjaga Anda tetap
terikat pada ilusi tersebut.
Bayangkan,
untuk sesaat, jika Anda berada di luar lingkaran ini, jauh dari semua yang Anda
kenal, tanpa dukungan sistem ini. Apakah Anda akan mampu bertahan?
Apakah Anda benar-benar siap untuk menghadapi kerasnya dunia yang tidak memberi
Anda ruang untuk bertahan hidup dengan cara yang mudah? Apa yang Anda pelajari
di sini tidak mempersiapkan Anda untuk itu. Ia hanya membuat Anda bergantung
pada jalan yang sudah ada, pada cara yang sudah terbentuk, seolah-olah Anda
tidak pernah bisa menemukan cara lain.
Apakah
Anda benar-benar ingin menjadi seseorang yang hanya mampu bertahan di dalam
sistem ini, atau Anda ingin menguji kemampuan Anda untuk bertahan hidup dalam
dunia yang jauh lebih keras, tanpa pelindung yang diberikan oleh organisasi
ini?
Anda telah diajarkan untuk menerima kenyataan yang sudah ada, bukan untuk
menciptakan kenyataan Anda sendiri. Anda mungkin tidak menyadarinya, tetapi
mereka telah membuat Anda merasa seolah-olah ini adalah satu-satunya jalan yang
bisa diambil. Dan Anda merasa seperti tidak ada jalan keluar, bukan?
Saat
Anda berada di posisi anggota baru, apakah Anda tidak merasa seperti ada
tekanan yang tak terlihat, yang membuat Anda terus bergerak, seperti mesin yang
tak pernah berhenti? Seiring berjalannya waktu, saat Anda mencapai posisi
senior menengah, mungkin Anda mulai melihat pola yang tak bisa diabaikan. Semua
tindakan tampak berulang, semuanya terasa statis. Tidak ada lagi kejutan, tidak
ada lagi perubahan signifikan. Anda hanya terjebak dalam rutinitas yang
membosankan. Ketika Anda naik menjadi senior tua, apakah Anda mulai merasakan
pemborosan waktu yang tak terbendung? Anda mengabdikan diri, bertaruh segala
yang Anda miliki, semua demi pencapaian kontrak awal yang dijanjikan. Tetapi
pada akhirnya, apakah Anda mendapatkan apa yang Anda harapkan? Atau apakah Anda
hanya merasa seperti bagian dari mesin yang semakin usang?
Cobalah
untuk menenangkan diri sejenak dan pikirkan ini: Apakah itu benar-benar
pilihan Anda? Anda mungkin berpikir bahwa Anda memilih jalan ini karena
kesempatan besar yang mereka tawarkan, tetapi apakah Anda pernah bertanya,
apakah Anda memilih jalan ini dengan bebas? Atau, seperti mereka yang datang
sebelum Anda, Anda hanya mengikuti jejak mereka tanpa benar-benar melihat ke
arah yang Anda tuju? Tanyakan pada diri Anda, apakah Anda benar-benar berusaha
mencapai tujuan pribadi, atau apakah Anda telah diprogram untuk percaya bahwa
ini adalah satu-satunya jalan yang bisa Anda ambil? Anda mungkin tidak ingin
mengakui, tetapi apakah tidak ada sedikit pun rasa bersalah dalam diri Anda?
Sebuah rasa bersalah yang perlahan menggerogoti keyakinan Anda bahwa ini adalah
pilihan terbaik untuk masa depan Anda.
Dalam
dunia yang penuh dengan tuntutan, kita cenderung lupa bahwa kita selalu
memiliki pilihan—pilihan untuk mengatakan "cukup." Namun, bagaimana
jika pilihan tersebut sebenarnya hanyalah ilusi? Sebuah kebohongan kecil yang
telah ditanamkan dalam benak Anda sejak awal. Seperti yang dijelaskan oleh
teori psikologi sosial, kita sering kali merasa terikat oleh "norma
sosial" yang tidak kita sadari telah membentuk kita. Kebiasaan untuk
mengikuti alur, untuk tidak pernah mempertanyakan, adalah bagian dari pola yang
sengaja diciptakan. Bagaimana jika semua ini sebenarnya bukan tentang Anda?
Tentang apa yang Anda inginkan atau butuhkan, melainkan tentang apa yang mereka
inginkan dari Anda? Dalam teori ketergantungan sosial, kita sering kali
terperangkap dalam sistem di mana setiap langkah kita sudah diprediksi, kita
hanya merasa bisa memilih ketika pada kenyataannya, pilihan kita sudah tergerus
oleh pengaruh luar yang tidak terlihat.
Namun,
jangan terburu-buru berpikir bahwa Anda sendirian dalam ini. Mereka yang telah
lebih lama di sini mungkin berkata, "Ini semua bagian dari proses. Kamu
harus melalui ini, jika ingin mencapai apa yang kita capai." "Kamu
tahu kan? Kamu butuh mereka lebih dari mereka butuh kamu." Mungkin
mereka tidak langsung mengatakan itu, tapi kata-kata mereka, nada mereka,
semuanya seolah-olah dirancang untuk membuat Anda merasa terjebak, untuk
membuat Anda percaya bahwa keluar dari sistem ini adalah sebuah kegagalan,
sebuah penolakan terhadap sesuatu yang lebih besar dari diri Anda.
Dan
kini, di titik ini, Anda mulai bertanya pada diri sendiri: Apakah ini semua
benar-benar seburuk yang saya kira? Tidak ada yang bisa Anda lakukan untuk
mengubahnya, bukan? Anda telah terjebak dalam permainan ini. Mereka telah
berhasil mengatur Anda dalam lingkaran yang tak berujung—sistem yang membuat
Anda merasa bahwa setiap upaya Anda, setiap detik yang Anda habiskan, adalah
bagian dari pengorbanan yang mulia, padahal sebenarnya itu hanyalah ilusi. Persepsi
Anda mulai retak, dan Anda perlahan menyadari bahwa apa yang Anda percayai
sebagai kenyataan hanyalah sebuah permainan besar yang dimainkan oleh mereka
yang lebih berkuasa.
Namun,
Anda mulai merasa seperti bagian dari dunia yang tidak Anda kenali. Apa yang
Anda anggap sebagai kebenaran mulai bergeser, dan Anda tidak tahu lagi mana
yang nyata dan mana yang hanya ilusi. Pikiran Anda semakin kabur, dan Anda
mulai bertanya-tanya: apakah ini adalah jalur yang benar-benar Anda pilih, atau
apakah Anda hanya mengikuti langkah-langkah orang lain tanpa menyadarinya? Anda
merasa seperti sedang berjalan di atas jembatan yang rapuh, dengan pandangan
yang buram tentang apa yang ada di depan Anda.
Akhirnya, Anda mencapai titik di mana semuanya terasa kosong, dan Anda harus memilih. Apakah Anda akan terus mengikuti sistem ini, ataukah Anda akan memutuskan untuk berhenti dan mempertanyakan semuanya? Tetapi, di sinilah ketegangan datang. Di sini Anda merasa seperti ada sesuatu yang lebih besar, lebih kuat, yang menahan Anda tetap berada di jalur ini. Apakah Anda siap untuk menghadapi kenyataan bahwa Anda mungkin telah terperangkap dalam permainan ini sejak awal?
Apa dengan tidak mengikuti kegiatan UKM apa iya membuat jalan mahasiswa untuk mencapai relasi yang lebih luas akan terhambat? Sepenting itu kah mengikuti UKM bagi mahasiswa menurut penulis? Dimana pengalaman kerja sama dan leadership bisa ditemukan di organisasi lain diluar naungan kampus atau bisa pula dengan menyambi pekerjaan part time yang mana diluar naungan kampus. Atau apakah pengalaman UKM akan lebih membantu? Terimakasih..
BalasHapusPenting tidaknya setiap individu akan berbeda, bagi saya sendiri selagi masih ada tempat lain, mengapa harus memaksakan pada tempat itu. Karena pengalaman sebenarnya datang dari tekanan dan pengalam yang bisa kita peroleh dari berbagai aspek juga berbagai sektor pada kehidupan ini. Jika memang itu penting, maka itu penting bagi mereka yang mengawali dalam menjalin relasi dengan orang lain, dalam artian penting bagi mereka yang tidak memiliki keberanian dalam melampaui ketakutan mereka sendiri. Karena bagi saya sendiri dorongan merupakan aspek penting untuk bangkit, dan dorongan dapat kita peroleh salah satunya dari organisasi tertentu yang sejalan dengan pemikiran kita. Bagaimana menurut anda?
Hapus