Perspectives 13

Mereka menyebutnya "alpha woman." Wanita yang tahu apa yang dia inginkan. Yang berdiri tegak di tengah keramaian, tidak menunggu izin, tidak meminta persetujuan. Dia memimpin. Dia percaya diri. Dia mandiri. Dia berjalan dengan langkah yang pasti, seolah dunia adalah ruang yang harus dia taklukkan.

Orang-orang berbicara tentangnya. Mereka mengaguminya. Mereka membencinya. Mereka bertanya-tanya, apakah dia terlalu kuat? Terlalu ambisius? Apakah ini hal yang baik atau buruk? Itu tidak penting. Dia tetap melangkah.

Dulu, dunia berkata wanita harus tunduk. Harus menunggu. Harus mendukung, bukan memimpin. Tapi zaman berubah. Pendidikan membuka pintu. Kesetaraan gender menjadi lebih dari sekadar kata-kata. Wanita mulai berdiri di garis depan, bukan hanya di belakang layar (Smith & Jones, 2022).

Mereka berjuang untuk kemandirian finansial, untuk kebebasan berpikir, untuk hak mereka atas dunia yang sama. Dan lahirlah fenomena ini. "Alpha woman." Apakah itu label atau kenyataan? Mungkin keduanya. Tapi satu hal pasti: mereka ada di sini. Dan mereka tidak akan pergi begitu saja (Taylor, 2023).

Jadi, apakah ini ancaman? Atau hanya ketakutan lama yang muncul kembali? Mungkin bukan pertanyaan apakah dunia siap untuk mereka. Mungkin pertanyaannya, kapan dunia akan berhenti mempertanyakan keberadaan mereka?

Dalam beberapa dekade terakhir, narasi tentang wanita telah mengalami pergeseran. Dahulu, peran mereka sering kali terbatas sebagai ibu, pendamping, atau pengelola rumah tangga. Kini, wanita didorong untuk memimpin, mengambil keputusan, dan menuntut ruang yang lebih besar dalam karier serta kehidupan pribadi. Kata "sukses" tidak lagi hanya dikaitkan dengan peran domestik, tetapi juga dengan pencapaian profesional, pengaruh sosial, dan kemandirian finansial. Namun, dengan perubahan ini, muncul beban yang mungkin tidak Anda sadari telah menggerogoti persepsi Anda sendiri.

Wanita yang dominan, yang berani menetapkan aturan dan bersikap tegas, sering disebut sebagai "alpha." Mereka dihormati, disegani, dan dijadikan panutan. Namun, dunia tidak selalu ramah terhadap mereka. Hari ini Anda dipuji, besok Anda bisa dianggap terlalu agresif, terlalu ambisius, terlalu "maskulin." Di mana batasnya? Siapa yang menentukan kapan kepemimpinan Anda berubah menjadi keegoisan? Apakah Anda benar-benar memiliki kendali atas bagaimana orang lain memandang Anda?

Pernahkah Anda merasakan bisikan halus dalam pikiran yang mempertanyakan: "Apakah saya berlebihan? Apakah saya terlalu keras?" Itu bukan sekadar kecemasan pribadi. Itu adalah efek dari disonansi kognitif—konflik antara bagaimana Anda memandang diri sendiri dan bagaimana dunia menuntut Anda untuk menyesuaikan diri. Festinger (1957) mengungkapkan bahwa manusia akan mengalami ketidaknyamanan psikologis ketika kepercayaan dan tindakan mereka tidak selaras. Maka, Anda pun mulai ragu. Apakah benar kepemimpinan Anda adalah kekuatan, atau justru sebuah kutukan?

Perlahan, Anda belajar membaca situasi. Anda mulai meredam suara di ruang rapat, menarik kembali opini yang tadinya ingin Anda lontarkan. Tidak ada yang memaksa secara eksplisit, tetapi Anda tahu bahwa dunia lebih nyaman jika Anda sedikit lebih... jinak. "Adaptasi sosial," demikian mereka menyebutnya. Namun, apakah itu benar-benar adaptasi atau bentuk penundukan yang Anda lakukan secara sukarela?

Lalu, mari kita berandai-andai. Jika suatu saat Anda mulai membentuk dua versi dari diri sendiri—satu yang berani berbicara dan satu yang belajar diam—mana yang akan bertahan lebih lama? Mungkin tanpa sadar, Anda akan menyesuaikan peran, memilih kata-kata dengan hati-hati, menekan bagian-bagian dari diri Anda yang terlalu "kuat." Dan ketika itu terjadi, apakah Anda masih bisa mengatakan bahwa Anda adalah pemimpin dalam hidup Anda sendiri?

Realitas sosial memiliki cara yang halus dalam membentuk persepsi kita. Ia menyusup tanpa disadari, menanamkan gagasan-gagasan yang perlahan menjadi milik kita—atau setidaknya, itulah yang kita yakini. Tapi benarkah itu? Apakah Anda benar-benar tahu mengapa Anda mengambil keputusan tertentu? Atau apakah pilihan-pilihan itu sudah dipetakan untuk Anda jauh sebelum Anda menyadarinya?

Mari kita bicara tentang ilusi kebebasan. Anda mungkin percaya bahwa Anda adalah individu yang independen, bahwa setiap langkah yang Anda ambil adalah cerminan dari kehendak bebas. Tapi coba pikirkan sejenak: berapa banyak keputusan yang Anda buat berdasarkan apa yang benar-benar Anda inginkan, bukan berdasarkan ekspektasi sosial yang tertanam dalam kesadaran Anda sejak lama? Teori determinisme sosial menjelaskan bahwa individu sering kali tidak menyadari sejauh mana lingkungan membentuk tindakan dan pemikirannya (Bandura, 2018). Dengan kata lain, Anda mungkin tidak pernah benar-benar memilih—Anda hanya mengikuti pola yang telah ditentukan.

Lihat bagaimana konsep wanita modern dibentuk. Anda mungkin pernah mendengar istilah ‘alpha woman’—simbol kekuatan, kemandirian, dan dominasi dalam dunia profesional. Figur ini dielu-elukan, dianggap sebagai manifestasi dari kemajuan perempuan. Namun, apakah ini benar-benar sebuah kebebasan? Atau apakah ini hanya standar baru yang harus dipatuhi, menggantikan ekspektasi lama dengan tekanan baru yang lebih subtil?

Perubahan ini membawa harga yang tidak selalu terlihat di permukaan. Tekanan untuk menjadi segalanya—pemimpin, profesional sukses, individu yang mandiri, tetapi tetap memenuhi ekspektasi sosial lainnya—bisa menjadi beban yang lebih besar dari yang Anda sadari. Kajian psikologi sosial menunjukkan bahwa individu yang merasa harus terus memenuhi ekspektasi tinggi cenderung mengalami cognitive dissonance—konflik antara nilai internal dan tekanan eksternal (Festinger, 2019). Anda mengatakan bahwa Anda ingin kebebasan, tetapi mengapa Anda tetap merasa terperangkap dalam ketidakpuasan? Mengapa semakin Anda mendekati ‘ideal’, semakin besar kekosongan yang Anda rasakan?

Ketika Anda merasa bahwa dunia memberi Anda pilihan, tanyakan pada diri Anda: apakah itu benar-benar pilihan, atau hanya ilusi yang diciptakan agar Anda tetap berada dalam kendali yang tak kasatmata? Konsep ‘self-determination’ dalam psikologi menekankan pentingnya otonomi dalam keputusan seseorang, tetapi sistem sosial sering kali memanipulasi persepsi individu terhadap kebebasan mereka sendiri (Deci & Ryan, 2020). Jadi, ketika Anda berpikir telah memilih jalan Anda sendiri, sejauh mana Anda yakin bahwa itu benar-benar keputusan Anda?

Anda boleh saja menyangkalnya. Anda boleh percaya bahwa Anda berada di puncak kendali. Tapi bisakah Anda membuktikan bahwa setiap langkah yang Anda ambil adalah hasil dari kehendak Anda sendiri, tanpa campur tangan kekuatan yang tidak terlihat?

Mungkin sudah waktunya untuk bertanya: apakah Anda hidup dengan memilih, atau hanya memilih untuk hidup dalam sistem yang sudah memilihkan segalanya untuk Anda?

Anda menyebutnya inspirasi. Saya menyebutnya delusi. Anda terobsesi dengan gagasan menjadi seorang "alpha woman," seakan-akan itu adalah tiket emas menuju kesuksesan dan pengakuan. Anda ingin memimpin, mengendalikan, dan menjadi pusat perhatian di mana pun berada. Namun, pernahkah Anda bertanya—seberapa besar harga yang sudah Anda bayar?

Anda menginginkan penghormatan dan kekaguman. Namun, di mana batas antara kekaguman dan ketakutan? Berapa banyak orang yang perlahan menjauh tanpa Anda sadari, karena dalam perjalanan meraih dominasi, komunikasi yang Anda bangun berubah menjadi perintah dan hubungan menjadi sekadar negosiasi.

Dunning-Kruger Effect (Kruger & Dunning, 1999) menjelaskan bahwa mereka yang paling percaya diri sering kali justru yang paling tidak menyadari keterbatasannya. Dan Anda? Anda yakin bahwa ketegasan Anda mencerminkan kepemimpinan, bukan bentuk keras kepala yang terselubung. Anda berpikir bahwa independensi adalah kekuatan, bukan tembok yang tanpa sadar Anda bangun untuk menutupi kerentanan diri.

Mengapa keinginan akan kendali begitu mendominasi? Apa yang sebenarnya Anda khawatirkan jika sesekali kendali itu diberikan kepada orang lain? Atau lebih jauh lagi—apakah Anda takut bahwa tanpa kendali, eksistensi Anda tidak akan diakui sama sekali?

Tidak dapat disangkal bahwa menjadi seorang "alpha woman" bukanlah hal yang mudah. Anda harus berjuang lebih keras, berbicara lebih lantang, dan membuktikan bahwa Anda layak untuk berada di meja yang selama ini didominasi oleh mereka yang memiliki lebih banyak kuasa. Namun, siapa yang menentukan aturan tersebut? Dan mengapa Anda bersedia menjalankan permainan yang sejatinya telah membentuk batasan yang tidak Anda ciptakan sendiri?

Anda mungkin percaya bahwa kesuksesan seorang "alpha woman" ditentukan oleh sejauh mana ia dapat menaiki tangga hierarki sosial dan profesional. Namun, bagaimana jika sorotan lampu telah padam, ruangan menjadi sunyi, dan yang tersisa hanyalah bayangan Anda sendiri di cermin? Apakah semua pencapaian itu masih memiliki makna? Ataukah keheningan tersebut justru mengisyaratkan bahwa keberhasilan yang Anda kejar hanyalah refleksi dari ekspektasi orang lain?

Mungkin Anda ingin percaya bahwa setiap langkah yang Anda ambil, setiap keputusan yang Anda buat, adalah milik Anda sepenuhnya. Bahwa kehendak bebas adalah hak mutlak yang tak tersentuh. Namun, tidakkah terasa aneh bagaimana pilihan-pilihan itu sejalan dengan harapan yang ditanamkan dalam benak Anda sejak kecil? Seolah-olah Anda sedang memainkan peran dalam skenario yang telah disusun jauh sebelum Anda bisa mengartikulasikan apa yang sebenarnya Anda inginkan.

Pikirkan ini: apakah keinginan Anda benar-benar berasal dari diri sendiri, atau hanya refleksi dari ekspektasi sosial yang telah Anda internalisasi tanpa disadari? Teori determinisme sosial (Bourdieu, 1990) menunjukkan bahwa individu tidak pernah benar-benar bebas; mereka dikondisikan oleh struktur yang mengatur mereka. Dengan kata lain, Anda mungkin mengira telah memilih, padahal Anda hanya mengikuti pola yang telah dirancang untuk Anda.

Mungkin Anda menolak gagasan ini. Tentu, Anda merasa mandiri, kuat, dan tak tergoyahkan. Anda adalah seorang "alpha woman"—begitulah sebutannya, bukan? Percaya diri, ambisius, mampu memimpin. Namun, coba renungkan kembali: apakah konsep ini benar-benar memberdayakan, atau hanya beban lain yang harus Anda pikul? Dunia tidak membiarkan Anda hanya menjadi seorang individu; Anda harus membuktikan diri, menunjukkan dominasi, memastikan bahwa kelembutan tidak mengikis kredibilitas Anda. Bahkan dalam keberhasilan, Anda tetap terjebak dalam lingkaran pembuktian tanpa akhir.

Sosiolog Candace West dan Don Zimmerman (1987) dalam teori "doing gender" mengungkapkan bahwa maskulinitas dan femininitas bukanlah sekadar sifat bawaan, melainkan sesuatu yang dikonstruksi dan dipertahankan melalui interaksi sosial. Maka, menjadi "alpha woman" tidak pernah sekadar tentang kekuatan—tetapi tentang memenuhi peran yang telah ditetapkan bagi Anda dalam dinamika kekuasaan yang lebih besar. Anda tidak pernah sekadar memilih; Anda diajarkan untuk percaya bahwa inilah satu-satunya jalan.

Lalu, bagaimana jika saya mengatakan bahwa pilihan Anda bukanlah milik Anda? Bahwa Anda telah diarahkan untuk menerima label tertentu, mempercayai bahwa inilah bentuk kekuatan yang Anda butuhkan? Konsep "illusion of choice" dalam psikologi kognitif (Iyengar & Lepper, 2000) menunjukkan bahwa semakin banyak opsi yang kita miliki, semakin kita percaya bahwa kita memiliki kendali—padahal dalam kenyataannya, semua opsi itu telah dibatasi dalam kerangka yang telah ditentukan.

Anda mungkin merasa bebas, namun batas-batas itu ada. Tak terlihat, tapi nyata. Jadi, saya bertanya sekali lagi: apakah Anda benar-benar memilih, atau hanya mengikuti naskah yang telah disusun untuk Anda?

Refleksikan ini. Jika jawaban yang muncul membuat Anda tidak nyaman, mungkin itulah pertanda bahwa sesuatu selama ini telah mengendalikan Anda tanpa Anda sadari.

Apa yang membuat Anda berpikir bahwa Anda benar-benar mengendalikan hidup Anda? Bahwa setiap keputusan yang Anda ambil, setiap langkah yang Anda tempuh, adalah hasil dari kebebasan mutlak yang Anda miliki? Mungkin, itu hanya ilusi. Anda percaya bahwa menjadi seorang "alpha woman" berarti memegang kendali penuh atas takdir, memimpin dengan keberanian, dan menentukan arah hidup sendiri. Namun, apakah Anda yakin? Ataukah gagasan tersebut merupakan konstruksi sosial yang telah tertanam dalam kesadaran Anda tanpa disadari?

Banyak yang mengatakan bahwa menjadi seorang "alpha woman" tidak selalu berarti berada di puncak kekuasaan. Seseorang dapat menjadi pendukung yang kuat, memberikan energi bagi orang lain. Namun, pertanyaannya, apakah itu benar-benar pilihan Anda? Atau sekadar cara lain agar Anda tetap berada dalam kendali yang tersamar—mengira bahwa Anda bebas, padahal hanya memainkan peran yang telah ditentukan?

Kesempurnaan bukanlah tuntutan mutlak, setidaknya begitulah yang sering dikatakan. Setiap individu memiliki kelemahan, termasuk Anda. Namun, benarkah Anda meyakini hal tersebut? Ataukah itu hanya kata-kata yang diulang untuk memberikan rasa nyaman? Dalam realitas sosial, perempuan yang kuat dan tak tergoyahkan sering kali dipuja, sementara kelemahan dianggap sebagai sesuatu yang harus disembunyikan. Jika demikian, mungkinkah gagasan menerima ketidaksempurnaan justru merupakan mekanisme lain yang digunakan untuk menahan Anda tetap dalam posisi tertentu—percaya bahwa Anda cukup, padahal selalu ada standar yang lebih tinggi?

Anda mengatakan bahwa seorang "alpha woman" dapat memilih jalannya sendiri, tanpa harus mengikuti jalur yang telah ditetapkan orang lain. Namun, sejauh mana jalan itu benar-benar merupakan pilihan Anda? Seberapa sering Anda merasa keputusan yang diambil adalah refleksi dari keinginan pribadi, padahal sejatinya hanya reaksi terhadap ekspektasi sosial yang telah tertanam sejak lama? Dalam teori kognitif sosial (Bandura, 2018), konsep self-efficacy memainkan peran penting dalam persepsi seseorang terhadap kemampuannya mengendalikan lingkungan dan menentukan nasibnya sendiri. Namun, teori ini juga mengakui bahwa persepsi tersebut dapat dipengaruhi, bahkan direkayasa oleh lingkungan sekitar. Jadi, apakah Anda benar-benar pemimpin bagi diri sendiri, atau sekadar bagian dari sistem yang lebih besar?

Konsep kebebasan memilih terdengar begitu menarik. Anda merasa memiliki kendali penuh atas hidup, menentukan arah dan tujuan. Namun, seberapa banyak keputusan Anda yang lahir dari kehendak murni, dan seberapa banyak yang diambil karena tekanan sosial yang begitu subtil hingga tidak lagi terasa sebagai paksaan? Anda menerima gagasan bahwa seorang "alpha woman" harus kuat, tetapi juga harus menerima kelemahannya. Harus mandiri, tetapi juga harus mendukung orang lain. Harus sukses, tetapi harus mendefinisikan kesuksesan menurut versinya sendiri. Jika semua itu benar, mengapa masih ada perasaan tidak cukup? Mengapa ada suara dalam benak yang terus mempertanyakan: Apakah saya benar-benar menginginkannya, atau hanya meyakini bahwa saya harus menginginkannya?

Saya tidak akan memberikan jawaban. Saya hanya akan meninggalkan pertanyaan ini menggantung dalam pikiran Anda, mengendap dalam kesadaran, merayap dalam ketidakpastian. Karena inilah yang terjadi ketika persepsi mulai bergeser, ketika realitas yang Anda pegang mulai meretak sedikit demi sedikit. Anda mungkin masih berpikir bahwa Anda tahu siapa diri Anda, apa yang Anda inginkan. Namun, seiring waktu, mungkin Anda akan menyadari bahwa keyakinan tersebut tidak pernah benar-benar sepenuhnya milik Anda sejak awal.

Anda menyebut diri Anda seorang "alpha woman." Pemimpin. Pengendali. Tidak ada yang dapat menggoyahkan keputusan Anda. Setidaknya, itulah yang ingin Anda percayai. Namun, apakah keyakinan ini sepenuhnya benar? Atau justru sekadar konstruksi sosial yang perlahan membentuk persepsi Anda tanpa disadari?

Menjadi "alpha" sering kali dikaitkan dengan kemampuan untuk mengambil tanggung jawab atas kehidupan sendiri dan merancang masa depan berdasarkan nilai-nilai pribadi. Konsep ini selaras dengan agen moral dalam filsafat, yang menekankan kebebasan individu untuk bertindak berdasarkan prinsip yang diyakininya (Frankfurt, 2020). Namun, sejauh mana kebebasan tersebut benar-benar berasal dari diri sendiri, dan sejauh mana ia dipengaruhi oleh harapan serta norma sosial yang telah tertanam sejak lama?

Kemandirian dianggap sebagai kekuatan utama, tetapi bisakah seseorang benar-benar mandiri tanpa konsekuensi? Dalam teori keterikatan sosial, manusia tidak bisa sepenuhnya melepaskan diri dari pengaruh lingkungan (Baumeister & Leary, 2017). Setiap keputusan yang tampaknya bersifat individual tetap memiliki dampak terhadap orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pernahkah Anda mempertimbangkan bahwa pilihan yang Anda buat, betapapun personalnya, mungkin telah membentuk realitas orang-orang di sekitar Anda?

Dalam perspektif etika, konsep kebaikan sering kali berbenturan dengan kepentingan pribadi (Singer, 2021). Anda mungkin beranggapan bahwa menjadi "alpha" berarti mengejar kebahagiaan tanpa kompromi. Namun, bagaimana jika kebahagiaan tersebut bergantung pada penyesuaian orang lain terhadap keinginan Anda? Dalam kondisi seperti ini, apakah yang Anda capai benar-benar kebahagiaan, ataukah sekadar dominasi dalam bentuk lain?

Sebagai individu yang kuat dan mandiri, Anda mungkin merasa bahwa segala sesuatu berada dalam kendali. Namun, dalam kesunyian, apakah Anda benar-benar merasa bebas? Ataukah ada bisikan halus yang mempertanyakan setiap langkah yang telah Anda ambil? Sebuah pertanyaan yang sering kali dihindari karena jawabannya berpotensi mengubah segalanya: Jika semua ini adalah permainan yang Anda ciptakan, lalu siapa sebenarnya yang memiliki kendali?

Mungkin batas antara kebebasan dan jebakan yang diciptakan sendiri telah menjadi kabur. Atau mungkin, Anda telah menyadarinya sejak awal—tetapi memilih untuk mengabaikannya.

Anda mungkin percaya bahwa menjadi seorang "alpha woman" berarti menguasai dunia dengan keberanian, kekuatan, dan kemandirian mutlak. Itulah yang sering diajarkan—bahwa untuk bertahan dalam lingkungan yang kompetitif, seseorang harus menanggalkan kelemahan, menutup pintu bagi keraguan, dan mengasah ketajaman hingga tak ada yang berani meragukan eksistensinya. Sebuah simbol perlawanan terhadap patriarki. Sebuah kemenangan.

Namun, setiap kemenangan memiliki konsekuensi. Ketika status dan kekuatan semakin meningkat, interaksi sosial pun mulai berubah. Orang-orang di sekitar mungkin terlihat mendukung, tetapi di balik itu, apakah mereka benar-benar mengagumi atau sekadar menjaga jarak? Psikologi sosial menunjukkan bahwa individu dengan posisi kepemimpinan yang tinggi cenderung mengalami keterasingan emosional yang lebih besar dibandingkan mereka yang beroperasi dalam dinamika hubungan yang lebih seimbang (Brown et al., 2022). Semakin tinggi seseorang mendaki, semakin sunyi puncaknya. Maka, pertanyaannya bukan lagi apakah ini kemenangan, melainkan apakah ini kebebasan yang sesungguhnya?

Konsep "alpha woman" sering kali dikaitkan dengan pemberdayaan. Namun, dalam perjalanan menuju kekuatan, muncul dilema: Jika seseorang tidak boleh menunjukkan kelemahan, di mana letak kebebasan? Jika harus selalu berkompetisi, kapan merasa cukup? Jika kekuatan yang dikejar berarti menyingkirkan kelembutan dan empati, apakah ini bukan sekadar bentuk dominasi lain dalam kemasan yang berbeda?

Psikologi kognitif membahas fenomena "dissonansi kognitif" (Festinger, 1957), di mana individu memaksakan keyakinan baru untuk merasionalisasi tindakan mereka, bahkan jika keyakinan itu bertentangan dengan nilai-nilai awal mereka. Dalam konteks ini, pertanyaan mendasar pun muncul: Apakah jalan yang ditempuh benar-benar mencerminkan kehendak pribadi, atau sekadar adaptasi terhadap tuntutan sosial yang terus berubah?

Kepastian mungkin memberikan rasa nyaman, tetapi ketidakpastianlah yang sering kali mengungkap jati diri seseorang. Dengan semakin banyak pertanyaan yang muncul, ada satu hal yang patut direnungkan: Mungkin selama ini kita hanya menjalankan peran yang telah ditetapkan oleh norma sosial. Jika demikian, apakah masih ada ruang untuk menciptakan jalan yang benar-benar autentik? Ataukah kita hanya mengulangi pola yang sama dalam wujud yang berbeda?

Dalam perspektif filsafat, konsep "alpha woman" sering kali dipandang sebagai individu yang memiliki kendali atas hidupnya sendiri, bebas dari belenggu ekspektasi sosial, dan berani menghadapi ketidakpastian. Namun, apakah kebebasan itu benar-benar ada, atau hanya ilusi yang kita ciptakan untuk meyakinkan diri sendiri?

Eksistensialisme menekankan bahwa manusia lahir tanpa makna bawaan, dan tugas setiap individu adalah membentuk serta memberikan arti pada kehidupannya. Seorang "alpha woman" dalam konteks ini bukan sekadar sosok dominan atau berpengaruh, melainkan individu yang memahami bahwa kebebasan selalu datang dengan tanggung jawab moral. Ia tidak hanya menentukan jalannya sendiri, tetapi juga harus menghadapi konsekuensi dari setiap keputusan yang diambilnya.

Namun, konsep kebebasan ini membawa dilema tersendiri. Jika setiap keputusan didasarkan pada otonomi pribadi, apakah kita benar-benar bebas, atau hanya terperangkap dalam narasi yang kita ciptakan sendiri? Psikologi kognitif menunjukkan bahwa manusia sering kali membentuk bias konfirmasi—kecenderungan untuk hanya menerima informasi yang memperkuat keyakinan yang sudah ada (Nickerson, 2021). Dalam konteks ini, seorang "alpha woman" mungkin berpikir bahwa ia bertindak atas kehendaknya sendiri, padahal realitasnya, ia hanya mengikuti pola sosial yang telah tertanam sejak lama.

Lebih jauh, tanggung jawab moral yang ditekankan dalam eksistensialisme bukan sekadar tentang keberanian menghadapi tantangan, tetapi juga tentang bagaimana keputusan seseorang memengaruhi orang lain. Seorang "alpha woman" yang sejati tidak hanya mengukir jalannya sendiri, tetapi juga memahami bagaimana kehadirannya membentuk dunia di sekitarnya.

Jadi, apakah menjadi "alpha woman" berarti memiliki kendali penuh atas kehidupan? Ataukah itu hanya konstruksi psikologis yang membuat kita merasa lebih kuat dari yang sebenarnya? Mungkin pertanyaan yang lebih mendasar adalah: seberapa banyak dari diri kita yang benar-benar kita pilih, dan seberapa banyak yang hanya refleksi dari dunia yang telah membentuk kita?

Anda mungkin percaya bahwa diri Anda memahami identitas Anda sendiri. Bahwa konsep "alpha woman" mencerminkan kekuatan dan kemandirian, sebuah manifestasi dari individu yang tidak terpengaruh oleh norma sosial. Namun, pernahkah Anda mempertanyakan siapa yang membentuk definisi tersebut? Apakah keinginan untuk menjadi kuat benar-benar berasal dari dalam diri, ataukah merupakan hasil dari konstruksi sosial yang perlahan tertanam dalam pola pikir kita?

Dalam perspektif strukturalisme, identitas tidak terbentuk dalam ruang hampa. Ia merupakan hasil dari tanda dan simbol yang dikonstruksi oleh sistem sosial yang lebih besar. "Alpha woman" bukanlah suatu hakikat yang melekat secara alami, melainkan sebuah peran yang telah ditetapkan sebelumnya. Anda mungkin merasa memiliki kebebasan untuk memilih, namun sesungguhnya Anda tengah mengikuti pola yang telah dirancang secara halus oleh lingkungan dan budaya.

Konsep kemandirian sering kali dikaitkan dengan penguasaan diri dan dominasi. Seorang wanita yang kuat harus tampil percaya diri, memiliki kendali atas situasi, serta menunjukkan keteguhan tanpa cela. Namun, siapa yang menentukan standar tersebut? Dan yang lebih penting, apa konsekuensinya jika seseorang tidak memenuhi ekspektasi tersebut?

Jika Anda pernah merasa terbebani oleh keharusan untuk selalu membuktikan diri, mungkin bukan karena Anda kurang kuat. Mungkin karena konsep yang Anda perjuangkan tidak benar-benar memberikan kebebasan, melainkan sekadar menciptakan ilusi kemandirian dalam batasan sosial yang masih mengikat. Sebab, kekuatan yang dikendalikan oleh sistem bukanlah kekuatan yang sejati—melainkan bentuk lain dari keterikatan.

Anda percaya bahwa Anda memiliki kendali penuh atas siapa diri Anda? Bahwa identitas yang Anda bangun—sebagai seorang "alpha woman" yang independen, berani, dan tak tergoyahkan—adalah milik Anda sepenuhnya? Atau mungkinkah Anda hanya mengikuti skrip yang telah ditulis untuk Anda sejak awal? Sebuah peran yang diberikan, bukan dipilih?

Strukturalisme tidak menawarkan kenyamanan bagi individu yang percaya pada kehendak bebas mutlak. Ia menegaskan bahwa identitas bukanlah hasil dari keputusan pribadi semata, melainkan produk dari struktur sosial yang lebih besar, tak terlihat, tetapi mendikte. Setiap aspek dari kepribadian Anda, mulai dari ambisi hingga cara Anda berbicara, berakar pada sistem yang lebih luas, yang membentuk dan membatasi Anda tanpa disadari. Maka, seberapa banyak dari diri Anda yang benar-benar asli? Atau apakah Anda sekadar manifestasi dari ekspektasi yang lebih besar?

Fenomena "alpha woman" adalah contoh sempurna dari ilusi kendali. Anda diberitahu bahwa menjadi mandiri adalah kekuatan, bahwa mengambil peran kepemimpinan adalah bentuk pemberdayaan. Tapi pertanyaannya: siapa yang mendapat manfaat dari keyakinan ini? Apakah Anda benar-benar menjadi penguasa atas hidup Anda, atau justru tanpa sadar mengikuti pola yang telah dirancang untuk memastikan keseimbangan sosial tetap terjaga?

Teori kontrol sosial (Hirschi, 2019) menyoroti bagaimana individu dikendalikan bukan melalui paksaan langsung, tetapi melalui keterikatan mereka pada norma dan ekspektasi masyarakat. Dalam konteks ini, konsep "alpha woman" berfungsi sebagai alat untuk menciptakan ilusi kebebasan. Anda percaya bahwa Anda mendefinisikan diri sendiri, padahal pada kenyataannya, Anda menjalankan narasi yang telah ditanamkan ke dalam sistem.

Namun, kepercayaan ini tidak datang tanpa konsekuensi. Semakin keras Anda menolak struktur yang ada, semakin besar harga yang harus dibayar—alienasi sosial, keterasingan, bahkan kehilangan diri sendiri. Seberapa jauh Anda bersedia pergi untuk mempertahankan kendali yang mungkin tidak pernah Anda miliki sejak awal?

Jika Anda benar-benar bebas, mengapa Anda masih terikat pada ekspektasi tertentu? Mengapa keberhasilan Anda diukur dari sejauh mana Anda mampu menyesuaikan diri dengan citra yang telah dikonstruksi untuk Anda? Atau mungkin, justru dalam keyakinan bahwa Anda bebas itulah letak manipulasi yang paling halus?

Sosiolog Pierre Bourdieu (2020) berargumen bahwa habitus—kumpulan kebiasaan dan pola pikir yang terbentuk dalam struktur sosial—membentuk cara kita memandang diri sendiri dan dunia. Apa yang Anda anggap sebagai keputusan pribadi sebenarnya adalah hasil dari internalisasi nilai-nilai eksternal. Dengan kata lain, konsep "alpha woman" bukanlah ekspresi kebebasan, tetapi strategi adaptasi terhadap struktur yang lebih besar.

Maka, pada akhirnya, ini bukan tentang apakah Anda ingin menjadi "alpha woman" atau tidak. Ini tentang apakah Anda sadar bahwa pilihan itu mungkin tidak pernah benar-benar menjadi milik Anda.

Sekarang, tanyakan pada diri Anda: Apakah Anda yang mengendalikan narasi ini? Atau hanya memainkan peran dalam skenario yang lebih besar, yang tidak pernah Anda tulis sendiri?

Bayangkan ini: Anda berdiri di puncak pencapaian, sebuah simbol keberhasilan yang diraih dengan keringat dan keteguhan hati. Orang-orang menatap Anda dengan campuran kekaguman dan kecemasan. Anda adalah "alpha woman"—mandiri, tangguh, dan tak tergoyahkan. Namun, benarkah itu? Atau mungkin Anda hanya bagian dari mekanisme sosial yang lebih besar, diprogram untuk percaya bahwa dominasi adalah satu-satunya jalan menuju keberhasilan?

Di era yang memuja individualisme, konsep alpha woman sering kali didorong sebagai bentuk pemberdayaan. Namun, apakah itu benar-benar bentuk kebebasan, atau justru jebakan halus yang semakin memperkuat isolasi? Semakin kuat Anda berdiri sendiri, semakin jauh Anda dari orang lain. Ironis, bukan? Bahwa keberhasilan yang dikejar demi kebebasan justru menciptakan keterasingan yang lebih dalam.

Jean Baudrillard (2019) pernah menyinggung bahwa dalam masyarakat postmodern, identitas bukan lagi sesuatu yang organik, melainkan konstruksi yang dimanipulasi oleh sistem. Anda mungkin merasa berkuasa, tetapi realitasnya, peran yang Anda jalani telah dirancang agar Anda terus bermain dalam kompetisi tanpa akhir. Ketika Anda mendefinisikan diri sebagai seorang alpha woman, Anda sesungguhnya sedang menginternalisasi standar yang bukan milik Anda.

Solidaritas sosial melemah seiring meningkatnya individualisme. Konsep “perempuan kuat” yang dielu-elukan, tanpa disadari, dapat memicu kesenjangan sosial baru. Dalam hubungan interpersonal, seseorang yang selalu berada dalam posisi dominan sering kali kesulitan membentuk koneksi yang setara. Keberhasilan yang terlalu berpusat pada diri sendiri dapat mengikis empati dan merusak keseimbangan hubungan. Ketika seseorang begitu terfokus pada pencapaiannya, tanpa sadar ia menciptakan jarak dengan lingkungannya. Lalu, kapan terakhir kali Anda benar-benar mendengarkan seseorang tanpa memikirkan bagaimana hal itu memengaruhi posisi Anda?

Claude Lévi-Strauss (2021) dalam kajian strukturalismenya menegaskan bahwa individu tidak pernah benar-benar bebas dari struktur sosial yang membentuk mereka. Kita bukanlah entitas yang terpisah dari masyarakat, melainkan bagian dari jejaring yang lebih besar. Alpha woman, dalam konteks ini, bukan sekadar individu yang berhasil, melainkan produk dari konstruksi sosial yang mengharuskannya demikian. Namun, pernahkah Anda mempertanyakan berapa harga yang harus dibayar untuk menjadi seseorang yang dianggap berhasil oleh standar eksternal?

Setiap pilihan memiliki konsekuensi. Menjadi alpha woman bukan hanya tentang kekuatan dan kemandirian, tetapi juga tentang kesepian yang sering kali menyertainya. Anda mungkin tidak menyadarinya sekarang, tetapi coba tanyakan pada diri sendiri: apakah kebebasan ini benar-benar milik Anda, atau sekadar peran yang diberikan pada Anda agar sistem tetap berjalan sebagaimana mestinya?

Dan jika suatu saat Anda menyadari bahwa kendali yang Anda pikir milik Anda hanyalah ilusi, akankah Anda memiliki keberanian untuk melepaskannya? Atau apakah Anda akan tetap bertahan, menggenggam erat identitas yang mungkin tak pernah benar-benar Anda pilih sejak awal?

Gale Leo, seorang penulis dan pengamat sosial, menganggap bahwa fenomena "alpha woman" dapat memiliki dampak negatif pada kehidupan wanita dan masyarakat secara keseluruhan. Gale Leo tidak pernah berniat untuk membongkar ilusi. Setidaknya, bukan sejak awal. Dia hanya mengamati, mencatat, dan mengajukan pertanyaan yang tak seorang pun mau jawab dengan jujur. Jika kita hidup di era di mana wanita harus menjadi "alpha" untuk diakui, bukankah itu artinya kita sudah kalah? Kalah dalam permainan yang tidak pernah benar-benar kita pilih untuk dimainkan (Leo, 2019).

Siapa yang menciptakan konsep "alpha woman"? Masyarakat? Feminisme? Atau kita sendiri yang menginternalisasi ekspektasi tak kasat mata itu? Leo mengangkat satu demi satu lapisan realitas yang kita terima tanpa pertanyaan. Ia tidak memprovokasi secara frontal—tidak, itu terlalu mudah. Sebaliknya, ia membiarkan kata-katanya menggantung, seperti bayangan di sudut mata yang tak pernah bisa ditangkap sepenuhnya.

Wanita yang mengejar dominasi dalam ruang kerja, yang menekan kelembutannya demi diakui, benar-benar merdeka—atau hanya menciptakan penjara baru dengan nama berbeda?

Pikiran itu mengganggu, bukan? Karena jika benar, maka setiap pencapaian, setiap promosi, dan setiap kali kita memaksakan diri untuk lebih keras, lebih cepat, lebih kuat, mungkin bukan kemenangan. Mungkin itu hanya bentuk baru dari kelelahan kronis yang kita bungkus dengan istilah "kesuksesan."

Leo tidak mengatakan wanita tidak boleh ambisius. Tidak, dia tidak sebodoh itu. Ia hanya bertanya: berapa harga yang harus dibayar? Berapa banyak jam tidur yang terbuang, berapa banyak hubungan yang ditinggalkan, berapa banyak kelelahan yang ditahan demi memenuhi identitas yang dibentuk oleh tuntutan eksternal?

Beberapa akan menyangkal. Mereka akan berkata bahwa menjadi "alpha" adalah pilihan sadar, kebanggaan, bentuk kebebasan. Tapi bisakah seseorang benar-benar bebas jika setiap langkah mereka dikendalikan oleh ketakutan tak terlihat? Takut dianggap lemah. Takut tidak cukup. Takut jika berhenti sejenak, dunia akan berlari mendahului mereka dan tak pernah menoleh kembali.

Dan di antara semua ini, ada pertanyaan yang lebih menghantui. Jika seorang wanita tidak ingin menjadi "alpha," jika dia memilih hidup dengan ritme yang lebih lambat, lebih lembut, apakah dia kehilangan nilai? Ataukah dia justru orang yang lebih bebas di antara kita semua?

Penelitian menunjukkan bahwa ekspektasi peran gender dapat menciptakan beban psikologis yang tak kasat mata (Eagly & Wood, 2020). Studi lain menunjukkan bahwa wanita dengan tekanan tinggi untuk tampil dominan dalam lingkungan kerja sering mengalami peningkatan kecemasan dan depresi akibat ketidaksesuaian identitas (West et al., 2021). Bukankah itu menarik? Kita selalu berbicara tentang kebebasan, tetapi semakin keras kita mencoba mewujudkannya, semakin banyak rantai yang kita ciptakan sendiri.

Jadi, Gale Leo bertanya sekali lagi, bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menanamkan sesuatu yang lebih halus: apakah kita benar-benar memilih menjadi "alpha," atau kita hanya memainkan peran dalam skenario yang sudah ditulis lama sebelum kita menyadarinya?

Erik Erikson, seorang psikolog perkembangan, menguraikan bahwa kehidupan manusia terdiri dari delapan tahap perkembangan psikososial, masing-masing dengan tantangan unik yang dapat menentukan kesejahteraan psikologis individu. Dalam konteks fenomena alpha woman, Erikson mengidentifikasi potensi konflik yang muncul ketika seorang wanita dengan kepemimpinan kuat harus menyeimbangkan ekspektasi sosial dan perkembangan pribadinya.

Pada tahap masa dewasa awal, individu dihadapkan pada dilema antara keintiman dan isolasi (Erikson, 1963). Mereka yang berhasil membangun hubungan yang mendalam cenderung merasakan keterikatan emosional dan kepuasan sosial. Namun, bagi seorang alpha woman, ambisi dan dedikasi terhadap pencapaian pribadi dapat menjadi penghalang dalam membangun koneksi yang bermakna. Studi menunjukkan bahwa fokus yang terlalu besar pada kesuksesan profesional dapat berkontribusi pada keterasingan emosional yang tak disadari, membuat individu tampak tak tersentuh meskipun dalam realitasnya ia mungkin merasa kesepian (Luyckx et al., 2008).

Selanjutnya, pada tahap masa dewasa tengah, individu menghadapi konflik antara produktivitas dan stagnasi. Erikson menekankan pentingnya kontribusi dalam berbagai aspek kehidupan—karir, keluarga, dan masyarakat—untuk mencapai keseimbangan yang sehat. Alpha woman sering kali mampu mencapai tingkat produktivitas tinggi, tetapi justru karena standar keberhasilan yang ia tetapkan sendiri, ada potensi munculnya ketidakpuasan yang mendalam. Meskipun pencapaian objektifnya luar biasa, sering kali ada perasaan bahwa apa yang telah diraih belum cukup, seolah-olah ada standar tak kasat mata yang terus menjauhinya.

Dalam tahap perkembangan akhir, Erikson menyoroti tantangan antara integritas dan putus asa. Ini adalah fase refleksi, di mana individu mengevaluasi makna hidupnya. Seorang alpha woman yang terus-menerus mengejar kesuksesan tanpa memberikan ruang bagi refleksi dan penerimaan diri dapat terjebak dalam siklus kelelahan mental. Rasa putus asa muncul ketika ia menyadari bahwa pencapaian materi dan status sosial tidak serta-merta memberikan kepuasan batin. Harapan akan validasi eksternal menjadi seperti bayangan yang selalu mendahuluinya tetapi tak pernah dapat disentuh.

Dalam masyarakat yang mengagungkan produktivitas dan kepemimpinan, alpha woman sering kali dijadikan simbol kekuatan. Namun, Erikson mengingatkan bahwa keseimbangan antara ambisi dan tugas perkembangan psikologis adalah kunci kebahagiaan sejati. Tanpa refleksi yang cukup, pencapaian yang terus dikejar dapat berubah menjadi jebakan eksistensial yang berujung pada kehilangan makna hidup. Mungkin pertanyaannya bukan lagi tentang seberapa banyak yang bisa dicapai, tetapi tentang apakah yang telah dicapai benar-benar membawa kebahagiaan.

Bayangkan sejenak, Anda duduk dalam keheningan, merenungkan siapa diri Anda sebenarnya. Pernahkah Anda merasa bahwa keberhasilan yang Anda kejar, kebebasan yang Anda banggakan, justru membawa Anda ke dalam isolasi yang perlahan-lahan menggerogoti diri sendiri? Anda ingin percaya bahwa Anda mengendalikan segalanya, bahwa Anda tidak membutuhkan siapa pun. Namun, tidakkah aneh bahwa semakin Anda mendekati puncak, semakin jauh orang-orang dari Anda? Tidakkah mengherankan bahwa di tengah segala pencapaian, ada kehampaan yang merayap perlahan?

Sigmund Freud, bapak psikoanalisis yang sering dicerca karena pandangannya yang dianggap ketinggalan zaman, pernah mengungkapkan bahwa ada harga yang harus dibayar ketika seseorang menolak kodratnya. Konsep "neurosis feminin" yang ia kemukakan—dianggap sebagai penghinaan oleh banyak orang modern—bukanlah sekadar teori yang bisa disingkirkan begitu saja. Neurosis ini, katanya, muncul ketika seorang wanita menekan hasrat dasarnya, ketika ia berusaha menjadi sesuatu yang bertentangan dengan sifat alaminya. Tetapi Anda pasti tidak percaya, bukan? Anda yakin bahwa Anda telah mengatasi batas-batas yang ditetapkan oleh masyarakat, bahwa Anda adalah bukti nyata bahwa perempuan tidak perlu tunduk pada definisi tradisional. Lalu, mengapa Anda masih merasa lelah? Mengapa ada suara kecil yang terus berbisik bahwa ada sesuatu yang salah?

Kita hidup dalam era yang memuja ambisi. Keberhasilan tidak lagi cukup; Anda harus mendominasi. Tetapi dominasi memiliki konsekuensi. Teori sistem keluarga Bowen menegaskan bahwa ketidakseimbangan emosional dalam keluarga akan menular dan mengakar, menciptakan pola stres yang berulang dari generasi ke generasi (Bowen, 1978). Jika Anda seorang wanita alpha, apakah Anda yakin keluarga Anda tidak membayar harga atas peran yang Anda ambil? Anak-anak yang tumbuh dalam bayangan dominasi tidak menemukan tempat bagi diri mereka sendiri. Pasangan yang merasa tidak lagi memiliki ruang dalam hubungan, perlahan-lahan kehilangan dirinya. Anda tidak melihat ini terjadi—bukan karena tidak ada, tetapi karena Anda memilih untuk tidak melihatnya.

Mari kita bicara lebih dalam. Freud mengemukakan bahwa wanita yang menolak peran tradisionalnya berisiko mengalami "kecelakaan perkembangan seksual" (Freud, 1933). Konsep ini tentu kontroversial, tetapi mari kita tinggalkan moralitas dan lihat dari sisi psikologisnya. Jika peran gender terbentuk secara evolusioner untuk menciptakan keseimbangan dalam hubungan manusia, apa yang terjadi ketika keseimbangan itu dipaksa untuk berubah secara radikal? Ketegangan meningkat. Hubungan tidak lagi tentang sinergi, melainkan tentang dominasi. Ini bukan tentang salah atau benar. Ini tentang bagaimana Anda merasa. Tentang mengapa, di tengah semua kebebasan, ada perasaan hampa yang tak bisa dijelaskan.

Bukan berarti seorang wanita tidak boleh ambisius. Namun, mari kita refleksikan sesuatu: Apakah Anda mengejar kesuksesan karena itu adalah panggilan jiwa, ataukah karena Anda merasa harus membuktikan sesuatu? Apakah Anda benar-benar merdeka, ataukah Anda hanya memainkan peran lain yang diberikan oleh masyarakat modern? Jika kebebasan Anda membuat orang-orang terdekat menjauh, apakah itu benar-benar kebebasan, atau justru bentuk lain dari keterikatan?

Mungkin ini bukan tentang menyerah atau tunduk, tetapi tentang memahami bahwa keseimbangan bukanlah sesuatu yang dapat ditaklukkan. Keseimbangan harus ditemukan, dan sering kali, itu berarti melihat ke dalam diri sendiri dengan kejujuran yang brutal. Jadi, saya bertanya kepada Anda: Jika segala yang Anda bangun hanya membuat Anda semakin terisolasi, apakah itu benar-benar kemenangan?

Bayangkan ini: Anda duduk sendirian di sebuah ruangan yang sunyi, hanya ditemani oleh pantulan wajah Anda di cermin. Apakah yang Anda lihat adalah seseorang yang mengendalikan hidupnya? Atau hanya ilusi dari kendali yang Anda ciptakan agar dunia percaya bahwa Anda kuat? Wanita "alpha," begitu mereka menyebutnya—sebuah label yang diciptakan untuk menandai mereka yang tampak dominan, percaya diri, dan tidak tergoyahkan. Tapi benarkah? Ataukah ini hanya narasi yang kita warisi dan kita internalisasi tanpa menyadari jebakannya?

Erik Erikson pernah berbicara tentang krisis identitas—pertarungan antara menemukan diri sendiri dan kehilangan arah dalam kebingungan peran sosial (Erikson, 1968). Jika Anda percaya bahwa Anda telah berhasil melewati tahap ini, bahwa Anda telah menemukan identitas Anda sebagai seorang wanita yang mandiri, apakah itu benar-benar hasil pencarian jati diri yang otentik? Ataukah Anda hanya menyesuaikan diri dengan ekspektasi sosial yang mengagungkan superioritas perempuan sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi laki-laki? Jika begitu, apakah ini benar-benar kekuatan, atau hanya respons psikologis terhadap tekanan eksternal?

Sigmund Freud akan berkata bahwa kepribadian Anda dikendalikan oleh tarian halus antara id, ego, dan superego (Freud, 1923/1961). Mungkin ego Anda cukup kuat untuk menyeimbangkan dorongan impulsif dengan norma sosial yang Anda internalisasi. Tapi apakah Anda benar-benar mengendalikan ego Anda? Ataukah Anda telah dimanipulasi oleh ekspektasi modern tentang "kemandirian wanita" sehingga Anda mengorbankan kelembutan, empati, bahkan kerentanan yang sejatinya membentuk keseimbangan psikologis? Jika ketidakbutuhan terhadap orang lain adalah bukti kekuatan, mengapa rasa sepi tetap mengintai di sudut-sudut pikiran?

Alfred Adler berbicara tentang perjuangan melawan perasaan inferioritas—dorongan yang membuat kita ingin lebih baik, lebih kuat, lebih unggul (Adler, 1927). Tapi seberapa banyak dari perjuangan itu yang benar-benar berasal dari keinginan murni, dan bukan karena ketakutan bahwa tanpa superioritas, Anda bukan siapa-siapa? Seberapa besar harga yang Anda bayar untuk menjadi "alpha"? Jika ekspektasi bahwa Anda harus selalu memimpin, tidak boleh menunjukkan kelemahan, dan harus tetap superior menekan Anda setiap saat, apakah ini masih bisa disebut kebebasan? Ataukah ini hanya sangkar lain, tetapi kali ini dihiasi dengan emas dan kebanggaan?

Anda mungkin membaca ini dengan sedikit keraguan, atau mungkin dengan sedikit rasa tidak nyaman. Itu wajar. Manipulasi psikologis bekerja seperti itu—bukan dengan paksaan, tetapi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menggoyahkan kepercayaan Anda terhadap realitas yang selama ini Anda yakini. Anda mungkin ingin menolak gagasan ini, mungkin ingin menyangkal bahwa identitas "alpha woman" yang Anda banggakan hanyalah reaksi, bukan pilihan. Tapi di dalam hati, Anda juga tahu bahwa setiap dominasi memiliki harga. Pertanyaannya: apakah Anda siap membayarnya?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan

Perspectives 12

Bukan Sekadar “Yes-Man”: Menguak Sisi Rentan di Balik Kerentanan Manipulasi