Iri (Envy)

Envy, atau Iri, adalah salah satu dari tujuh dosa pokok dalam tradisi Kristen, yang dikenal dengan istilah "Seven Deadly Sins." Dalam kajian psikologi gelap, perasaan ini dianggap sebagai manifestasi dari ketidakmampuan individu untuk menerima dirinya sendiri, dan sering kali berakar dari kecemasan dan ketakutan akan kehilangan status atau perasaan inferioritas (Brown, 2002). Fenomena ini lebih dari sekadar rasa tidak puas terhadap pencapaian orang lain; ia adalah sebuah ketidakmampuan untuk merayakan kebahagiaan orang lain karena merasa seolah-olah kebahagiaan mereka mengurangi nilai diri sendiri. Dalam psikologi, ini dikenal sebagai zero-sum thinking, di mana kebahagiaan atau kesuksesan orang lain dianggap sebagai ancaman terhadap diri kita sendiri (Cohen & Sherman, 2020).

Selain itu, Envy dapat dilihat sebagai salah satu bentuk manipulasi psikologis yang paling halus. Perasaan iri ini memicu perilaku merusak, seperti meremehkan, mengkritik, atau bahkan sabotase terhadap orang yang kita iri. Dalam hal ini, seseorang tidak hanya merasakan ketidakpuasan tetapi juga berusaha untuk menurunkan status atau kebahagiaan orang lain sebagai cara untuk menaikkan perasaan diri mereka (Morse & Gergen, 2021). Manipulasi ini mengarah pada "perang psikologis" yang diam-diam diatur oleh ego dan keinginan untuk mengontrol citra sosial kita, yang pada akhirnya mengarah pada kehancuran hubungan sosial dan pertumbuhan pribadi yang terhambat.

Menurut teori self-determination theory (Ryan & Deci, 2017), individu yang terjebak dalam perasaan iri sering kali merasa bahwa kebahagiaan orang lain merampas potensi mereka untuk berkembang atau mencapai tujuan mereka sendiri. Hal ini membentuk siklus negatif di mana mereka menjadi semakin fokus pada kompetisi ketimbang kolaborasi, dan pada akhirnya, mereka menjadi terperangkap dalam perasaan ketidakpuasan yang terus berkembang. Secara keseluruhan, Envy tidak hanya merusak individu yang mengalaminya, tetapi juga dapat menggerogoti ikatan sosial yang ada, memperburuk isolasi emosional dan spiritual mereka.

Dengan demikian, Envy adalah lebih dari sekadar perasaan yang datang dan pergi; ia adalah kekuatan yang dapat menggiring individu menuju perilaku destruktif jika tidak dikenali dan dikelola dengan bijak.

Kembali lagi dalam forum saya kali ini, saya sempat mengikuti sebuah siaran di media internet yang membahas topik "broken home tidak selalu broken." Memang benar adanya bahwa dalam beberapa kasus, individu yang tumbuh dalam keluarga yang terpecah dapat menghadapi kehancuran mental, namun mereka sering kali mampu sembuh dengan pola pikir yang baru. Setiap individu yang terdampak memiliki perjalanan yang unik dalam mengatasi trauma tersebut. Beberapa di antaranya mungkin menjadi pribadi yang lebih kuat, mampu bertahan di tengah kesulitan (Resilience), sementara yang lainnya justru berkembang dengan mentalitas yang rapuh, plin-plan, dan mudah terpengaruh oleh faktor eksternal. Bahkan, dalam psikologi, ada teori yang menunjukkan bahwa individu yang mengalami trauma bisa berakhir dalam perilaku yang merugikan dirinya sendiri, seperti perasaan cemas berlebihan atau bahkan terjebak dalam siklus hubungan yang destruktif (Vasilenko et al., 2021).

Namun, untuk topik kali ini, saya tidak akan membahas masalah broken home secara rinci, karena saya merasa 50% dari pembahasan tersebut bisa dikategorikan sebagai mencuri ide orang, dan saya belum mendapatkan izin dari pihak terkait. Tapi, benarkah Anda merasa bahwa ini adalah sebuah pembicaraan yang membingungkan? Saya tidak menulis ini untuk membuat Anda merasa kasihan atau berpikir bahwa saya adalah orang yang paling tersakiti. Sebaliknya, saya mengajak Anda untuk lebih reflektif terhadap kehidupan romansa Anda. Apakah Anda pernah merasa begitu? Atau apakah Anda hanya memandang saya sebagai seseorang yang berusaha tampil lebih pintar atau lebih tahu dari yang lain? Dalam diri kita semua, seringkali ada perasaan iri yang terpendam, sebuah perasaan yang bisa memanipulasi cara kita melihat dunia dan orang lain.

Sebagai manusia, kita cenderung terjebak dalam perasaan iri (envy), yang sering kali tidak kita sadari. Teori psikologi modern menyatakan bahwa perasaan iri ini dapat mengarah pada perilaku destruktif, di mana kita merasa terdorong untuk merendahkan atau mencuri perhatian orang lain untuk mengimbangi perasaan kekurangan dalam diri kita (Tesser & Collins, 2020). Bahkan, dalam banyak kasus, perasaan iri ini mendorong kita untuk membenci orang lain tanpa alasan yang jelas, semata-mata karena kita merasa mereka memiliki lebih dari yang kita miliki—baik itu dalam hal keberhasilan, cinta, atau bahkan kebahagiaan pribadi.

Di sinilah manipulasi psikologi gelap memainkan peranannya. Ketika kita merasa tidak puas dengan diri kita sendiri, kita cenderung membandingkan diri dengan orang lain, dan ini memunculkan perasaan negatif yang kuat. Maka dari itu, saya mengundang Anda untuk lebih berhati-hati dalam setiap persepsi yang Anda miliki terhadap dunia ini. Kenyataannya, segala yang Anda lihat dan alami mungkin bukanlah kenyataan yang sesungguhnya. Pikiran-pikiran negatif itu sering kali dibangun oleh perasaan iri yang tidak terkelola dengan baik, yang pada gilirannya membentuk pandangan kita terhadap kehidupan secara keseluruhan.

Jadi, saya mengajak Anda, para pembaca saya, untuk mulai lebih sadar akan perasaan iri yang mungkin kita rasakan. Sebab, meskipun kita tidak selalu sadar, perasaan ini bisa merusak kita dari dalam, mempermainkan pikiran kita, dan mengubah cara kita berinteraksi dengan dunia luar.

 

Saat ini, Anda mungkin terjebak dalam apa yang sering disebut sebagai "gamon," istilah populer yang merujuk pada kondisi di mana seseorang merasa sulit untuk melepaskan masa lalu—terutama kenangan indah yang pernah ada. Secara sederhana, gamon atau "gagal move on" bukan hanya terjadi dalam konteks hubungan romantis, tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam hal ini, kita akan fokus pada bagaimana gamon berkaitan dengan hubungan romantis untuk memperjelas gambaran ini.

Ketika seseorang terus-menerus mengingat kenikmatan masa lalu dan menghayalkan bahwa itu bisa terulang lagi, maka individu tersebut mulai tenggelam dalam apa yang dikenal sebagai Sin of Envy (Dosa Iri). Konsep dasar dari dosa iri ini melibatkan perasaan keinginan yang mendalam untuk mengembalikan kondisi ideal yang pernah ada di masa lalu, lalu merasa kecewa dengan kondisi saat ini karena tidak mampu mencapainya. Rasa iri ini semakin berkembang ketika seseorang mulai merasa bahwa kondisi sekarang jauh dari sempurna dan tidak akan pernah sebaik masa lalu, sehingga menyebabkan ketidakpuasan yang berlarut-larut.

Penelitian terbaru dalam psikologi menunjukkan bahwa perasaan iri atau envy dapat berakibat serius pada kesejahteraan mental seseorang. Menurut McIntyre et al. (2020), envy bukan hanya terkait dengan ketidakpuasan terhadap apa yang kita miliki, tetapi juga dengan persepsi bahwa orang lain memiliki sesuatu yang lebih baik, yang kita anggap sebagai kebutuhan untuk kebahagiaan kita. Kondisi ini menumbuhkan perasaan tidak bersyukur terhadap apa yang telah kita capai, dan sering kali mengarah pada kecemasan berlebihan tentang masa depan kita (Van de Ven, 2021).

Dalam ranah psikologi gelap, envy sering kali digunakan sebagai alat manipulasi, baik secara internal maupun eksternal. Seperti yang dijelaskan oleh Lammers et al. (2022), individu yang merasa iri dapat lebih mudah terpengaruh oleh dorongan untuk "mendapatkan apa yang orang lain miliki," yang pada akhirnya dapat mengarah pada keputusan impulsif dan merugikan. Fenomena ini bukan hanya mempengaruhi kehidupan pribadi, tetapi juga dalam konteks sosial, di mana individu dengan envy yang kuat dapat terjebak dalam siklus persaingan yang merusak dan tidak sehat.

Tenggelam dalam envy mengarah pada ketidakpuasan konstan, bukan hanya pada pencapaian saat ini, tetapi juga pada potensi kita untuk berkembang. Seperti yang dijelaskan oleh Baumeister et al. (2019), perasaan iri ini menghalangi individu untuk mengapresiasi kemajuan yang telah dicapai dan membuka pintu bagi kecemasan tentang masa depan yang seolah-olah tidak pernah cukup baik. Dampaknya tidak hanya merusak mental, tetapi juga dapat memperburuk hubungan interpersonal dan menghambat perkembangan pribadi.

Dalam konteks hubungan romansa, ketika seseorang terus-menerus terpaku pada kenangan masa lalu dan merindukan momen indah yang pernah dialami, hal ini mencerminkan adanya Sin of Envy, atau perasaan iri yang mendalam. Perasaan ini muncul saat individu merasa tidak puas dengan keadaan hubungan atau kondisi saat ini, serta merasa bahwa kebahagiaan yang mereka alami di masa lalu takkan pernah terulang. Iri ini bukan hanya mencakup keinginan untuk memiliki kembali kebahagiaan tersebut, tetapi juga ketidakmampuan untuk menerima kenyataan bahwa hubungan saat ini mungkin membawa kebahagiaan dalam bentuk yang berbeda.

Menurut teori envy dalam psikologi, perasaan iri dapat menjadi sumber ketidakpuasan yang mendalam terhadap kehidupan saat ini, dan dapat memperburuk kesejahteraan psikologis (Smith & Kim, 2021). Ini juga dapat memicu perasaan cemas mengenai masa depan, karena individu cenderung membandingkan momen yang hilang dengan harapan yang tak terwujud. Rasa tidak puas terhadap kondisi sekarang bisa menghancurkan keharmonisan dalam hubungan, seperti yang dijelaskan dalam penelitian terakhir oleh Ben-Zur (2023), yang menekankan bahwa envy sering kali muncul ketika seseorang merasa hidupnya lebih buruk dibandingkan dengan orang lain, atau bahkan dengan kenangan masa lalu mereka sendiri.

Apakah Anda mulai bisa merasakannya? Ataukah Anda merasa semakin bingung? Jika Anda merasa bingung, itu adalah tanda bahwa Anda sedang berada pada jalur pemahaman yang lebih dalam tentang perasaan ini.

Saya lanjutkan...

Pernahkah Anda berpikir bahwa untuk menjalin hubungan romansa dengan seseorang yang baru, Anda harus benar-benar sembuh dari luka masa lalu? Apakah Anda pernah merasa jika membangun hubungan tanpa menyelesaikan masa lalu adalah sebuah kesalahan besar? Ketika Anda berusaha untuk ‘move on’, namun tetap membawa perasaan terhadap seseorang yang sudah pergi, hal ini bisa menumbuhkan perasaan iri dalam diri Anda. Anda akan merasa bahwa kebahagiaan yang Anda rasakan dalam hubungan baru ini tidak pernah sebanding dengan apa yang pernah Anda rasakan sebelumnya. Dalam hal ini, perasaan iri bisa merusak hubungan dan menciptakan ketidaknyamanan bagi Anda maupun pasangan Anda, seperti yang dijelaskan dalam model teori jealousy oleh Sabini dan Green (2022), yang menyatakan bahwa kecemburuan atau envy adalah reaksi terhadap ancaman yang dirasakan pada hubungan yang ada, baik yang nyata maupun yang tidak tampak.

Apakah kenyamanan yang dipaksakan akan berhasil selamanya? Mungkin, namun kenyamanan ini hanya semu dan bisa berujung pada perasaan sesal yang lebih dalam. Anda akan merasa terperangkap dalam ilusi bahwa pilihan Anda adalah yang terbaik, sementara dalam kenyataannya, hal itu justru menciptakan ketegangan.

Jika Anda merasa cemas atau bersalah tentang pilihan-pilihan yang telah Anda ambil, inilah saatnya untuk berhenti dan mengevaluasi. Habiskan rasa itu. Pada akhirnya, Anda perlu menyadari bahwa jika Anda masih menyimpan perasaan terhadap mantan Anda, itu adalah cermin dari ketidakmampuan untuk sepenuhnya menerima kenyataan. Proses berdamai dengan masa lalu adalah hal yang penting. Anda perlu yakin bahwa masa lalu tersebut telah berlalu dan tidak ada kemungkinan untuk terulang dalam bentuk yang sama lagi. Seperti yang dijelaskan oleh Cohen (2023), individu yang terus-menerus terjebak dalam kenangan masa lalu dan tidak bisa melepaskan perasaan tersebut berisiko jatuh ke dalam siklus envy yang terus mengganggu keseimbangan emosional mereka.

Memang benar, pada awalnya Anda merasa labil dan bingung dengan apa yang Anda rasakan sekarang. Namun, mengakui perasaan ini adalah langkah pertama untuk melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalu, dan membuka peluang untuk menjalani hubungan yang lebih sehat dan memuaskan di masa depan.

 

Pada dasarnya, ketika di masa lalu Anda merasa hancur dan merasakan bahwa Anda menempati kondisi ideal—di mana Anda tidak terbebani oleh berbagai macam urusan dan tanggung jawab yang berat—kehidupan terasa lebih ringan. Saat itu, Anda menjalaninya dengan santai, tanpa tekanan. Namun, seiring berjalannya waktu, Anda mulai bergantung pada teman-teman dan orang sekitar yang Anda anggap menyelamatkan hidup Anda dari kehancuran. Kini, apakah Anda masih sama, didampingi oleh orang yang sama? Mengapa Anda bersikap demikian? Ke mana komitmen Anda?

Pertanyaan ini merujuk pada fenomena envy (iri) yang seringkali menjadi bagian dari perjalanan hidup kita. Dalam psikologi gelap (dark psychology), envy bukan sekadar perasaan negatif terhadap keberhasilan orang lain, tetapi dapat berkembang menjadi sebuah bentuk manipulasi yang lebih dalam. Envy memanipulasi cara kita menilai diri sendiri, menciptakan rasa ketidakpuasan dengan apa yang telah kita capai, dan mendorong kita untuk membandingkan diri dengan orang lain, meskipun kita tahu bahwa pencapaian tersebut tidak realistis (Starr et al., 2020).

Anda mulai menjalani kehidupan yang rumit, seperti yang saya tuliskan, tetapi mengapa Anda tidak menikmatinya seperti yang Anda nikmati di masa lalu? Mengapa Anda terjebak dalam pencapaian-pencapaian yang tampaknya begitu tak terjangkau dan tidak nyata? Envy sering kali menciptakan persepsi bahwa apa yang dimiliki orang lain adalah hal yang lebih berharga, sehingga kita lupa untuk menghargai dan menikmati apa yang kita miliki saat ini. Sebuah studi oleh Chabrol et al. (2021) menunjukkan bahwa perasaan iri dapat meningkatkan dorongan untuk mengejar status atau kebebasan yang lebih besar, bahkan meskipun kebebasan tersebut berisiko mengorbankan kebahagiaan sejati.

Anda mungkin merasa terjebak dalam perasaan yang tidak jelas, seakan hidup ini memaksakan pilihan dan komitmen. Anda sedang mengejar kebebasan, seperti kebebasan di masa lalu, namun kebebasan ini justru menciptakan ketidakmampuan untuk membuat keputusan yang pasti. Seperti yang dijelaskan oleh Smith et al. (2023), perasaan envy yang berlarut-larut dapat menyebabkan ketidakpastian dalam membuat komitmen atau keputusan penting dalam hidup. Pikiran yang terus-menerus terfokus pada keinginan untuk mencapai sesuatu yang tampaknya lebih baik atau lebih bebas, malah mengarah pada penundaan dan ketidakmampuan untuk mengambil langkah maju yang jelas.

Apakah itu yang membuat Anda tidak bisa memutuskan untuk mengambil komitmen?

Dalam konteks "Sin of Envy" atau dosa iri, perasaan ini muncul saat seseorang terperangkap dalam ketidakpuasan dan perbandingan sosial. Iri bisa terjadi ketika Anda merasa cemburu terhadap komitmen atau keberhasilan orang lain dalam hubungan atau tujuan hidup mereka. Anda mungkin merasa tertekan, seolah-olah keberhasilan orang lain adalah cerminan kegagalan Anda. Ada kecenderungan untuk meremehkan pencapaian sendiri, seakan-akan tidak layak menerima hal baik yang telah terjadi. Terkadang, dalam benak Anda, pencapaian yang ada sekarang tidak dianggap sebagai prestasi, tetapi lebih sebagai takdir yang memang seharusnya Anda dapatkan—sebuah kesan yang diperkuat oleh rasa tidak puas yang terus berkembang.

Namun, apakah Anda pernah berpikir bahwa pencapaian yang Anda raih adalah hasil dari rasa syukur dan ketekunan Anda? Mengapa tidak melihatnya sebagai buah dari bertahan hidup di dunia yang penuh ketidakpastian ini? Sebaliknya, bisa jadi Anda memandang pencapaian dalam sebuah hubungan atau komitmen sebagai hambatan. Dalam situasi ini, hubungan tidak lagi menjadi sesuatu yang memperkaya hidup, tetapi malah menjadi sebuah beban yang menggeser prioritas Anda. Seringkali, Anda mungkin bertanya-tanya, apakah berkomitmen dalam hubungan adalah langkah yang benar-benar mendukung tujuan hidup Anda?

Pandangan ini, menurut teori psikologi gelap, mencerminkan bagaimana perasaan iri dan cemburu dapat menuntun pada distorsi dalam pengambilan keputusan. Dalam teori "Social Comparison Theory" oleh Festinger (1954), seseorang akan merasa lebih baik jika mereka merasa lebih unggul dibandingkan orang lain. Namun, dalam kasus iri, justru muncul perasaan inferior yang mendorong seseorang untuk mengabaikan atau meremehkan apa yang sudah mereka miliki. Perasaan iri ini dapat mengarah pada "self-sabotage", yang membuat Anda meragukan komitmen dalam hubungan sebagai penghalang, bukan kesempatan untuk pertumbuhan pribadi.

Dalam kajian lebih lanjut, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kecenderungan untuk merasa iri bukan hanya berdampak pada kesejahteraan psikologis, tetapi juga dapat mempengaruhi kualitas hubungan interpersonal dan pengambilan keputusan. Sebagai contoh, penelitian oleh Van de Ven et al. (2020) menemukan bahwa iri bisa mengarah pada pengambilan keputusan yang emosional dan impulsif, sering kali tanpa mempertimbangkan hasil jangka panjang. Hal ini terjadi karena individu yang merasa iri cenderung mencari cara untuk "mengalahkan" orang lain, bahkan jika itu merugikan diri mereka sendiri.

Selain itu, Anda mungkin juga merasa bahwa komitmen dalam hubungan romantis akan mengganggu jalur kesuksesan pribadi Anda. Tetapi, apakah prioritas utama Anda benar-benar adalah hal yang paling penting? Dalam "Goal Setting Theory" (Locke & Latham, 2019), dijelaskan bahwa tujuan yang jelas dan terukur bisa memberikan arah dan motivasi. Namun, seringkali individu yang merasa iri tidak dapat memandang hubungan sebagai bagian dari pencapaian mereka, sehingga memandangnya sebagai gangguan. Padahal, hubungan yang sehat bisa menjadi sumber dukungan emosional yang sangat penting dalam meraih tujuan hidup.

Apa yang sebenarnya Anda inginkan dari komitmen dalam sebuah hubungan? Apakah hubungan bisa menjadi wadah untuk mendukung perencanaan hidup Anda, atau malah menjadi penghalang yang tidak bisa Anda kendalikan? Mungkin saatnya untuk merefleksikan kembali apakah komitmen yang Anda hindari bukan justru salah satu cara untuk mencapai tujuan hidup yang lebih memuaskan.

Namun, di balik keinginan Anda untuk mencapai lebih, ada perasaan iri yang terus membayangi. Iri terhadap pencapaian orang lain, iri terhadap hubungan yang tampaknya lebih sempurna, iri terhadap apa yang Anda rasa belum Anda capai. Anda selalu menginginkan lebih, lebih, dan lebih dari yang Anda peroleh sekarang, tetapi tanpa menyadari bahwa perasaan tersebut dapat mengarah pada perilaku destruktif dalam hubungan Anda. Tidak jarang, perasaan iri ini berakar pada ketidakpuasan diri yang lebih dalam (Smith & Kim, 2021), yang pada gilirannya mendorong seseorang untuk membandingkan dirinya dengan orang lain dalam upaya untuk mengatasi perasaan tidak cukup (Van de Ven et al., 2020).

Apa yang sebenarnya Anda inginkan dari komitmen dalam sebuah hubungan? Apa yang membuatnya begitu sulit untuk memahami apakah hubungan itu adalah pelabuhan yang aman atau jebakan yang semakin mengikat? Anda merasa terjebak dalam sebuah ruangan gelap tanpa pintu keluar. Begitu banyak suara di luar sana, tetapi semuanya hanya berbisik dengan kebohongan yang membingungkan. Apakah mungkin, hanya mungkin, Anda sudah menginginkan lebih dari sekadar hubungan yang memadai? Bukankah itu yang Anda yakini? Atau mungkin, apa yang Anda anggap kenyataan hanyalah ilusi yang dibangun dari kecemasan dan perasaan tidak cukup?

Anda selalu menginginkan lebih, lebih, dan lebih. Terkadang, apa yang Anda inginkan bukan hanya kesempurnaan dari hubungan Anda, tetapi sesuatu yang lebih gelap—keinginan untuk melihat orang lain gagal, untuk merasakan bahwa Anda lebih unggul dari mereka yang tampaknya lebih bahagia, lebih sempurna. Terkadang, Anda merasakan kebahagiaan yang hanya bersifat sementara, seperti bayangan samar yang menghilang secepat ia datang, dan perasaan iri itu semakin kuat, merusak kenyataan Anda.

Seseorang yang Anda kenal, mungkin pasangan teman atau orang terdekat, tampak begitu posesif, begitu mengikat dalam cara mereka mengelola hubungan mereka—tetapi kemudian, ada juga mereka yang menjalani hubungan dengan begitu santai, tanpa beban yang jelas. Bagaimana bisa ini semua berjalan begitu mudah bagi mereka? Tidak adakah celah dalam kenyataan mereka? Anda terus-menerus membandingkan—menghitung kesalahan, mengukur ketidaksempurnaan, tetapi semakin Anda menggali, semakin dalam pula rasa iri itu tumbuh. Mungkin Anda merasa terjebak dalam kegelapan itu, menginginkan apa yang mereka miliki, meskipun Anda tahu, di dalam hati Anda, hubungan yang Anda jalani tidak pernah cukup bagi Anda.

Dan di sini, dalam ruang yang tampaknya aman, pertanyaan besar mulai muncul—apakah Anda benar-benar ingin menikmati hubungan yang Anda jalani, ataukah Anda hanya ingin merasa lebih baik dengan menciptakan perbandingan yang merusak? Anda terus berusaha mencari alasan, mencari celah dalam kenyataan yang telah dibangun di sekeliling Anda, hingga akhirnya Anda mulai meragukan diri Anda sendiri. Apa yang benar-benar Anda inginkan? Tidak bisakah Anda hanya menikmati kenyataan yang ada, tanpa terus-menerus mencari yang lebih baik, yang lebih sempurna?

Di sisi lain, apakah Anda menyadari bahwa dalam pergulatan batin ini, seseorang mungkin telah memanipulasi persepsi Anda? Mungkin tidak ada yang pernah benar-benar menyentuh hidup Anda dengan cara yang tulus—sebaliknya, mereka hanya menarik dan mendorong, mengadu domba perasaan Anda dengan teknik-teknik yang mereka kuasai. Push and pull, seperti saat mereka menunjukkan perhatian, hanya untuk menariknya kembali dan membuat Anda merasa tidak cukup. Begitu Anda merasa sedikit tenang, mereka mengguncang fondasi Anda, membuat Anda mempertanyakan semuanya—apakah benar hubungan ini layak dipertahankan? Apakah Anda terlalu mengharapkan sesuatu yang lebih baik? Gaslighting, perlahan-lahan meracuni persepsi Anda, membuat Anda bertanya-tanya apakah Anda benar-benar layak bahagia.

Di tengah bayangan ini, Anda mulai merasa terikat pada sesuatu yang lebih kuat dari sekadar hubungan—sebuah tali tak terlihat yang menarik Anda ke dalam dunia yang penuh keraguan. Begitu banyak yang perlu Anda pertanyakan, tetapi setiap kali Anda melangkah maju, rasanya seperti Anda melangkah lebih dalam ke dalam kegelapan yang lebih dalam.

Lalu, apakah itu semua akan Anda masukkan ke dalam hubungan yang Anda buat sekarang? Dengan membiarkan perasaan iri menguasai, Anda mungkin tanpa sadar memanipulasi realitas hubungan tersebut untuk memenuhi kebutuhan emosional yang lebih mendalam, meskipun itu berisiko merusak kedamaian yang sebenarnya bisa Anda nikmati. Apakah Anda tidak bisa menikmati hubungan yang sedang Anda jalani tanpa membandingkannya dengan semua itu? Bagaimana jika kenyataannya Anda bisa lebih bahagia jika Anda berhenti mencari kesempurnaan dalam perbandingan dan menerima kenyataan dengan segala kekurangannya?

Dalam penutup, mari kita mengakhiri perjalanan refleksi ini dengan pemahaman bahwa Envy (Iri) bukanlah teman yang baik dalam hubungan romansa. Iri terhadap masa lalu atau keberhasilan orang lain hanya memperlebar jurang antara keinginan dan kenyataan kita, merampas potensi kebahagiaan yang bisa kita capai. Teori psikologi sosial terbaru menunjukkan bahwa perasaan iri sering kali diperburuk oleh fenomena sosial media, yang menciptakan persepsi palsu tentang kehidupan orang lain yang lebih sempurna (Chou & Edge, 2019). Ketika kita terjebak dalam perbandingan sosial, kita membiarkan perasaan negatif merusak potensi kita untuk merasa puas dengan kondisi kita sendiri (Tiggemann & Slater, 2021).

Menghadapi perasaan ini dengan penuh kesadaran adalah langkah pertama untuk melepaskan diri dari cengkraman iri hati. Dengan mengakui perasaan ini, kita membuka pintu untuk menciptakan ruang bagi rasa syukur dan penerimaan diri. Sebagai manipulasi psikologis yang lebih gelap, perasaan iri sering digunakan untuk menciptakan ketegangan dalam hubungan, terutama ketika seseorang merasa bahwa dia lebih berhak atas perhatian atau penghargaan daripada orang lain (Smith & Kim, 2020). Dalam banyak kasus, strategi manipulatif ini digunakan untuk mengendalikan dan mengeksploitasi perasaan orang lain demi kepentingan diri sendiri, tanpa memedulikan dampak jangka panjang pada hubungan (Johnson & Campbell, 2021).

Namun, komitmen dalam hubungan bukanlah penghalang, melainkan fondasi yang kokoh untuk membangun ikatan yang sehat dan saling menghormati. Kita harus memahami bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari membandingkan diri kita dengan orang lain, tetapi dari keberanian untuk menerima siapa kita saat ini dan bagaimana kita tumbuh sebagai individu. Sebagai manusia, kita berhak untuk merasakan perubahan dan pertumbuhan, dan ini dapat memperkaya hidup kita dengan kebahagiaan yang lebih mendalam.

Hidup bukanlah perjalanan yang mudah, dan kita sering kali dihadapkan pada tantangan yang menguji keyakinan dan komitmen kita. Namun, dengan pandangan yang positif dan komitmen yang tulus, kita dapat menciptakan cerita cinta yang sesuai dengan kita masing-masing. Dengan belajar untuk melepaskan perasaan iri dan menerima perjalanan hidup kita sendiri, kita bisa melangkah maju dengan lebih percaya diri dan rasa syukur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan

Perspectives 12

Bukan Sekadar “Yes-Man”: Menguak Sisi Rentan di Balik Kerentanan Manipulasi