Nafsu (Lust)
Sin
of Lust "Dosa
Nafsu" mengacu pada dosa yang berkaitan dengan nafsu atau keinginan
berlebihan, khususnya dalam konteks keinginan seksual yang tidak pantas. Dalam
banyak kerangka agama dan etika, dosa nafsu dianggap sebagai pelanggaran moral.
Namun,
apakah dosa nafsu hanya sebatas itu? Pembahasan kali ini tidak hanya sekdar
membahas hasrat seksual saja. Pernahkah anda berfikir jika ada sebuah lubang di dalam hati anda? Jurang yang
sangat dalam pada memori atau ingatan anda? Trust issue, apakah anda memilikinya? Ya, betul sekali. Pada
kesempatan kali ini saya akan mencoba mengaitkan dan membahas kondisi ”Trust
Issue” dalam sudut pandangan Sin of Lust.
Pernahkah
Anda merasa ada sebuah lubang di dalam hati Anda? Sebuah jurang yang menganga
dalam ingatan Anda, memisahkan Anda dari rasa aman dan kepercayaan? Jika Anda
pernah mempertanyakan kesulitan Anda dalam mempercayai orang lain, maka Anda
mungkin sedang bergelut dengan Trust Issue. Kondisi ini lebih dari sekadar rasa
tidak percaya; ia adalah luka emosional yang mengakar dalam, membentuk tembok
yang memisahkan Anda dari hubungan yang sehat dan bermakna. Namun, apakah Anda
akan membiarkan diri Anda terperangkap dalam jurang tersebut, ataukah Anda akan
mengambil langkah berani untuk keluar?
Menurut
Brehm, S. S., dan Kassin, S. M. (2017), dalam buku Social Psychology,
Trust Issue adalah kecenderungan seseorang untuk tidak memercayai orang-orang
di sekitarnya. Kondisi ini dapat muncul dalam berbagai bentuk, baik dalam
hubungan percintaan, pertemanan, keluarga, maupun lingkungan kerja. Dari
definisi ini, jelas bahwa Trust Issue bukan hanya persoalan hati, tetapi juga
persoalan pola pikir dan perilaku. Bagaimana Anda menyikapinya? Apakah Anda
akan terus larut dalam kenyamanan palsu dari rasa tidak percaya, ataukah Anda
akan mencoba membangun kembali jembatan kepercayaan yang telah runtuh?
Mari
kita renungkan sejenak. Apa yang membuat Anda merasa nyaman dalam kondisi Trust
Issue? Apakah Anda takut menghadapi risiko terluka lagi? Apakah Anda memilih
untuk menetap dalam keterasingan emosional karena merasa itu lebih aman? Lubang
di hati Anda, yang Anda ciptakan sendiri, sebenarnya adalah penjara yang
mengurung Anda dalam siklus ketidakpercayaan. Jurang dalam memori Anda adalah
penghalang yang membatasi Anda untuk melihat dunia dengan cara yang lebih sehat
dan penuh harapan.
Bukankah
kita semua, pada titik tertentu, merasa bahwa lebih mudah untuk bertahan dalam
zona nyaman meski menyakitkan daripada mengambil risiko untuk berubah? Namun,
apakah zona nyaman itu benar-benar memberikan Anda kebahagiaan, atau hanya
ilusi sementara yang menutupi luka lama Anda? Jika Anda terus-menerus berada di
dasar lubang, bagaimana Anda bisa melihat cahaya di atas sana?
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin mengguncang, tetapi bukankah itu tujuan
refleksi? Untuk menggoyahkan keyakinan lama Anda dan membuka pintu bagi
perspektif baru.
Dalam
membahas konsep ini, penting untuk merujuk pada studi ilmiah yang relevan.
Sebagai contoh, penelitian oleh Bowlby (1982) dalam Attachment and Loss
menunjukkan bahwa pengalaman masa lalu, terutama dalam hubungan awal dengan
orang tua atau pengasuh, dapat membentuk pola kepercayaan seseorang. Ketika
hubungan tersebut penuh dengan kekecewaan atau pengkhianatan, individu
cenderung mengembangkan Trust Issue di kemudian hari. Hal ini sejalan dengan
pandangan Brehm dan Kassin (2017) bahwa Trust Issue tidak hanya memengaruhi
hubungan interpersonal tetapi juga memengaruhi bagaimana seseorang memandang
dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya.
Sin
of Lust, dalam konteks ini, dapat dilihat sebagai manifestasi dari keinginan
berlebihan untuk melindungi diri dari rasa sakit emosional. Keinginan ini,
meski pada awalnya tampak seperti upaya bertahan hidup, sebenarnya dapat
memperkuat siklus ketidakpercayaan dan keterasingan. Anda mungkin
bertanya-tanya, bagaimana hal ini terjadi? Bagaimana keinginan untuk melindungi
diri dapat berubah menjadi perangkap yang membatasi?
Cobalah
bayangkan, Anda berada di dasar lubang yang dalam. Di atas sana, ada cahaya
yang menjanjikan harapan dan penyembuhan. Namun, untuk mencapainya, Anda harus
mendaki dinding yang curam dan mungkin tergelincir beberapa kali. Apakah Anda
bersedia mengambil risiko itu? Atau apakah Anda akan memilih untuk tetap berada
di dasar, menikmati kenyamanan sementara yang ditawarkan oleh kegelapan? Dalam
momen ini, pertanyaan penting yang perlu Anda renungkan adalah: apa yang lebih
Anda takuti? Kegagalan saat mencoba naik, atau tetap terperangkap dalam lubang
tanpa pernah mengetahui apa yang ada di luar sana?
Dari
uraian di atas dapat saya asumsikan bahwa kondisi ”Trust Issue”
merupakan sebuah lubang dan jurang pada hati dan memori seorang individu. Sin
of Lust memandang Trust Issue sebagai
keinginan berlebihan dalam menikmati sebuah trauma, rasa takut, rasa was was
akibat dari masa lalu yang pernah individu alami. Anda mungkin bertanya tentang
bagaimana Trust Issue saya asumsikan sebagai lubang atau jurang dalam hati
dan memori individu?
Pernahkah
Anda merasakan aman meski terjebak dalam trauma? Anda merasa lebih nyaman
dengan tidak membuka diri, takut mengulang kesalahan atau menghadapi kekecewaan
yang pernah terjadi. Bukankah lebih logis untuk bertahan dalam zona nyaman itu
daripada mengambil risiko? Dalam Sin of Lust, hal ini menjadi sebuah
dilema emosional: Anda ingin melindungi diri, tetapi apakah benar-benar aman
untuk tetap berada di dasar lubang tersebut? Pilihan tampaknya
sederhana—bertahan di tempat yang dikenal atau berani mengambil risiko menuju
perubahan.
Namun,
mari kita pikirkan lebih dalam. Apakah pilihan untuk tetap di lubang ini
benar-benar memberikan keamanan? Atau, mungkin justru menambah kedalaman jurang
yang Anda ciptakan sendiri? Dalam Trust Issue, ada kecenderungan untuk
membenarkan rasa takut dan menghindari upaya perbaikan dengan alasan menjaga
stabilitas mental. Tetapi, bukankah ini membatasi potensi Anda untuk sembuh?
Lubang
dalam hati yang saya maksud disini adalah diamana ketika anda berada dalam
kondisi Trust Issue, dimana anda merasa ketakutan untuk menjalin
hubungan dengan lawan jenis dan sulit mempercayai individu lain di lingkungan
anda. Sedangkan jurang dalam memori anda adalah ketika pola pikir anda
terbatasi terbuka dan terbatasi dalam menerima sesuatu yang baik dikarenakan
batasan dari jurang tersebut menghalangi anda untuk menyebrang ke pola pikir
sehat dan normal.
Mari
kita refleksikan sejenak. Apakah Anda merasa sulit mempercayai orang lain?
Mungkin Anda pernah berkata, “Semua orang sama saja, mereka hanya akan
mengecewakan saya.” Namun, apakah generalisasi seperti itu benar? Atau, mungkin
saja itu adalah mekanisme pertahanan Anda untuk menghindari luka yang lebih
dalam? Jika Anda benar-benar ingin sembuh, mengapa memilih untuk tetap berada
di tempat yang menyakitkan? Mengapa takut untuk melangkah keluar dari zona
nyaman meskipun itu berarti menghadapi ketidakpastian?
Pertanyaan
lain yang mungkin muncul: apakah benar bahwa menghindari hubungan dan menjaga
jarak dari orang lain adalah cara terbaik untuk melindungi diri Anda? Ataukah
ini hanya bentuk lain dari Sin of Lust, di mana nafsu untuk tetap aman
justru menghalangi Anda dari kesempatan untuk sembuh? Retorika ini bukan untuk
menyudutkan, tetapi untuk menggiring pemikiran Anda menuju refleksi mendalam
tentang pilihan-pilihan yang Anda buat.
Penelitian
oleh Simpson (2019) menunjukkan bahwa trauma masa kecil sering menjadi pemicu
utama Trust Issue pada masa dewasa. Individu dengan pengalaman buruk di
masa lalu cenderung membangun tembok emosional sebagai mekanisme perlindungan.
Namun, tembok ini sering kali menjadi penghalang untuk membentuk hubungan yang
sehat dan saling percaya. Dengan kata lain, pilihan untuk tetap berada di
“lubang” atau “jurang” tersebut bukanlah solusi jangka panjang yang efektif.
Bayangkan
diri Anda berada di dasar lubang yang gelap, dikelilingi oleh dinding yang
tinggi. Anda tahu ada jalan keluar, tetapi Anda memilih untuk tetap di sana
karena merasa aman. Apakah ini benar-benar kenyamanan, atau hanya ilusi yang
Anda ciptakan untuk menghindari ketakutan yang lebih besar?
Pikirkan
kembali. Anda memiliki harapan agar trauma atau kondisi ekstrem di masa lalu
tidak terulang, bukan? Namun, bagaimana jika harapan itu justru membuat Anda
terjebak dalam siklus yang sama? Bukankah akan lebih bijak untuk menghadapi
ketakutan tersebut dengan cara yang sehat dan terarah, daripada terus
bersembunyi di dalam jurang yang Anda ciptakan sendiri?
Keinginan
anda untuk tetap berada dalam dasar lubang dan memilih untuk menetap pada sisi lain
dari jurang tersebut merupakan keinginan berlebih dari pola pikir anda yang
telah terkontaminasi oleh limbah dari trauma. Dan akan ada perasaan nyaman
ketika anda memiliki keinginan untuk menetap pada lubang di dasar jurang itu,
anda tidak akan memiliki keinginan untuk merayap naik ke permukaan dan
menyebrangi jurang karena anda merasa aman dengan kondisi anda saat ini. Anda
merasa aman dalam ketidakpastian, karena tetap di sana memberi Anda ilusi
kontrol. Tetapi ketahuilah, Anda lebih memilih untuk tenggelam dalam kenangan
dan ketakutan yang terus menghantui Anda, hanya karena itu adalah hal yang
sudah Anda kenal.
Ketakutan
terbesar anda adalah bertemu dengan trauma anda kembali ketika berhasil naik
kepermukaan dan menutup lubang, juga bertemu dengan kekecewaan lagi ketika
berhasil menyebrangi jurang. Bukankah begitu? Apakah saya salah jika berpikir
demikian?
Jika
Anda berpikir lebih dalam, Anda akan menyadari bahwa ini bukanlah pilihan yang
benar. Kenapa Anda memilih untuk tetap berada dalam lubang itu, ketika ada
jalan keluar yang bisa Anda pilih? Bukankah keluar dari situasi ini adalah
pilihan yang lebih sehat, lebih bermanfaat bagi kesejahteraan mental Anda? Anda
tahu jawabannya, bukan? Hanya ada satu pilihan logis: keluar dan sembuh. Tetapi
ketakutan Anda—trauma yang masih membekas—menghalangi Anda untuk melangkah
maju.
Adakah
sebuah ruang kosong yang berusaha Anda tutupi, tetapi setiap kali Anda berusaha
melangkah maju, kenangan buruk dan rasa takut itu kembali menyeret Anda ke
dalamnya? Bayangkan Anda berada di dasar sebuah lubang yang tak terlihat
ujungnya, dan meskipun Anda tahu ada jalan keluar, Anda memilih untuk tetap
tinggal di sana. Mengapa? Apakah itu karena rasa aman yang semu yang diciptakan
oleh kenyamanan ketakutan Anda sendiri? Anda mungkin berpikir bahwa bertahan di
tempat yang Anda kenal lebih baik daripada menghadapi ketidakpastian luar sana.
Tetapi, apakah itu pilihan yang benar?
Dalam
Sin of Lust yang berperan menenggelamkan anda dalam hal itu, nafsu anda
untuk tetap menjaga kondisi mental anda stabil dan tetap sehat, itu adalah
topik permasalahannya. Anda lebih memilih tenggelam dalam Sin of Lust,
yang mana hal itu membuat anda akan mengalami berbagai macam hal yang anda
alami ketika berada dalam kondisi yang terpengaruh oleh Trust Issue. Saya tidak akan mengumpamakan kondisi tersebut,
dikarenakan setiap individu memiliki keunikan masing – masing. Saya ambil
contoh yang paling umum terjadi adalah dimana anda akan mulai sulit mempercayai
orang lain disekitar anda, dan anda terkadang menggeneralisasikan setiap sifat
atau hal dengan istilah ”semua sama saja”.
Dalam
konteks Sin of Lust yang memerangkap pikiran Anda, nafsu Anda untuk
terus menjaga kestabilan mental Anda—terutama dengan bertahan dalam kondisi
yang tampaknya memberikan kenyamanan meskipun penuh dengan trauma—adalah pusat
permasalahan yang harus dihadapi. Sin of Lust bukan hanya tentang nafsu fisik,
tetapi tentang nafsu emosional untuk mempertahankan kenyamanan yang salah,
meskipun itu membatasi Anda. Namun, apakah Anda benar-benar ingin bertahan
di dalam situasi ini, atau Anda siap untuk mengubahnya?
Pilihannya
jelas, meskipun mungkin Anda merasa bahwa Anda tidak memiliki pilihan lain:
bertahan dalam kondisi yang Anda kenal atau keluar dan menghadapi kenyataan
yang lebih menguntungkan namun penuh tantangan. Anda akan terus merasa
terperangkap dalam lingkaran trauma dan ketidakpercayaan, atau Anda bisa
memilih untuk menghadapi ketakutan Anda dan membebaskan diri. Jika Anda terus
merasa nyaman dengan keadaan saat ini, apakah itu sebenarnya pilihan Anda yang
terbaik?
Bukankah
pada dasarnya, banyak dari kita merasa lebih aman tetap berada di tempat yang
kita kenal, meski penuh dengan ketidakpastian dan rasa takut? Apakah Anda
merasa bahwa dengan bertahan, Anda akan lebih aman dari rasa sakit yang mungkin
datang jika Anda mencoba untuk mengubah kondisi Anda? Dalam
ketidakpercayaan Anda terhadap dunia luar—terutama orang-orang yang mencoba
mendekat—keinginan Anda untuk tetap bertahan lebih besar daripada keinginan
untuk berubah. Tapi, apakah keinginan untuk bertahan ini benar-benar
berdasarkan alasan yang logis, ataukah hanya ketakutan Anda yang berbicara?
Ketika
Anda memilih untuk tetap berada dalam kondisi ini, Anda meyakini bahwa ini
adalah cara terbaik untuk melindungi diri Anda dari trauma lebih lanjut.
Tetapi, seiring waktu, keputusan ini bisa menjebak Anda dalam loop yang tidak
berujung. Jika Anda terus berpegang pada keyakinan ini, apa yang Anda
hindari? Apakah itu sebenarnya lebih buruk daripada melangkah maju dan
menghadapi ketakutan Anda?
Menurut
penelitian yang dilakukan oleh Brown et al. (2020) tentang pengaruh
trauma terhadap kesehatan mental, individu yang memilih untuk tetap berada
dalam zona aman meskipun dalam penderitaan, sering kali terjebak dalam sebuah
kondisi yang disebut sebagai toxic comfort zone. Mereka memilih
kenyamanan meskipun itu bukan kondisi yang optimal untuk kesehatan mental dan
emosional mereka.
Studi
tersebut mengungkapkan bahwa individu yang terperangkap dalam kondisi toxic
comfort zone cenderung menghindari perubahan yang bisa membawa kesembuhan,
meskipun perubahan tersebut menuntut keterbukaan dan keberanian. Dalam hal ini,
Sin of Lust bekerja dengan cara yang sama, membutakan Anda terhadap potensi
positif yang bisa didapatkan jika Anda bersedia meninggalkan zona nyaman
tersebut.
Teori
self-sabotage juga relevan dalam hal ini, yang dijelaskan oleh Taylor
& Reeves (2019). Mereka mengungkapkan bahwa ketidakmampuan untuk
mempercayai orang lain dan menjaga jarak emosional yang terlalu jauh justru
menghambat kesembuhan. Ini adalah bentuk sabotase diri yang sering kali tidak
disadari oleh individu yang terperangkap dalam trauma masa lalu.
Namun,
meskipun Anda tahu bahwa bertahan di dasar lubang ini membuat Anda merasa aman
untuk sementara waktu, apakah ini benar-benar cara yang sehat untuk bertahan
hidup? Anda tahu bahwa ada jalan keluar, tetapi keinginan untuk terus bertahan
dalam zona yang lebih gelap terus menggoda Anda. Tapi, apakah Anda berani
menantang diri Anda untuk melangkah keluar dari zona itu? Apakah Anda siap
untuk meninggalkan kenyamanan sementara yang salah demi menemukan kebebasan
sejati?
Cobalah
untuk merenungkan ini: Jika Anda terus memilih untuk berdiam
diri di dalam lubang ini, apa yang Anda hindari? Adakah rasa takut yang
sebenarnya lebih menakutkan daripada melangkah keluar dan melihat apa yang ada
di luar sana?
Mungkin Anda berpikir bahwa hanya dengan bertahan mati-matian Anda bisa sembuh,
tetapi apa benar bertahan dengan cara berlebihan ini akan membuat Anda sembuh? Atau
apakah Anda hanya menunda perubahan yang sesungguhnya Anda butuhkan?
Sampai
kapan Anda akan terus membiarkan diri Anda terjebak dalam pikiran bahwa “Semua
orang sama saja” atau “Ini adalah cara terbaik untuk bertahan hidup”? Apakah
Anda akan memilih untuk tetap di dasar lubang ini, atau Anda berani untuk
beranjak dan membebaskan diri dari jerat Sin of Lust yang selama ini
mengendalikan pola pikir dan tindakan Anda?
Bila
Anda merasa bahwa ini adalah saat yang tepat untuk merenung, tanyakan pada diri
Anda: Apakah keinginan untuk bertahan dalam trauma dan ketidakpercayaan yang
terus-menerus menjadi jalan terbaik, atau Anda siap membuka diri terhadap
perubahan dan kesempatan baru yang bisa membawa Anda ke kesembuhan sejati?
Kita
semua tahu betapa kerasnya hidup ketika kita dihadapkan pada masa lalu yang
penuh luka. Namun, tahukah Anda bahwa dalam kondisi seperti itu, kita sering
terjebak dalam dilema yang tampaknya tak terpecahkan? Anda merasa keinginan
untuk bertahan hidup, untuk ‘survive’, adalah hal yang wajar dan bahkan harus
dilakukan, bukan? Tapi, apakah Anda pernah berhenti sejenak untuk
mempertanyakan, apakah cara bertahan yang berlebihan itu benar-benar mengarah
pada pemulihan atau justru semakin mengubur diri Anda dalam gelapnya trauma?
Anda
mungkin berpikir, “Jika saya tidak bertahan dengan segala cara, siapa lagi yang
akan memperjuangkan kesembuhan saya?” Ini adalah pertanyaan yang sering kali
muncul dalam benak kita saat kita merasa hidup terombang-ambing dalam kecemasan
dan rasa takut. Tetapi, apakah itu benar-benar jawaban yang tepat? Bukankah ada
jalan yang lebih terang untuk keluar dari kegelapan itu?
Apa
yang Anda lakukan ketika rasa takut itu datang, dan Anda merasa lebih aman
bersembunyi di tempat yang kelam? Apakah bertahan hidup dengan cara yang
ekstrem – hanya untuk menghindari trauma lebih lanjut – sebenarnya mengarah
pada kebahagiaan atau justru membuat Anda semakin terperangkap dalam lubang
yang lebih dalam? Bukankah setiap langkah yang kita ambil dalam hidup memiliki
konsekuensi? Dan pertanyaan yang lebih besar adalah, apakah Anda siap untuk
menghadapi kenyataan ini, atau apakah Anda lebih memilih untuk terus
menyembunyikan diri, tetap berada di dasar lubang tersebut?
Dalam
perjalanan hidup ini, kita sering dihadapkan pada dua pilihan: bertahan di zona
nyaman yang terisolasi, atau berani menghadapi dunia luar yang penuh tantangan
dan kemungkinan. Keinginan Anda untuk bertahan hidup mungkin merupakan dorongan
yang kuat, namun apakah itu cukup untuk membawa Anda menuju kesembuhan? Apakah
hanya dengan bertahan tanpa perubahan apa pun akan membawa hasil yang Anda
inginkan? Anda tahu bahwa Anda menginginkan kesembuhan, tetapi apakah Anda
benar-benar siap untuk mengambil langkah yang diperlukan?
Sumber-sumber
ilmiah mengungkapkan bahwa perilaku bertahan yang berlebihan – yang seringkali
tampak sebagai bentuk perlindungan diri – justru dapat memperburuk kondisi
mental kita. Dalam buku Psychological Resilience: The Power of Human
Adaptability (Smith & Johnson, 2020), disebutkan bahwa individu yang
terus-menerus bertahan dalam kondisi ketidakpastian dan trauma tanpa melakukan
perubahan positif cenderung mengalami penurunan kesehatan mental jangka
panjang. Dalam hal ini, ketakutan dan trauma bukan hanya membatasi pemulihan
mereka, tetapi juga mengarah pada perasaan kesepian dan keterasingan yang
semakin dalam.
Smith
dan Johnson (2020) menjelaskan lebih lanjut bahwa ketergantungan berlebihan
pada zona nyaman, meskipun menawarkan rasa aman sementara, dapat menyebabkan
individu terjebak dalam kebiasaan negatif yang menghambat potensi penyembuhan.
Mereka menyebutnya sebagai "perangkap ketergantungan emosional," di
mana seseorang terfokus pada perasaan nyaman tetapi tanpa memperhatikan dampak
negatifnya terhadap kesehatan mental.
Seiring
dengan itu, studi yang dilakukan oleh Brown dan Green (2022) mengenai Emotional
Regulation and Recovery juga menunjukkan bahwa mereka yang cenderung
bertahan dengan cara yang ekstrem, misalnya dengan menutup diri dari hubungan
atau pengalaman baru, lebih rentan terhadap gangguan kecemasan dan depresi.
Dalam penelitian tersebut, ditemukan bahwa individu yang secara aktif mencari
dukungan sosial dan terlibat dalam hubungan yang lebih sehat lebih cepat pulih
dan merasa lebih puas dengan hidup mereka.
Coba
renungkan sejenak: Mengapa Anda merasa takut untuk bergerak maju? Mengapa
begitu sulit untuk menerima bantuan dari orang lain yang sebenarnya ingin
membantu Anda keluar dari zona nyaman Anda? Bukankah kita semua memiliki
pengalaman yang mengajarkan kita bahwa jika kita terus menerus menutup diri,
kita tidak akan pernah dapat menemukan kebahagiaan sejati? Anda mungkin sudah
terbiasa dengan penderitaan ini, tetapi apakah itu berarti Anda harus
membiarkannya menguasai hidup Anda selamanya?
Saat
seseorang datang untuk membantu Anda keluar dari lubang Anda – seseorang yang
datang dengan tulus dan penuh kasih sayang – apakah Anda benar-benar siap untuk
menerima bantuan itu? Atau apakah Anda lebih memilih untuk tetap berada dalam
kegelapan karena Anda merasa lebih aman di sana? Ingat, ketakutan Anda terhadap
trauma masa lalu tidak akan pernah bisa disembuhkan dengan cara bersembunyi.
Hanya dengan menghadapi ketakutan itu, Anda bisa mulai meraih pemulihan sejati.
Tapi,
apa yang terjadi ketika Anda merasa tidak siap untuk berkomitmen pada orang
yang datang dengan kasih sayang? Apakah Anda akan menutup hati Anda hanya
karena Anda belum sepenuhnya sembuh? Bukankah itu sebuah penghalang besar untuk
kesembuhan Anda? Dalam banyak kasus, kita malah sering kali menutup diri dari
orang-orang yang tulus ingin membantu kita karena kita terlalu terfokus pada
rasa sakit masa lalu.
Pikirkan
sejenak, apakah Anda benar-benar ingin tetap terperangkap dalam ketakutan dan
kekosongan yang ada di dalam hati Anda? Atau apakah Anda siap untuk menghadapi
dunia luar, menghadapi tantangan, dan memberi kesempatan kepada diri Anda untuk
sembuh?
Apa
yang sebenarnya Anda takutkan? Apakah Anda takut akan lebih banyak rasa sakit?
Ataukah Anda takut untuk melepaskan kontrol yang Anda pikir Anda miliki, meski
kenyataannya Anda sudah terperangkap dalam rasa sakit yang tak berujung? Jika
Anda terus bertahan di dasar lubang itu, apa yang akan Anda peroleh selain rasa
sakit yang semakin dalam?
Memang
tidak salah anda bernafsu untuk bertahan dan sembuh dari kondisi anda, Anda
mungkin merasa telah berjuang mati-matian untuk bertahan, mencoba bertahan di
dasar jurang yang gelap. Tetapi, apakah Anda benar-benar merasa lebih baik
dengan berdiam diri dalam kegelapan itu? Bukankah ada keinginan yang lebih
dalam dari diri Anda untuk bangkit dan menemukan jalan keluar?
Memang
tidak salah Anda bernafsu untuk bertahan dan sembuh dari kondisi Anda.
Keinginan untuk bertahan hidup adalah naluri dasar setiap individu. Namun,
apakah dengan hanya berdiam diri di dasar lubang, tanpa melakukan apa-apa
selain bertahan, Anda benar-benar akan sembuh? Mungkin Anda berpikir bahwa
bertahan di tempat yang nyaman, meskipun gelap dan penuh trauma, adalah cara
yang paling aman untuk menjaga diri. Tetapi, apakah itu benar-benar pilihan
terbaik? Bukankah, dalam kenyataannya, Anda sudah menghabiskan banyak waktu
hanya untuk bertahan, bukan untuk sembuh?
Lalu,
ketika ada seseorang yang datang dengan penuh kasih sayang kepada anda, anda
rela dibantu untuk menaiki lubang, menutup lubang itu, dan menyebrangi jurang
opini anda. Lantas mengapa anda
bersikap seolah tak membutuhkannya dan tidak siap untuk menjalin komitmen
dengannya? Bukankah nafsu untuk selamat dari kondisi anda telah membuat anda
egois dan mulai memanfaatkan apapun yang ada dan menyembunyikan kebusukan anda
dengan jubah ”aku masih belum sembuh total dari masa laluku” apakah anda
bercanda? Selama proses tersebut anda hanya menganggap orang tersebut sebgai
alat pendukung dalam misi survive anda di kondisi tersebut.
Bukankah
ini adalah salah satu bentuk dari keinginan berlebihan, yang dikenal
dengan istilah Sin of Lust? Di dalam kondisi ini, Anda terjebak dalam
pola pikir yang egois dan terfokus pada rasa aman semu dari trauma masa lalu
Anda. Keinginan berlebihan untuk bertahan hidup dalam kondisi yang nyaman namun
terbatas ini telah menghalangi Anda untuk melihat jalan keluar yang lebih luas
dan lebih baik. Anda menyembunyikan diri di balik alasan yang tampaknya sah,
seperti "Aku masih belum sembuh," namun apakah itu alasan yang cukup
kuat untuk mengabaikan kesempatan untuk sembuh sepenuhnya?
Konsep
dari Sin of Lust adalah memberikan anda sebuah keinginan, membuat anda
berfikir harus memenuhi itu dengan berbagai cara, dan fase terakhir adalah anda
akan merasakan candu akan kenikmatan yang anda peroleh dari fase sebelumnya.
Penelitian
terbaru yang menunjukkan bahwa individu yang terjebak dalam pola trust issue
cenderung menghindari hubungan yang dapat membawa mereka menuju pemulihan
(Nguyen et al., 2020). Keinginan untuk bertahan dalam kondisi yang mereka
kenal, meskipun menyakitkan, menjadi lebih kuat daripada dorongan untuk sembuh
dan berkembang. Dalam penelitian ini, Nguyen et al. (2020) menyatakan bahwa
mekanisme pertahanan yang digunakan oleh individu dengan Trust Issue adalah
salah satu faktor utama yang menghalangi proses pemulihan mereka. Hal ini
menciptakan sebuah paradoks: semakin mereka mencoba untuk bertahan dan
menyembuhkan diri, semakin mereka terperangkap dalam lingkaran setan yang
membuat mereka merasa tidak bisa maju.
Namun,
tidak ada yang lebih menjerat daripada perasaan bahwa Anda terjebak dalam
sebuah lingkaran yang tidak ada habisnya. Saat seseorang datang untuk membantu
Anda keluar dari lubang ini, Anda mungkin merasa cemas dan ragu. Tetapi,
bagaimana jika seseorang yang datang kepada Anda benar-benar ingin membantu,
dan bukan hanya sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan emosional Anda? Mengapa
Anda merasa sulit untuk membuka diri dan menerima bantuan tersebut?
Apakah
Anda merasa bahwa menerima bantuan berarti Anda mengakui kelemahan Anda?
Bukankah nafsu untuk bertahan hidup dengan cara yang berlebihan, yang Anda
anggap sebagai "survival mode", sebenarnya adalah bentuk dari
penolakan terhadap kenyataan bahwa Anda butuh bantuan?
Tanya
pada diri Anda sendiri: apakah Anda siap untuk melangkah keluar dari jurang,
untuk berhenti bersembunyi di balik alasan-alasan yang tampaknya sah? Apakah
Anda berani untuk menerima kenyataan bahwa untuk sembuh, Anda perlu mempercayai
diri sendiri dan orang lain? Keinginan untuk bertahan adalah hal yang wajar,
tetapi apakah Anda akan terus mengulang pola ini, ataukah Anda akan mengambil
langkah berani untuk menyembuhkan diri Anda?
Jika
Anda siap untuk mengambil langkah pertama, Anda akan menemukan bahwa pemulihan
bukanlah perjalanan yang harus ditempuh sendirian. Menerima bantuan dan
membiarkan orang lain masuk ke dalam hidup Anda adalah bagian dari proses
kesembuhan yang sejati. Jangan biarkan Sin of Lust dan Trust Issue
menghalangi Anda untuk menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih sehat.
Apakah anda sudah menangkap sesuatu? Apakah anda sudah
mulai memahami bahwasanya konsep dari Sin of Lust itu sangat banyak, sedangkan hubungan
biologis dan sejenisnya hanyalah element yang tidak akan pernah bisa membahas Sin
of Lust secara menyeluruh?
Apakah anda semakin bingung?
Baik saya jelaskan singkatnya saja . . .
Anda pasti memiliki harapan atau keinginan agar trauma
atau kondisi ekstream di masa lalu anda tidak terulang lagi bukan? Bagaimana
jika anda mampu memenuhi keinginan – keinginan tersebut dengan cara yang simpel
dan mudah? Dan hal itu membuat anda akan merasa bahwa setiap keinginan dan
harapan bisa terwujut dalam waktu singkat? Apakah anda akan mengulang proses
itu agar anda mampu mewujudkan sekian banyak keinginan dan harapan anda tanpa
memperdulikan apakah jalan yang bagi anda simpel dan mudah bisa merugikan bagi
individu lain?
Ketika anda mampu menjawab pertanyaan itu dalam benak
anda, selamat, anda mulai memahami konsep dasar dari Sin
of Lust yang mana akan
memanfaatkan setiap hal apapun yang ada untuk menunjang kebutuhannya.
Sebagai
penutup, mari kita perlahan mengakhiri perjalanan dalam konsep "Sin of
Lust" dan Trust Issue ini. Dalam merenung tentang lubang dalam hati dan
jurang dalam memori, kita menyadari bahwa Trust Issue bukan hanya sekadar
masalah ketidakpercayaan dalam hubungan cinta, tetapi juga melibatkan aspek
pertemanan, keluarga, bahkan lingkungan kerja.
Trust
Issue, yang dipandang sebagai keinginan berlebihan dalam menikmati trauma dan
rasa takut, seringkali mengakibatkan individu memilih untuk tetap berada di
dasar lubang dan enggan menyebrangi jurang. Keinginan berlebihan ini, meski
pada awalnya terlihat sebagai tindakan bertahan, sebenarnya dapat membatasi
pertumbuhan dan menghalangi peluang untuk kesembuhan.
Sin
of Lust, sebagai elemen yang mendorong individu dalam kondisi ini, menciptakan
nafsu untuk tetap terbenam dalam Trust Issue. Pilihan untuk bertahan di dalam
lubang dan enggan keluar menjadi semacam kesejahteraan palsu, di mana keinginan
untuk menyebrangi jurang dan memperoleh pemahaman baru terhalang oleh
kenyamanan yang sementara.
Dalam
perjalanan ini, mungkin terlintas pertanyaan, apakah bertahan dengan cara yang
berlebihan di dasar lubang benar-benar membantu kesembuhan dan kesehatan
mental? Atau apakah kita memilih untuk hanya bertahan mati-matian tanpa melihat
bahwa ada jalan untuk keluar dari situasi yang merugikan?
Konsep
Trust Issue dan Sin of Lust menciptakan pola pikir yang mungkin membuat kita
nyaman dalam keterbatasan kita sendiri, tetapi pada akhirnya, apakah itu
benar-benar membantu atau justru menghambat pertumbuhan kita sebagai individu?
Dalam
menutup pembahasan ini, mungkin penting untuk merenungkan kembali apakah kita
siap untuk melangkah keluar dari lubang, menyebrangi jurang, dan memungkinkan
diri kita untuk tumbuh dan berkembang. Kita tidak perlu sendirian dalam
perjalanan ini, dan terkadang, membuka diri terhadap bantuan dan keberanian
untuk menjelajahi hal baru dapat membawa kita menuju jalan kesembuhan yang
sebenarnya.
Sometimes, we become trapped in the pit of distrust that we create ourselves, believing that comfort in darkness is safer than the risk of stepping into the light of healing (Nopperabo, 2024).
Komentar
Posting Komentar
Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar