Perspectives 13
Mereka
menyebutnya "alpha woman." Wanita yang tahu apa yang dia inginkan.
Yang berdiri tegak di tengah keramaian, tidak menunggu izin, tidak meminta
persetujuan. Dia memimpin. Dia percaya diri. Dia mandiri. Dia berjalan dengan
langkah yang pasti, seolah dunia adalah ruang yang harus dia taklukkan.
Orang-orang
berbicara tentangnya. Mereka mengaguminya. Mereka membencinya. Mereka
bertanya-tanya, apakah dia terlalu kuat? Terlalu ambisius? Apakah ini hal yang
baik atau buruk? Itu tidak penting. Dia tetap melangkah.
Dulu,
dunia berkata wanita harus tunduk. Harus menunggu. Harus mendukung, bukan
memimpin. Tapi zaman berubah. Pendidikan membuka pintu. Kesetaraan gender
menjadi lebih dari sekadar kata-kata. Wanita mulai berdiri di garis depan,
bukan hanya di belakang layar (Smith & Jones, 2022).
Mereka
berjuang untuk kemandirian finansial, untuk kebebasan berpikir, untuk hak
mereka atas dunia yang sama. Dan lahirlah fenomena ini. "Alpha
woman." Apakah itu label atau kenyataan? Mungkin keduanya. Tapi satu hal
pasti: mereka ada di sini. Dan mereka tidak akan pergi begitu saja (Taylor,
2023).
Jadi,
apakah ini ancaman? Atau hanya ketakutan lama yang muncul kembali? Mungkin
bukan pertanyaan apakah dunia siap untuk mereka. Mungkin pertanyaannya, kapan
dunia akan berhenti mempertanyakan keberadaan mereka?
Dalam
beberapa dekade terakhir, narasi tentang wanita telah mengalami pergeseran.
Dahulu, peran mereka sering kali terbatas sebagai ibu, pendamping, atau
pengelola rumah tangga. Kini, wanita didorong untuk memimpin, mengambil
keputusan, dan menuntut ruang yang lebih besar dalam karier serta kehidupan
pribadi. Kata "sukses" tidak lagi hanya dikaitkan dengan peran
domestik, tetapi juga dengan pencapaian profesional, pengaruh sosial, dan
kemandirian finansial. Namun, dengan perubahan ini, muncul beban yang mungkin
tidak Anda sadari telah menggerogoti persepsi Anda sendiri.
Wanita
yang dominan, yang berani menetapkan aturan dan bersikap tegas, sering disebut
sebagai "alpha." Mereka dihormati, disegani, dan dijadikan panutan.
Namun, dunia tidak selalu ramah terhadap mereka. Hari ini Anda dipuji, besok
Anda bisa dianggap terlalu agresif, terlalu ambisius, terlalu
"maskulin." Di mana batasnya? Siapa yang menentukan kapan
kepemimpinan Anda berubah menjadi keegoisan? Apakah Anda benar-benar memiliki
kendali atas bagaimana orang lain memandang Anda?
Pernahkah
Anda merasakan bisikan halus dalam pikiran yang mempertanyakan: "Apakah
saya berlebihan? Apakah saya terlalu keras?" Itu bukan sekadar kecemasan
pribadi. Itu adalah efek dari disonansi kognitif—konflik antara bagaimana Anda
memandang diri sendiri dan bagaimana dunia menuntut Anda untuk menyesuaikan
diri. Festinger (1957) mengungkapkan bahwa manusia akan mengalami
ketidaknyamanan psikologis ketika kepercayaan dan tindakan mereka tidak
selaras. Maka, Anda pun mulai ragu. Apakah benar kepemimpinan Anda adalah
kekuatan, atau justru sebuah kutukan?
Perlahan,
Anda belajar membaca situasi. Anda mulai meredam suara di ruang rapat, menarik
kembali opini yang tadinya ingin Anda lontarkan. Tidak ada yang memaksa secara
eksplisit, tetapi Anda tahu bahwa dunia lebih nyaman jika Anda sedikit lebih...
jinak. "Adaptasi sosial," demikian mereka menyebutnya. Namun, apakah
itu benar-benar adaptasi atau bentuk penundukan yang Anda lakukan secara
sukarela?
Lalu,
mari kita berandai-andai. Jika suatu saat Anda mulai membentuk dua versi dari
diri sendiri—satu yang berani berbicara dan satu yang belajar diam—mana yang
akan bertahan lebih lama? Mungkin tanpa sadar, Anda akan menyesuaikan peran,
memilih kata-kata dengan hati-hati, menekan bagian-bagian dari diri Anda yang
terlalu "kuat." Dan ketika itu terjadi, apakah Anda masih bisa
mengatakan bahwa Anda adalah pemimpin dalam hidup Anda sendiri?
Realitas
sosial memiliki cara yang halus dalam membentuk persepsi kita. Ia menyusup
tanpa disadari, menanamkan gagasan-gagasan yang perlahan menjadi milik
kita—atau setidaknya, itulah yang kita yakini. Tapi benarkah itu? Apakah Anda
benar-benar tahu mengapa Anda mengambil keputusan tertentu? Atau apakah
pilihan-pilihan itu sudah dipetakan untuk Anda jauh sebelum Anda menyadarinya?
Mari
kita bicara tentang ilusi kebebasan. Anda mungkin percaya bahwa Anda adalah
individu yang independen, bahwa setiap langkah yang Anda ambil adalah cerminan
dari kehendak bebas. Tapi coba pikirkan sejenak: berapa banyak keputusan yang
Anda buat berdasarkan apa yang benar-benar Anda inginkan, bukan berdasarkan
ekspektasi sosial yang tertanam dalam kesadaran Anda sejak lama? Teori
determinisme sosial menjelaskan bahwa individu sering kali tidak menyadari
sejauh mana lingkungan membentuk tindakan dan pemikirannya (Bandura, 2018).
Dengan kata lain, Anda mungkin tidak pernah benar-benar memilih—Anda hanya
mengikuti pola yang telah ditentukan.
Lihat
bagaimana konsep wanita modern dibentuk. Anda mungkin pernah mendengar istilah
‘alpha woman’—simbol kekuatan, kemandirian, dan dominasi dalam dunia
profesional. Figur ini dielu-elukan, dianggap sebagai manifestasi dari kemajuan
perempuan. Namun, apakah ini benar-benar sebuah kebebasan? Atau apakah ini
hanya standar baru yang harus dipatuhi, menggantikan ekspektasi lama dengan
tekanan baru yang lebih subtil?
Perubahan
ini membawa harga yang tidak selalu terlihat di permukaan. Tekanan untuk
menjadi segalanya—pemimpin, profesional sukses, individu yang mandiri, tetapi
tetap memenuhi ekspektasi sosial lainnya—bisa menjadi beban yang lebih besar
dari yang Anda sadari. Kajian psikologi sosial menunjukkan bahwa individu yang
merasa harus terus memenuhi ekspektasi tinggi cenderung mengalami cognitive
dissonance—konflik antara nilai internal dan tekanan eksternal (Festinger,
2019). Anda mengatakan bahwa Anda ingin kebebasan, tetapi mengapa Anda tetap
merasa terperangkap dalam ketidakpuasan? Mengapa semakin Anda mendekati
‘ideal’, semakin besar kekosongan yang Anda rasakan?
Ketika
Anda merasa bahwa dunia memberi Anda pilihan, tanyakan pada diri Anda: apakah
itu benar-benar pilihan, atau hanya ilusi yang diciptakan agar Anda tetap
berada dalam kendali yang tak kasatmata? Konsep ‘self-determination’ dalam
psikologi menekankan pentingnya otonomi dalam keputusan seseorang, tetapi
sistem sosial sering kali memanipulasi persepsi individu terhadap kebebasan
mereka sendiri (Deci & Ryan, 2020). Jadi, ketika Anda berpikir telah
memilih jalan Anda sendiri, sejauh mana Anda yakin bahwa itu benar-benar
keputusan Anda?
Anda
boleh saja menyangkalnya. Anda boleh percaya bahwa Anda berada di puncak
kendali. Tapi bisakah Anda membuktikan bahwa setiap langkah yang Anda ambil
adalah hasil dari kehendak Anda sendiri, tanpa campur tangan kekuatan yang
tidak terlihat?
Mungkin
sudah waktunya untuk bertanya: apakah Anda hidup dengan memilih, atau hanya
memilih untuk hidup dalam sistem yang sudah memilihkan segalanya untuk Anda?
Anda
menyebutnya inspirasi. Saya menyebutnya delusi. Anda terobsesi dengan gagasan
menjadi seorang "alpha woman," seakan-akan itu adalah tiket emas
menuju kesuksesan dan pengakuan. Anda ingin memimpin, mengendalikan, dan
menjadi pusat perhatian di mana pun berada. Namun, pernahkah Anda
bertanya—seberapa besar harga yang sudah Anda bayar?
Anda
menginginkan penghormatan dan kekaguman. Namun, di mana batas antara kekaguman
dan ketakutan? Berapa banyak orang yang perlahan menjauh tanpa Anda sadari,
karena dalam perjalanan meraih dominasi, komunikasi yang Anda bangun berubah
menjadi perintah dan hubungan menjadi sekadar negosiasi.
Dunning-Kruger
Effect (Kruger & Dunning, 1999) menjelaskan bahwa mereka yang paling
percaya diri sering kali justru yang paling tidak menyadari keterbatasannya.
Dan Anda? Anda yakin bahwa ketegasan Anda mencerminkan kepemimpinan, bukan
bentuk keras kepala yang terselubung. Anda berpikir bahwa independensi adalah
kekuatan, bukan tembok yang tanpa sadar Anda bangun untuk menutupi kerentanan
diri.
Mengapa
keinginan akan kendali begitu mendominasi? Apa yang sebenarnya Anda khawatirkan
jika sesekali kendali itu diberikan kepada orang lain? Atau lebih jauh
lagi—apakah Anda takut bahwa tanpa kendali, eksistensi Anda tidak akan diakui
sama sekali?
Tidak
dapat disangkal bahwa menjadi seorang "alpha woman" bukanlah hal yang
mudah. Anda harus berjuang lebih keras, berbicara lebih lantang, dan
membuktikan bahwa Anda layak untuk berada di meja yang selama ini didominasi
oleh mereka yang memiliki lebih banyak kuasa. Namun, siapa yang menentukan
aturan tersebut? Dan mengapa Anda bersedia menjalankan permainan yang sejatinya
telah membentuk batasan yang tidak Anda ciptakan sendiri?
Anda
mungkin percaya bahwa kesuksesan seorang "alpha woman" ditentukan
oleh sejauh mana ia dapat menaiki tangga hierarki sosial dan profesional.
Namun, bagaimana jika sorotan lampu telah padam, ruangan menjadi sunyi, dan
yang tersisa hanyalah bayangan Anda sendiri di cermin? Apakah semua pencapaian
itu masih memiliki makna? Ataukah keheningan tersebut justru mengisyaratkan
bahwa keberhasilan yang Anda kejar hanyalah refleksi dari ekspektasi orang
lain?
Mungkin
Anda ingin percaya bahwa setiap langkah yang Anda ambil, setiap keputusan yang
Anda buat, adalah milik Anda sepenuhnya. Bahwa kehendak bebas adalah hak mutlak
yang tak tersentuh. Namun, tidakkah terasa aneh bagaimana pilihan-pilihan itu
sejalan dengan harapan yang ditanamkan dalam benak Anda sejak kecil?
Seolah-olah Anda sedang memainkan peran dalam skenario yang telah disusun jauh
sebelum Anda bisa mengartikulasikan apa yang sebenarnya Anda inginkan.
Pikirkan
ini: apakah keinginan Anda benar-benar berasal dari diri sendiri, atau hanya
refleksi dari ekspektasi sosial yang telah Anda internalisasi tanpa disadari?
Teori determinisme sosial (Bourdieu, 1990) menunjukkan bahwa individu tidak
pernah benar-benar bebas; mereka dikondisikan oleh struktur yang mengatur
mereka. Dengan kata lain, Anda mungkin mengira telah memilih, padahal Anda
hanya mengikuti pola yang telah dirancang untuk Anda.
Mungkin
Anda menolak gagasan ini. Tentu, Anda merasa mandiri, kuat, dan tak
tergoyahkan. Anda adalah seorang "alpha woman"—begitulah sebutannya,
bukan? Percaya diri, ambisius, mampu memimpin. Namun, coba renungkan kembali:
apakah konsep ini benar-benar memberdayakan, atau hanya beban lain yang harus
Anda pikul? Dunia tidak membiarkan Anda hanya menjadi seorang individu; Anda
harus membuktikan diri, menunjukkan dominasi, memastikan bahwa kelembutan tidak
mengikis kredibilitas Anda. Bahkan dalam keberhasilan, Anda tetap terjebak
dalam lingkaran pembuktian tanpa akhir.
Sosiolog
Candace West dan Don Zimmerman (1987) dalam teori "doing gender"
mengungkapkan bahwa maskulinitas dan femininitas bukanlah sekadar sifat bawaan,
melainkan sesuatu yang dikonstruksi dan dipertahankan melalui interaksi sosial.
Maka, menjadi "alpha woman" tidak pernah sekadar tentang
kekuatan—tetapi tentang memenuhi peran yang telah ditetapkan bagi Anda dalam
dinamika kekuasaan yang lebih besar. Anda tidak pernah sekadar memilih; Anda
diajarkan untuk percaya bahwa inilah satu-satunya jalan.
Lalu,
bagaimana jika saya mengatakan bahwa pilihan Anda bukanlah milik Anda? Bahwa
Anda telah diarahkan untuk menerima label tertentu, mempercayai bahwa inilah
bentuk kekuatan yang Anda butuhkan? Konsep "illusion of choice" dalam
psikologi kognitif (Iyengar & Lepper, 2000) menunjukkan bahwa semakin
banyak opsi yang kita miliki, semakin kita percaya bahwa kita memiliki
kendali—padahal dalam kenyataannya, semua opsi itu telah dibatasi dalam
kerangka yang telah ditentukan.
Anda
mungkin merasa bebas, namun batas-batas itu ada. Tak terlihat, tapi nyata.
Jadi, saya bertanya sekali lagi: apakah Anda benar-benar memilih, atau hanya
mengikuti naskah yang telah disusun untuk Anda?
Refleksikan
ini. Jika jawaban yang muncul membuat Anda tidak nyaman, mungkin itulah
pertanda bahwa sesuatu selama ini telah mengendalikan Anda tanpa Anda sadari.
Apa
yang membuat Anda berpikir bahwa Anda benar-benar mengendalikan hidup Anda?
Bahwa setiap keputusan yang Anda ambil, setiap langkah yang Anda tempuh, adalah
hasil dari kebebasan mutlak yang Anda miliki? Mungkin, itu hanya ilusi. Anda
percaya bahwa menjadi seorang "alpha woman" berarti memegang kendali
penuh atas takdir, memimpin dengan keberanian, dan menentukan arah hidup
sendiri. Namun, apakah Anda yakin? Ataukah gagasan tersebut merupakan
konstruksi sosial yang telah tertanam dalam kesadaran Anda tanpa disadari?
Banyak
yang mengatakan bahwa menjadi seorang "alpha woman" tidak selalu
berarti berada di puncak kekuasaan. Seseorang dapat menjadi pendukung yang
kuat, memberikan energi bagi orang lain. Namun, pertanyaannya, apakah itu
benar-benar pilihan Anda? Atau sekadar cara lain agar Anda tetap berada dalam
kendali yang tersamar—mengira bahwa Anda bebas, padahal hanya memainkan peran
yang telah ditentukan?
Kesempurnaan
bukanlah tuntutan mutlak, setidaknya begitulah yang sering dikatakan. Setiap
individu memiliki kelemahan, termasuk Anda. Namun, benarkah Anda meyakini hal
tersebut? Ataukah itu hanya kata-kata yang diulang untuk memberikan rasa
nyaman? Dalam realitas sosial, perempuan yang kuat dan tak tergoyahkan sering
kali dipuja, sementara kelemahan dianggap sebagai sesuatu yang harus
disembunyikan. Jika demikian, mungkinkah gagasan menerima ketidaksempurnaan
justru merupakan mekanisme lain yang digunakan untuk menahan Anda tetap dalam
posisi tertentu—percaya bahwa Anda cukup, padahal selalu ada standar yang lebih
tinggi?
Anda
mengatakan bahwa seorang "alpha woman" dapat memilih jalannya
sendiri, tanpa harus mengikuti jalur yang telah ditetapkan orang lain. Namun,
sejauh mana jalan itu benar-benar merupakan pilihan Anda? Seberapa sering Anda
merasa keputusan yang diambil adalah refleksi dari keinginan pribadi, padahal
sejatinya hanya reaksi terhadap ekspektasi sosial yang telah tertanam sejak
lama? Dalam teori kognitif sosial (Bandura, 2018), konsep self-efficacy
memainkan peran penting dalam persepsi seseorang terhadap kemampuannya
mengendalikan lingkungan dan menentukan nasibnya sendiri. Namun, teori ini juga
mengakui bahwa persepsi tersebut dapat dipengaruhi, bahkan direkayasa oleh
lingkungan sekitar. Jadi, apakah Anda benar-benar pemimpin bagi diri sendiri,
atau sekadar bagian dari sistem yang lebih besar?
Konsep
kebebasan memilih terdengar begitu menarik. Anda merasa memiliki kendali penuh
atas hidup, menentukan arah dan tujuan. Namun, seberapa banyak keputusan Anda
yang lahir dari kehendak murni, dan seberapa banyak yang diambil karena tekanan
sosial yang begitu subtil hingga tidak lagi terasa sebagai paksaan? Anda
menerima gagasan bahwa seorang "alpha woman" harus kuat, tetapi juga
harus menerima kelemahannya. Harus mandiri, tetapi juga harus mendukung orang
lain. Harus sukses, tetapi harus mendefinisikan kesuksesan menurut versinya
sendiri. Jika semua itu benar, mengapa masih ada perasaan tidak cukup? Mengapa
ada suara dalam benak yang terus mempertanyakan: Apakah saya benar-benar
menginginkannya, atau hanya meyakini bahwa saya harus menginginkannya?
Saya
tidak akan memberikan jawaban. Saya hanya akan meninggalkan pertanyaan ini
menggantung dalam pikiran Anda, mengendap dalam kesadaran, merayap dalam
ketidakpastian. Karena inilah yang terjadi ketika persepsi mulai bergeser,
ketika realitas yang Anda pegang mulai meretak sedikit demi sedikit. Anda
mungkin masih berpikir bahwa Anda tahu siapa diri Anda, apa yang Anda inginkan.
Namun, seiring waktu, mungkin Anda akan menyadari bahwa keyakinan tersebut
tidak pernah benar-benar sepenuhnya milik Anda sejak awal.
Anda
menyebut diri Anda seorang "alpha woman." Pemimpin. Pengendali. Tidak
ada yang dapat menggoyahkan keputusan Anda. Setidaknya, itulah yang ingin Anda
percayai. Namun, apakah keyakinan ini sepenuhnya benar? Atau justru sekadar
konstruksi sosial yang perlahan membentuk persepsi Anda tanpa disadari?
Menjadi
"alpha" sering kali dikaitkan dengan kemampuan untuk mengambil
tanggung jawab atas kehidupan sendiri dan merancang masa depan berdasarkan
nilai-nilai pribadi. Konsep ini selaras dengan agen moral dalam filsafat, yang
menekankan kebebasan individu untuk bertindak berdasarkan prinsip yang
diyakininya (Frankfurt, 2020). Namun, sejauh mana kebebasan tersebut
benar-benar berasal dari diri sendiri, dan sejauh mana ia dipengaruhi oleh
harapan serta norma sosial yang telah tertanam sejak lama?
Kemandirian
dianggap sebagai kekuatan utama, tetapi bisakah seseorang benar-benar mandiri
tanpa konsekuensi? Dalam teori keterikatan sosial, manusia tidak bisa
sepenuhnya melepaskan diri dari pengaruh lingkungan (Baumeister & Leary,
2017). Setiap keputusan yang tampaknya bersifat individual tetap memiliki
dampak terhadap orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pernahkah Anda mempertimbangkan bahwa pilihan yang Anda buat, betapapun
personalnya, mungkin telah membentuk realitas orang-orang di sekitar Anda?
Dalam
perspektif etika, konsep kebaikan sering kali berbenturan dengan kepentingan
pribadi (Singer, 2021). Anda mungkin beranggapan bahwa menjadi
"alpha" berarti mengejar kebahagiaan tanpa kompromi. Namun, bagaimana
jika kebahagiaan tersebut bergantung pada penyesuaian orang lain terhadap
keinginan Anda? Dalam kondisi seperti ini, apakah yang Anda capai benar-benar
kebahagiaan, ataukah sekadar dominasi dalam bentuk lain?
Sebagai
individu yang kuat dan mandiri, Anda mungkin merasa bahwa segala sesuatu berada
dalam kendali. Namun, dalam kesunyian, apakah Anda benar-benar merasa bebas?
Ataukah ada bisikan halus yang mempertanyakan setiap langkah yang telah Anda
ambil? Sebuah pertanyaan yang sering kali dihindari karena jawabannya
berpotensi mengubah segalanya: Jika semua ini adalah permainan yang Anda
ciptakan, lalu siapa sebenarnya yang memiliki kendali?
Mungkin
batas antara kebebasan dan jebakan yang diciptakan sendiri telah menjadi kabur.
Atau mungkin, Anda telah menyadarinya sejak awal—tetapi memilih untuk
mengabaikannya.
Anda
mungkin percaya bahwa menjadi seorang "alpha woman" berarti menguasai
dunia dengan keberanian, kekuatan, dan kemandirian mutlak. Itulah yang sering
diajarkan—bahwa untuk bertahan dalam lingkungan yang kompetitif, seseorang
harus menanggalkan kelemahan, menutup pintu bagi keraguan, dan mengasah
ketajaman hingga tak ada yang berani meragukan eksistensinya. Sebuah simbol
perlawanan terhadap patriarki. Sebuah kemenangan.
Namun,
setiap kemenangan memiliki konsekuensi. Ketika status dan kekuatan semakin
meningkat, interaksi sosial pun mulai berubah. Orang-orang di sekitar mungkin
terlihat mendukung, tetapi di balik itu, apakah mereka benar-benar mengagumi
atau sekadar menjaga jarak? Psikologi sosial menunjukkan bahwa individu dengan
posisi kepemimpinan yang tinggi cenderung mengalami keterasingan emosional yang
lebih besar dibandingkan mereka yang beroperasi dalam dinamika hubungan yang
lebih seimbang (Brown et al., 2022). Semakin tinggi seseorang mendaki, semakin
sunyi puncaknya. Maka, pertanyaannya bukan lagi apakah ini kemenangan,
melainkan apakah ini kebebasan yang sesungguhnya?
Konsep
"alpha woman" sering kali dikaitkan dengan pemberdayaan. Namun, dalam
perjalanan menuju kekuatan, muncul dilema: Jika seseorang tidak boleh
menunjukkan kelemahan, di mana letak kebebasan? Jika harus selalu berkompetisi,
kapan merasa cukup? Jika kekuatan yang dikejar berarti menyingkirkan kelembutan
dan empati, apakah ini bukan sekadar bentuk dominasi lain dalam kemasan yang
berbeda?
Psikologi
kognitif membahas fenomena "dissonansi kognitif" (Festinger, 1957),
di mana individu memaksakan keyakinan baru untuk merasionalisasi tindakan
mereka, bahkan jika keyakinan itu bertentangan dengan nilai-nilai awal mereka.
Dalam konteks ini, pertanyaan mendasar pun muncul: Apakah jalan yang ditempuh
benar-benar mencerminkan kehendak pribadi, atau sekadar adaptasi terhadap
tuntutan sosial yang terus berubah?
Kepastian
mungkin memberikan rasa nyaman, tetapi ketidakpastianlah yang sering kali
mengungkap jati diri seseorang. Dengan semakin banyak pertanyaan yang muncul,
ada satu hal yang patut direnungkan: Mungkin selama ini kita hanya menjalankan
peran yang telah ditetapkan oleh norma sosial. Jika demikian, apakah masih ada
ruang untuk menciptakan jalan yang benar-benar autentik? Ataukah kita hanya
mengulangi pola yang sama dalam wujud yang berbeda?
Dalam
perspektif filsafat, konsep "alpha woman" sering kali dipandang
sebagai individu yang memiliki kendali atas hidupnya sendiri, bebas dari
belenggu ekspektasi sosial, dan berani menghadapi ketidakpastian. Namun, apakah
kebebasan itu benar-benar ada, atau hanya ilusi yang kita ciptakan untuk
meyakinkan diri sendiri?
Eksistensialisme
menekankan bahwa manusia lahir tanpa makna bawaan, dan tugas setiap individu
adalah membentuk serta memberikan arti pada kehidupannya. Seorang "alpha
woman" dalam konteks ini bukan sekadar sosok dominan atau berpengaruh,
melainkan individu yang memahami bahwa kebebasan selalu datang dengan tanggung
jawab moral. Ia tidak hanya menentukan jalannya sendiri, tetapi juga harus
menghadapi konsekuensi dari setiap keputusan yang diambilnya.
Namun,
konsep kebebasan ini membawa dilema tersendiri. Jika setiap keputusan
didasarkan pada otonomi pribadi, apakah kita benar-benar bebas, atau hanya
terperangkap dalam narasi yang kita ciptakan sendiri? Psikologi kognitif
menunjukkan bahwa manusia sering kali membentuk bias konfirmasi—kecenderungan
untuk hanya menerima informasi yang memperkuat keyakinan yang sudah ada
(Nickerson, 2021). Dalam konteks ini, seorang "alpha woman" mungkin
berpikir bahwa ia bertindak atas kehendaknya sendiri, padahal realitasnya, ia
hanya mengikuti pola sosial yang telah tertanam sejak lama.
Lebih
jauh, tanggung jawab moral yang ditekankan dalam eksistensialisme bukan sekadar
tentang keberanian menghadapi tantangan, tetapi juga tentang bagaimana
keputusan seseorang memengaruhi orang lain. Seorang "alpha woman"
yang sejati tidak hanya mengukir jalannya sendiri, tetapi juga memahami
bagaimana kehadirannya membentuk dunia di sekitarnya.
Jadi,
apakah menjadi "alpha woman" berarti memiliki kendali penuh atas
kehidupan? Ataukah itu hanya konstruksi psikologis yang membuat kita merasa
lebih kuat dari yang sebenarnya? Mungkin pertanyaan yang lebih mendasar adalah:
seberapa banyak dari diri kita yang benar-benar kita pilih, dan seberapa banyak
yang hanya refleksi dari dunia yang telah membentuk kita?
Anda
mungkin percaya bahwa diri Anda memahami identitas Anda sendiri. Bahwa konsep
"alpha woman" mencerminkan kekuatan dan kemandirian, sebuah
manifestasi dari individu yang tidak terpengaruh oleh norma sosial. Namun,
pernahkah Anda mempertanyakan siapa yang membentuk definisi tersebut? Apakah
keinginan untuk menjadi kuat benar-benar berasal dari dalam diri, ataukah
merupakan hasil dari konstruksi sosial yang perlahan tertanam dalam pola pikir
kita?
Dalam
perspektif strukturalisme, identitas tidak terbentuk dalam ruang hampa. Ia
merupakan hasil dari tanda dan simbol yang dikonstruksi oleh sistem sosial yang
lebih besar. "Alpha woman" bukanlah suatu hakikat yang melekat secara
alami, melainkan sebuah peran yang telah ditetapkan sebelumnya. Anda mungkin
merasa memiliki kebebasan untuk memilih, namun sesungguhnya Anda tengah
mengikuti pola yang telah dirancang secara halus oleh lingkungan dan budaya.
Konsep
kemandirian sering kali dikaitkan dengan penguasaan diri dan dominasi. Seorang
wanita yang kuat harus tampil percaya diri, memiliki kendali atas situasi,
serta menunjukkan keteguhan tanpa cela. Namun, siapa yang menentukan standar
tersebut? Dan yang lebih penting, apa konsekuensinya jika seseorang tidak
memenuhi ekspektasi tersebut?
Jika
Anda pernah merasa terbebani oleh keharusan untuk selalu membuktikan diri,
mungkin bukan karena Anda kurang kuat. Mungkin karena konsep yang Anda
perjuangkan tidak benar-benar memberikan kebebasan, melainkan sekadar
menciptakan ilusi kemandirian dalam batasan sosial yang masih mengikat. Sebab,
kekuatan yang dikendalikan oleh sistem bukanlah kekuatan yang sejati—melainkan
bentuk lain dari keterikatan.
Anda
percaya bahwa Anda memiliki kendali penuh atas siapa diri Anda? Bahwa identitas
yang Anda bangun—sebagai seorang "alpha woman" yang independen,
berani, dan tak tergoyahkan—adalah milik Anda sepenuhnya? Atau mungkinkah Anda
hanya mengikuti skrip yang telah ditulis untuk Anda sejak awal? Sebuah peran
yang diberikan, bukan dipilih?
Strukturalisme
tidak menawarkan kenyamanan bagi individu yang percaya pada kehendak bebas
mutlak. Ia menegaskan bahwa identitas bukanlah hasil dari keputusan pribadi
semata, melainkan produk dari struktur sosial yang lebih besar, tak terlihat,
tetapi mendikte. Setiap aspek dari kepribadian Anda, mulai dari ambisi hingga
cara Anda berbicara, berakar pada sistem yang lebih luas, yang membentuk dan
membatasi Anda tanpa disadari. Maka, seberapa banyak dari diri Anda yang
benar-benar asli? Atau apakah Anda sekadar manifestasi dari ekspektasi yang
lebih besar?
Fenomena
"alpha woman" adalah contoh sempurna dari ilusi kendali. Anda
diberitahu bahwa menjadi mandiri adalah kekuatan, bahwa mengambil peran
kepemimpinan adalah bentuk pemberdayaan. Tapi pertanyaannya: siapa yang
mendapat manfaat dari keyakinan ini? Apakah Anda benar-benar menjadi penguasa
atas hidup Anda, atau justru tanpa sadar mengikuti pola yang telah dirancang
untuk memastikan keseimbangan sosial tetap terjaga?
Teori
kontrol sosial (Hirschi, 2019) menyoroti bagaimana individu dikendalikan bukan
melalui paksaan langsung, tetapi melalui keterikatan mereka pada norma dan
ekspektasi masyarakat. Dalam konteks ini, konsep "alpha woman"
berfungsi sebagai alat untuk menciptakan ilusi kebebasan. Anda percaya bahwa
Anda mendefinisikan diri sendiri, padahal pada kenyataannya, Anda menjalankan
narasi yang telah ditanamkan ke dalam sistem.
Namun,
kepercayaan ini tidak datang tanpa konsekuensi. Semakin keras Anda menolak
struktur yang ada, semakin besar harga yang harus dibayar—alienasi sosial,
keterasingan, bahkan kehilangan diri sendiri. Seberapa jauh Anda bersedia pergi
untuk mempertahankan kendali yang mungkin tidak pernah Anda miliki sejak awal?
Jika
Anda benar-benar bebas, mengapa Anda masih terikat pada ekspektasi tertentu?
Mengapa keberhasilan Anda diukur dari sejauh mana Anda mampu menyesuaikan diri
dengan citra yang telah dikonstruksi untuk Anda? Atau mungkin, justru dalam
keyakinan bahwa Anda bebas itulah letak manipulasi yang paling halus?
Sosiolog
Pierre Bourdieu (2020) berargumen bahwa habitus—kumpulan kebiasaan dan pola
pikir yang terbentuk dalam struktur sosial—membentuk cara kita memandang diri
sendiri dan dunia. Apa yang Anda anggap sebagai keputusan pribadi sebenarnya
adalah hasil dari internalisasi nilai-nilai eksternal. Dengan kata lain, konsep
"alpha woman" bukanlah ekspresi kebebasan, tetapi strategi adaptasi
terhadap struktur yang lebih besar.
Maka,
pada akhirnya, ini bukan tentang apakah Anda ingin menjadi "alpha
woman" atau tidak. Ini tentang apakah Anda sadar bahwa pilihan itu mungkin
tidak pernah benar-benar menjadi milik Anda.
Sekarang,
tanyakan pada diri Anda: Apakah Anda yang mengendalikan narasi ini? Atau hanya
memainkan peran dalam skenario yang lebih besar, yang tidak pernah Anda tulis
sendiri?
Bayangkan
ini: Anda berdiri di puncak pencapaian, sebuah simbol keberhasilan yang diraih
dengan keringat dan keteguhan hati. Orang-orang menatap Anda dengan campuran
kekaguman dan kecemasan. Anda adalah "alpha woman"—mandiri, tangguh,
dan tak tergoyahkan. Namun, benarkah itu? Atau mungkin Anda hanya bagian dari
mekanisme sosial yang lebih besar, diprogram untuk percaya bahwa dominasi
adalah satu-satunya jalan menuju keberhasilan?
Di
era yang memuja individualisme, konsep alpha woman sering kali didorong sebagai
bentuk pemberdayaan. Namun, apakah itu benar-benar bentuk kebebasan, atau
justru jebakan halus yang semakin memperkuat isolasi? Semakin kuat Anda berdiri
sendiri, semakin jauh Anda dari orang lain. Ironis, bukan? Bahwa keberhasilan
yang dikejar demi kebebasan justru menciptakan keterasingan yang lebih dalam.
Jean
Baudrillard (2019) pernah menyinggung bahwa dalam masyarakat postmodern,
identitas bukan lagi sesuatu yang organik, melainkan konstruksi yang
dimanipulasi oleh sistem. Anda mungkin merasa berkuasa, tetapi realitasnya,
peran yang Anda jalani telah dirancang agar Anda terus bermain dalam kompetisi
tanpa akhir. Ketika Anda mendefinisikan diri sebagai seorang alpha woman, Anda
sesungguhnya sedang menginternalisasi standar yang bukan milik Anda.
Solidaritas
sosial melemah seiring meningkatnya individualisme. Konsep “perempuan kuat”
yang dielu-elukan, tanpa disadari, dapat memicu kesenjangan sosial baru. Dalam
hubungan interpersonal, seseorang yang selalu berada dalam posisi dominan
sering kali kesulitan membentuk koneksi yang setara. Keberhasilan yang terlalu
berpusat pada diri sendiri dapat mengikis empati dan merusak keseimbangan
hubungan. Ketika seseorang begitu terfokus pada pencapaiannya, tanpa sadar ia
menciptakan jarak dengan lingkungannya. Lalu, kapan terakhir kali Anda
benar-benar mendengarkan seseorang tanpa memikirkan bagaimana hal itu
memengaruhi posisi Anda?
Claude
Lévi-Strauss (2021) dalam kajian strukturalismenya menegaskan bahwa individu
tidak pernah benar-benar bebas dari struktur sosial yang membentuk mereka. Kita
bukanlah entitas yang terpisah dari masyarakat, melainkan bagian dari jejaring
yang lebih besar. Alpha woman, dalam konteks ini, bukan sekadar individu yang
berhasil, melainkan produk dari konstruksi sosial yang mengharuskannya
demikian. Namun, pernahkah Anda mempertanyakan berapa harga yang harus dibayar
untuk menjadi seseorang yang dianggap berhasil oleh standar eksternal?
Setiap
pilihan memiliki konsekuensi. Menjadi alpha woman bukan hanya tentang kekuatan
dan kemandirian, tetapi juga tentang kesepian yang sering kali menyertainya.
Anda mungkin tidak menyadarinya sekarang, tetapi coba tanyakan pada diri
sendiri: apakah kebebasan ini benar-benar milik Anda, atau sekadar peran yang
diberikan pada Anda agar sistem tetap berjalan sebagaimana mestinya?
Dan
jika suatu saat Anda menyadari bahwa kendali yang Anda pikir milik Anda
hanyalah ilusi, akankah Anda memiliki keberanian untuk melepaskannya? Atau
apakah Anda akan tetap bertahan, menggenggam erat identitas yang mungkin tak
pernah benar-benar Anda pilih sejak awal?
Gale
Leo, seorang penulis dan pengamat sosial, menganggap bahwa fenomena "alpha
woman" dapat memiliki dampak negatif pada kehidupan wanita dan masyarakat
secara keseluruhan. Gale Leo tidak pernah berniat untuk membongkar ilusi.
Setidaknya, bukan sejak awal. Dia hanya mengamati, mencatat, dan mengajukan
pertanyaan yang tak seorang pun mau jawab dengan jujur. Jika kita hidup di era
di mana wanita harus menjadi "alpha" untuk diakui, bukankah itu
artinya kita sudah kalah? Kalah dalam permainan yang tidak pernah benar-benar
kita pilih untuk dimainkan (Leo, 2019).
Siapa
yang menciptakan konsep "alpha woman"? Masyarakat? Feminisme? Atau
kita sendiri yang menginternalisasi ekspektasi tak kasat mata itu? Leo
mengangkat satu demi satu lapisan realitas yang kita terima tanpa pertanyaan.
Ia tidak memprovokasi secara frontal—tidak, itu terlalu mudah. Sebaliknya, ia
membiarkan kata-katanya menggantung, seperti bayangan di sudut mata yang tak
pernah bisa ditangkap sepenuhnya.
Wanita
yang mengejar dominasi dalam ruang kerja, yang menekan kelembutannya demi
diakui, benar-benar merdeka—atau hanya menciptakan penjara baru dengan nama
berbeda?
Pikiran
itu mengganggu, bukan? Karena jika benar, maka setiap pencapaian, setiap
promosi, dan setiap kali kita memaksakan diri untuk lebih keras, lebih cepat,
lebih kuat, mungkin bukan kemenangan. Mungkin itu hanya bentuk baru dari
kelelahan kronis yang kita bungkus dengan istilah "kesuksesan."
Leo
tidak mengatakan wanita tidak boleh ambisius. Tidak, dia tidak sebodoh itu. Ia
hanya bertanya: berapa harga yang harus dibayar? Berapa banyak jam tidur yang
terbuang, berapa banyak hubungan yang ditinggalkan, berapa banyak kelelahan
yang ditahan demi memenuhi identitas yang dibentuk oleh tuntutan eksternal?
Beberapa
akan menyangkal. Mereka akan berkata bahwa menjadi "alpha" adalah
pilihan sadar, kebanggaan, bentuk kebebasan. Tapi bisakah seseorang benar-benar
bebas jika setiap langkah mereka dikendalikan oleh ketakutan tak terlihat?
Takut dianggap lemah. Takut tidak cukup. Takut jika berhenti sejenak, dunia
akan berlari mendahului mereka dan tak pernah menoleh kembali.
Dan
di antara semua ini, ada pertanyaan yang lebih menghantui. Jika seorang wanita
tidak ingin menjadi "alpha," jika dia memilih hidup dengan ritme yang
lebih lambat, lebih lembut, apakah dia kehilangan nilai? Ataukah dia justru
orang yang lebih bebas di antara kita semua?
Penelitian
menunjukkan bahwa ekspektasi peran gender dapat menciptakan beban psikologis
yang tak kasat mata (Eagly & Wood, 2020). Studi lain menunjukkan bahwa
wanita dengan tekanan tinggi untuk tampil dominan dalam lingkungan kerja sering
mengalami peningkatan kecemasan dan depresi akibat ketidaksesuaian identitas
(West et al., 2021). Bukankah itu menarik? Kita selalu berbicara tentang
kebebasan, tetapi semakin keras kita mencoba mewujudkannya, semakin banyak
rantai yang kita ciptakan sendiri.
Jadi,
Gale Leo bertanya sekali lagi, bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menanamkan
sesuatu yang lebih halus: apakah kita benar-benar memilih menjadi
"alpha," atau kita hanya memainkan peran dalam skenario yang sudah
ditulis lama sebelum kita menyadarinya?
Erik
Erikson, seorang psikolog perkembangan, menguraikan bahwa kehidupan manusia
terdiri dari delapan tahap perkembangan psikososial, masing-masing dengan
tantangan unik yang dapat menentukan kesejahteraan psikologis individu. Dalam
konteks fenomena alpha woman, Erikson mengidentifikasi potensi konflik yang
muncul ketika seorang wanita dengan kepemimpinan kuat harus menyeimbangkan
ekspektasi sosial dan perkembangan pribadinya.
Pada
tahap masa dewasa awal, individu dihadapkan pada dilema antara keintiman dan
isolasi (Erikson, 1963). Mereka yang berhasil membangun hubungan yang mendalam
cenderung merasakan keterikatan emosional dan kepuasan sosial. Namun, bagi
seorang alpha woman, ambisi dan dedikasi terhadap pencapaian pribadi dapat
menjadi penghalang dalam membangun koneksi yang bermakna. Studi menunjukkan
bahwa fokus yang terlalu besar pada kesuksesan profesional dapat berkontribusi
pada keterasingan emosional yang tak disadari, membuat individu tampak tak
tersentuh meskipun dalam realitasnya ia mungkin merasa kesepian (Luyckx et al.,
2008).
Selanjutnya,
pada tahap masa dewasa tengah, individu menghadapi konflik antara produktivitas
dan stagnasi. Erikson menekankan pentingnya kontribusi dalam berbagai aspek
kehidupan—karir, keluarga, dan masyarakat—untuk mencapai keseimbangan yang
sehat. Alpha woman sering kali mampu mencapai tingkat produktivitas tinggi,
tetapi justru karena standar keberhasilan yang ia tetapkan sendiri, ada potensi
munculnya ketidakpuasan yang mendalam. Meskipun pencapaian objektifnya luar
biasa, sering kali ada perasaan bahwa apa yang telah diraih belum cukup,
seolah-olah ada standar tak kasat mata yang terus menjauhinya.
Dalam
tahap perkembangan akhir, Erikson menyoroti tantangan antara integritas dan
putus asa. Ini adalah fase refleksi, di mana individu mengevaluasi makna
hidupnya. Seorang alpha woman yang terus-menerus mengejar kesuksesan tanpa
memberikan ruang bagi refleksi dan penerimaan diri dapat terjebak dalam siklus
kelelahan mental. Rasa putus asa muncul ketika ia menyadari bahwa pencapaian
materi dan status sosial tidak serta-merta memberikan kepuasan batin. Harapan
akan validasi eksternal menjadi seperti bayangan yang selalu mendahuluinya
tetapi tak pernah dapat disentuh.
Dalam
masyarakat yang mengagungkan produktivitas dan kepemimpinan, alpha woman sering
kali dijadikan simbol kekuatan. Namun, Erikson mengingatkan bahwa keseimbangan
antara ambisi dan tugas perkembangan psikologis adalah kunci kebahagiaan
sejati. Tanpa refleksi yang cukup, pencapaian yang terus dikejar dapat berubah
menjadi jebakan eksistensial yang berujung pada kehilangan makna hidup. Mungkin
pertanyaannya bukan lagi tentang seberapa banyak yang bisa dicapai, tetapi
tentang apakah yang telah dicapai benar-benar membawa kebahagiaan.
Bayangkan
sejenak, Anda duduk dalam keheningan, merenungkan siapa diri Anda sebenarnya.
Pernahkah Anda merasa bahwa keberhasilan yang Anda kejar, kebebasan yang Anda
banggakan, justru membawa Anda ke dalam isolasi yang perlahan-lahan
menggerogoti diri sendiri? Anda ingin percaya bahwa Anda mengendalikan
segalanya, bahwa Anda tidak membutuhkan siapa pun. Namun, tidakkah aneh bahwa
semakin Anda mendekati puncak, semakin jauh orang-orang dari Anda? Tidakkah
mengherankan bahwa di tengah segala pencapaian, ada kehampaan yang merayap
perlahan?
Sigmund
Freud, bapak psikoanalisis yang sering dicerca karena pandangannya yang
dianggap ketinggalan zaman, pernah mengungkapkan bahwa ada harga yang harus
dibayar ketika seseorang menolak kodratnya. Konsep "neurosis feminin"
yang ia kemukakan—dianggap sebagai penghinaan oleh banyak orang modern—bukanlah
sekadar teori yang bisa disingkirkan begitu saja. Neurosis ini, katanya, muncul
ketika seorang wanita menekan hasrat dasarnya, ketika ia berusaha menjadi
sesuatu yang bertentangan dengan sifat alaminya. Tetapi Anda pasti tidak
percaya, bukan? Anda yakin bahwa Anda telah mengatasi batas-batas yang
ditetapkan oleh masyarakat, bahwa Anda adalah bukti nyata bahwa perempuan tidak
perlu tunduk pada definisi tradisional. Lalu, mengapa Anda masih merasa lelah?
Mengapa ada suara kecil yang terus berbisik bahwa ada sesuatu yang salah?
Kita
hidup dalam era yang memuja ambisi. Keberhasilan tidak lagi cukup; Anda harus
mendominasi. Tetapi dominasi memiliki konsekuensi. Teori sistem keluarga Bowen
menegaskan bahwa ketidakseimbangan emosional dalam keluarga akan menular dan
mengakar, menciptakan pola stres yang berulang dari generasi ke generasi
(Bowen, 1978). Jika Anda seorang wanita alpha, apakah Anda yakin keluarga Anda
tidak membayar harga atas peran yang Anda ambil? Anak-anak yang tumbuh dalam
bayangan dominasi tidak menemukan tempat bagi diri mereka sendiri. Pasangan
yang merasa tidak lagi memiliki ruang dalam hubungan, perlahan-lahan kehilangan
dirinya. Anda tidak melihat ini terjadi—bukan karena tidak ada, tetapi karena
Anda memilih untuk tidak melihatnya.
Mari
kita bicara lebih dalam. Freud mengemukakan bahwa wanita yang menolak peran
tradisionalnya berisiko mengalami "kecelakaan perkembangan seksual"
(Freud, 1933). Konsep ini tentu kontroversial, tetapi mari kita tinggalkan
moralitas dan lihat dari sisi psikologisnya. Jika peran gender terbentuk secara
evolusioner untuk menciptakan keseimbangan dalam hubungan manusia, apa yang
terjadi ketika keseimbangan itu dipaksa untuk berubah secara radikal?
Ketegangan meningkat. Hubungan tidak lagi tentang sinergi, melainkan tentang
dominasi. Ini bukan tentang salah atau benar. Ini tentang bagaimana Anda
merasa. Tentang mengapa, di tengah semua kebebasan, ada perasaan hampa yang tak
bisa dijelaskan.
Bukan
berarti seorang wanita tidak boleh ambisius. Namun, mari kita refleksikan
sesuatu: Apakah Anda mengejar kesuksesan karena itu adalah panggilan jiwa,
ataukah karena Anda merasa harus membuktikan sesuatu? Apakah Anda benar-benar
merdeka, ataukah Anda hanya memainkan peran lain yang diberikan oleh masyarakat
modern? Jika kebebasan Anda membuat orang-orang terdekat menjauh, apakah itu
benar-benar kebebasan, atau justru bentuk lain dari keterikatan?
Mungkin
ini bukan tentang menyerah atau tunduk, tetapi tentang memahami bahwa
keseimbangan bukanlah sesuatu yang dapat ditaklukkan. Keseimbangan harus
ditemukan, dan sering kali, itu berarti melihat ke dalam diri sendiri dengan
kejujuran yang brutal. Jadi, saya bertanya kepada Anda: Jika segala yang Anda
bangun hanya membuat Anda semakin terisolasi, apakah itu benar-benar
kemenangan?
Bayangkan
ini: Anda duduk sendirian di sebuah ruangan yang sunyi, hanya ditemani oleh
pantulan wajah Anda di cermin. Apakah yang Anda lihat adalah seseorang yang
mengendalikan hidupnya? Atau hanya ilusi dari kendali yang Anda ciptakan agar
dunia percaya bahwa Anda kuat? Wanita "alpha," begitu mereka
menyebutnya—sebuah label yang diciptakan untuk menandai mereka yang tampak
dominan, percaya diri, dan tidak tergoyahkan. Tapi benarkah? Ataukah ini hanya
narasi yang kita warisi dan kita internalisasi tanpa menyadari jebakannya?
Erik
Erikson pernah berbicara tentang krisis identitas—pertarungan antara menemukan
diri sendiri dan kehilangan arah dalam kebingungan peran sosial (Erikson,
1968). Jika Anda percaya bahwa Anda telah berhasil melewati tahap ini, bahwa
Anda telah menemukan identitas Anda sebagai seorang wanita yang mandiri, apakah
itu benar-benar hasil pencarian jati diri yang otentik? Ataukah Anda hanya
menyesuaikan diri dengan ekspektasi sosial yang mengagungkan superioritas
perempuan sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi laki-laki? Jika begitu,
apakah ini benar-benar kekuatan, atau hanya respons psikologis terhadap tekanan
eksternal?
Sigmund
Freud akan berkata bahwa kepribadian Anda dikendalikan oleh tarian halus antara
id, ego, dan superego (Freud, 1923/1961). Mungkin ego Anda cukup kuat untuk
menyeimbangkan dorongan impulsif dengan norma sosial yang Anda internalisasi.
Tapi apakah Anda benar-benar mengendalikan ego Anda? Ataukah Anda telah
dimanipulasi oleh ekspektasi modern tentang "kemandirian wanita"
sehingga Anda mengorbankan kelembutan, empati, bahkan kerentanan yang sejatinya
membentuk keseimbangan psikologis? Jika ketidakbutuhan terhadap orang lain
adalah bukti kekuatan, mengapa rasa sepi tetap mengintai di sudut-sudut
pikiran?
Alfred
Adler berbicara tentang perjuangan melawan perasaan inferioritas—dorongan yang
membuat kita ingin lebih baik, lebih kuat, lebih unggul (Adler, 1927). Tapi
seberapa banyak dari perjuangan itu yang benar-benar berasal dari keinginan
murni, dan bukan karena ketakutan bahwa tanpa superioritas, Anda bukan
siapa-siapa? Seberapa besar harga yang Anda bayar untuk menjadi
"alpha"? Jika ekspektasi bahwa Anda harus selalu memimpin, tidak
boleh menunjukkan kelemahan, dan harus tetap superior menekan Anda setiap saat,
apakah ini masih bisa disebut kebebasan? Ataukah ini hanya sangkar lain, tetapi
kali ini dihiasi dengan emas dan kebanggaan?
Anda mungkin membaca ini dengan sedikit keraguan, atau mungkin dengan sedikit rasa tidak nyaman. Itu wajar. Manipulasi psikologis bekerja seperti itu—bukan dengan paksaan, tetapi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menggoyahkan kepercayaan Anda terhadap realitas yang selama ini Anda yakini. Anda mungkin ingin menolak gagasan ini, mungkin ingin menyangkal bahwa identitas "alpha woman" yang Anda banggakan hanyalah reaksi, bukan pilihan. Tapi di dalam hati, Anda juga tahu bahwa setiap dominasi memiliki harga. Pertanyaannya: apakah Anda siap membayarnya?
Komentar
Posting Komentar
Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar