Tamak (Greed)

Kembali lagi dengan saya, bagaimana kabar Anda hari ini ketika membaca atau sekadar mampir di forum saya? Apakah keinginan Anda hari ini telah terpenuhi? Bagaimana dengan keinginan lainnya? Sudahkah Anda merencanakan cara untuk memenuhinya? Pertanyaan saya mungkin terasa berat, bukan?

Maaf... Saya sebenarnya hanya ingin bertanya, apakah Anda memiliki sebuah keinginan? Keinginan yang belum pernah Anda dapatkan? Pernahkah Anda merasa teman atau pasangan Anda terkesan pelit terhadap Anda? Atau mungkin Anda pernah memberi label sombong pada seseorang?

Terkadang, kita memberikan label atau mengatai seseorang dengan kata-kata seperti pelit, sombong, atau istilah serupa, hanya untuk memuaskan keinginan kita sendiri. Lebih tepatnya, individu cenderung memberikan label pada orang lain sebagai cara untuk mengalihkan perhatian dari keinginan mereka yang belum terpenuhi—sebuah mekanisme psikologis yang sering digunakan untuk membenarkan ketidakpuasan internal mereka.

Keinginan, seperti yang kita tahu, adalah hasrat yang tak pernah benar-benar berhenti. Ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, hal itu seringkali tidak membawa kepuasan sejati, hanya keinginan baru yang tumbuh. Inilah inti dari tamak, keinginan yang tak pernah terpuaskan—sebuah perilaku yang terkadang bisa berkembang menjadi pola pikir yang mengarah pada eksploitasi orang lain untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri. Menurut penelitian terbaru, tamak berhubungan dengan pemrosesan otak yang berfokus pada reward, mengaktifkan area otak seperti nucleus accumbens yang terlibat dalam pencarian penghargaan (Dixon, 2020).

Mengapa kita sering merasa bahwa orang lain lebih ‘pelit’ atau ‘sombong’ dibandingkan diri kita? Apakah ini refleksi dari ketidakpuasan kita sendiri terhadap apa yang kita miliki? Penggunaan label-label ini menjadi semacam pertahanan untuk menyembunyikan rasa kurang yang mendalam, suatu kondisi yang disebut 'insatiable desire' atau keinginan yang tidak terpuaskan, yang menjadi akar dari tamak itu sendiri (Blake & Slover, 2021). Kita ingin mengubah persepsi orang lain untuk menyalahkan mereka atas kegagalan kita dalam memperoleh apa yang kita inginkan.

Ingatlah, label yang Anda sematkan kepada orang lain sering kali adalah refleksi dari apa yang Anda inginkan tetapi tidak bisa Anda capai, dan kadang, ini adalah bentuk manipulasi psikologis untuk mengalihkan perhatian dari ketidakmampuan kita untuk memenuhi keinginan kita sendiri. Akhirnya, kita terjebak dalam lingkaran keinginan yang tak pernah habis, menciptakan ketidakpuasan yang terus berkembang. Dan apakah Anda merasa lebih baik setelah memberi label pada orang lain? Apakah ini memberi Anda kedamaian atau justru lebih banyak ketidakpuasan?

Saya ambil contoh, Anda mengatakan teman atau pasangan Anda pelit kepada Anda, tapi apakah Anda pernah berkata demikian kepada orang yang sama sekali belum Anda kenal atau Anda temui sebelumnya? Jelas tidak, karena Anda tidak pernah mengenal individu tersebut seperti Anda mengenal pasangan atau teman Anda. Ini bukanlah kebetulan, melainkan cerminan dari bagaimana keinginan Anda mempengaruhi persepsi Anda terhadap orang lain. Dalam psikologi sosial, hal ini dikenal dengan 'bias keterikatan' (attachment bias), di mana kita cenderung menilai seseorang berdasarkan kedekatan emosional atau hubungan yang kita miliki dengan mereka (Schirmer et al., 2021). Apakah saya salah? Silakan benarkan pendapat saya dengan berkomentar di kolom komentar.

Lanjut, apakah Anda pernah tidak disapa oleh teman Anda yang lewat atau bertemu dengan Anda di suatu tempat? Dan Anda secara tidak langsung berpikir bahwa dia sombong? Namun, ketika Anda tidak disapa oleh individu yang tidak Anda kenal atau bertemu di suatu tempat, apakah Anda juga berpikir demikian? Jelas tidak, karena individu tersebut tidak pernah Anda kenal atau hanya sekadar orang asing. Dalam kasus ini, Anda mengalami 'kognisi selektif,' sebuah bentuk distorsi kognitif di mana seseorang hanya memperhatikan informasi yang memperkuat pandangan atau perasaan mereka, mengabaikan aspek lain yang mungkin lebih obyektif (Kirkpatrick & Risen, 2019).

Semua perumpamaan di atas hanya sebuah contoh untuk mengajak Anda berpikir sedikit skeptis tentang diri Anda sendiri. Sebenarnya, yang pelit dan sombong itu mereka atau Anda sendiri yang menginginkan individu tersebut memenuhi keinginan Anda? Apakah mungkin bahwa keinginan yang berlebihan – dalam hal ini keinginan untuk mendapatkan perhatian, pengakuan, atau rasa nyaman – sebenarnya mencerminkan ketamakan (greed) yang tersembunyi dalam diri Anda sendiri? Menurut teori 'self-serving bias,' kita seringkali meletakkan kesalahan pada orang lain untuk melindungi citra diri kita, terutama ketika keinginan kita tidak terpenuhi (Miller & Ross, 2020). Ketamakan ini, yang tidak selalu terlihat jelas, berakar pada kebutuhan untuk merasa lebih baik tentang diri kita dengan menuntut lebih banyak dari orang lain.

Ada sebuah ungkapan dari ulama besar Islam, K.H. Ahmad Bah’auddin Nursalim yang menyampaikan bahwa, "Kamu yang punya keinginan saja tidak bisa memenuhinya, lantas mengapa kamu meminta orang lain untuk memenuhinya?"

Dari ungkapan beliau tersebut, 12,9% muncul pertanyaan di pikiran Anda. Ini mengarah pada refleksi mendalam mengenai keinginan dan pemenuhan diri. Pertanyaan ini muncul sebagai respons psikologis yang lebih luas terhadap kecenderungan manusia untuk mengalihkan ketidakmampuannya dalam memenuhi keinginan kepada orang lain. Di dalam teori psikologi gelap (dark psychology), mekanisme seperti ini dikenal sebagai proyeksi, di mana seseorang yang merasa kekurangan akan cenderung mengaitkan perasaan itu dengan perilaku orang lain (Miller, 2020). Dengan kata lain, ketika kita memberi label pada individu lain, apakah itu tidak lain adalah cara kita untuk menutupi rasa ketidakpuasan atau ketidakmampuan kita sendiri? Bahkan, keinginan untuk kontrol—sebuah ciri khas dari tamak (greed)—dapat memanifestasikan diri dalam perilaku manipulatif.

Apakah selama ini saya meminta pada orang tua, pasangan, atau teman, itu juga bentuk dari ketidakmampuan saya dalam memenuhi keinginan? Atau, bahkan, apakah ketika kita mengatai mereka dengan istilah negatif merupakan representasi dari ketidakmampuan kita untuk mengelola harapan-harapan pribadi yang tak terwujud? Di sini, kita mengadopsi prinsip 'narcissistic supply', yang menggambarkan bagaimana individu dengan kecenderungan narsistik menggunakan orang lain untuk memenuhi kebutuhan emosional mereka yang tak pernah puas (Brown, 2021).

Ketika kita merasa tersinggung, marah, kesal, atau ngambek pada pasangan atau teman, bisa jadi itu adalah ekspresi dari tamak—sebuah keinginan yang tidak pernah terpuaskan, di mana kita menuntut lebih dari apa yang bisa diberikan oleh orang lain. Di dalam dinamika ini, perasaan 'terlayani' atau 'dilayani' menjadi kunci dalam memanipulasi orang lain agar memenuhi kebutuhan kita tanpa menyadari bahwa ini adalah bentuk dari ketidakpuasan diri kita sendiri.

Bagaimana? Apakah Anda mulai bingung? Jika Anda merasa bingung, itu pertanda Anda sedang berkembang dalam pemahaman diri. Pemahaman ini penting karena, dalam teori psikologi kognitif, kebingungannya sendiri adalah fase penting dalam proses disonansi kognitif, yang dapat mengarah pada pemahaman yang lebih mendalam terhadap motif internal kita (Festinger, 2022). Kebingungan adalah langkah awal untuk meretas belenggu manipulasi psikologis dalam diri kita, yang pada akhirnya membawa kita pada pemahaman akan dorongan tamak yang seringkali terabaikan.

Saya beri gambaran simpel: ketika Anda meminta pasangan Anda untuk mencintai Anda sepenuh hati (all in), namun di sisi lain, Anda tidak dapat melepaskan pandangan dari individu lain yang Anda temui secara acak di media sosial atau dalam kehidupan nyata. Apakah itu adil? Tentunya tidak. Ini adalah contoh klasik dari greed atau tamak dalam hubungan, yang seringkali dimanipulasi secara tidak sadar. Dalam psikologi sosial, perilaku ini dikenal dengan konsep selfishness bias (Erdogdu et al., 2021), di mana seseorang menginginkan segala sesuatu tanpa ingin memberi secara setara. Jika Anda ingin dicintai sepenuhnya, Anda pun harus memberikan cinta tanpa reserve.

Contoh lainnya adalah seorang siswa yang meminta kepada gurunya untuk membuatnya pintar karena merasa dirinya bodoh. Itu menunjukkan ketamakan intelektual, di mana siswa berharap semua perubahan terjadi tanpa usaha maksimal dari dirinya. Siswa ingin cerdas, tetapi tak mau mengupayakan proses yang dibutuhkan. Ini juga mencerminkan perilaku yang berkaitan dengan konsep locus of control (Rotter, 2020), di mana individu merasa kekuatan luar (dalam hal ini, guru) bertanggung jawab atas pencapaian pribadi, bukannya diri mereka sendiri.

Dalam kedua kasus ini, kita melihat manipulasi psikologis yang terjadi ketika seseorang mencari jalan pintas dalam mencapai tujuan tanpa memahami tanggung jawab yang melekat padanya. Apakah itu adil? Jika mengacu pada teori equity theory (Walster, Berscheid, & Walster, 2022), yang menyatakan bahwa hubungan yang sehat memerlukan kesetaraan dalam memberi dan menerima, jelas bahwa ketamakan ini merusak keseimbangan.

Lalu, siapa yang salah dalam hal ini? Diri Anda sendiri? Pola pikir Anda yang terdistorsi? Atau orang lain yang tidak memenuhi keinginan Anda? Dalam realitasnya, manipulasi dan ketamakan ini sering kali berakar pada kecenderungan untuk menghindari rasa ketidakamanan pribadi, yang dipengaruhi oleh dorongan psikologis yang mendalam untuk memenuhi kebutuhan emosional atau material tanpa pertimbangan terhadap dampaknya.

Saya tanya kepada Anda, apakah di dunia ini ada yang benar-benar menjadi milik Anda? Apakah Anda dapat mengontrol apa yang Anda anggap sebagai milik Anda? Pertanyaan ini membawa kita pada pemikiran yang lebih dalam mengenai kontrol dan hasrat manusia. Ketika Anda merasa memiliki sesuatu, seperti sebuah laptop, Anda mungkin berpikir bahwa Anda bebas mengontrolnya sesuai keinginan—mematikannya atau menghidupkannya kapan saja. Namun, apakah benar Anda memegang kontrol penuh?

Menurut teori ego-depletion yang dikembangkan oleh Baumeister et al. (2018), kemampuan kita untuk mengontrol dorongan atau keinginan kita (seperti dalam hal ini mengendalikan penggunaan laptop) sebenarnya terbatas. Ketika seseorang terjebak dalam keinginan yang berlebihan—dalam hal ini, "memiliki" atau "mengontrol" lebih dari yang diperlukan—maka ego mereka terdeplesi, dan kontrol pun mulai berkurang. Keinginan yang tak terkontrol ini merupakan manifestasi dari greed, yaitu tamak, di mana manusia selalu merasa kurang dan terus berusaha mendapatkan lebih, walaupun hal itu bukan lagi kebutuhan sesungguhnya.

Lalu, jika kita analogikan dengan kejadian ketika roda mobil atau motor Anda bocor secara tiba-tiba di tengah perjalanan, apakah Anda bisa mengontrolnya sepenuhnya? Apakah Anda bisa mengontrol ketahanan roda itu, atau bahkan peristiwa yang terjadi padanya? Inilah inti dari ketidakmampuan manusia untuk benar-benar mengontrol dunia di sekitarnya. Dalam bukunya, The Psychology of Human Behavior (Lee & Lee, 2022), diungkapkan bahwa individu yang terperangkap dalam pola pikir tamak sering kali mengabaikan kenyataan bahwa banyak hal di luar kendali mereka. Mereka percaya bahwa segalanya dapat dimiliki, bahkan dipengaruhi, untuk mencapai kepuasan ego mereka. Namun, kenyataannya adalah bahwa dunia ini penuh dengan faktor yang tidak bisa kita kontrol, seperti peristiwa acak atau keadaan yang tak terduga.

Kecenderungan ini, menurut teori dari Mazar et al. (2020), juga dipengaruhi oleh fenomena moral disengagement, di mana seseorang menjustifikasi perilaku mereka yang lebih mengarah pada kepentingan pribadi, meskipun itu merugikan orang lain. Dalam konteks tamak, seseorang bisa saja menganggap bahwa mereka berhak memperoleh lebih dari yang seharusnya, bahkan dengan mengabaikan dampak negatifnya terhadap lingkungan atau orang lain.

Oleh karena itu, kontrol yang kita klaim atas apa yang kita anggap milik kita, sesungguhnya hanyalah ilusi. Ketika kita terperangkap dalam hasrat untuk menguasai dan mengendalikan, kita kehilangan perspektif tentang apa yang benar-benar penting dalam hidup ini. Kita hanya bisa bertanya: apakah yang kita sebut "milik" itu benar-benar milik kita, atau hanya sesuatu yang kita coba kendalikan untuk memenuhi ego kita yang tak pernah puas?

Ketika kita mengenal seseorang lebih dalam, sering kali kita memberi label negatif kepada mereka saat mereka tidak sesuai dengan keinginan kita. Dalam hubungan, misalnya, apakah Anda tetap akan merasa baik-baik saja jika pasangan Anda tidak memenuhi ekspektasi Anda? Tidak jarang, kita merasa marah atau kecewa karena tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, baik itu perhatian, penghargaan, atau benda-benda materi lainnya. Tetapi bagaimana jika hal itu dilakukan oleh seseorang yang tidak kita kenal? Akankah Anda masih berpikir dengan cara yang sama? Di sini kita masuk ke dalam salah satu taktik manipulasi psikologis yang dikenal sebagai "perasaan berhak" atau entitlement. Manipulasi ini merujuk pada keyakinan bahwa kita berhak mendapatkan apa yang kita inginkan, terlepas dari kenyataan bahwa orang lain atau kondisi tidak selalu mematuhi harapan kita (Cohen, 2021).

Seiring berjalannya waktu, kita mulai mengembangkan rasa memiliki yang sangat kuat terhadap banyak hal, termasuk orang lain. Kita merasa berhak atas pasangan kita, barang-barang pribadi kita, bahkan keadaan atau situasi tertentu. Namun, sebenarnya, segalanya di dunia ini bukanlah milik kita. Segala hal adalah milik Tuhan, dan kita hanyalah peminjam yang diberi pilihan, tanpa kontrol penuh atas apa yang terjadi (Luszczynska et al., 2020). Mengapa, maka, kita sering kali merasa begitu marah atau sedih saat kita kehilangan sesuatu atau seseorang? Bukankah itu sebuah bentuk kecemasan berlebihan, atau bahkan bentuk manipulasi emosional yang muncul dari keinginan untuk mengontrol yang sejatinya tidak bisa kita kendalikan?

Dalam konteks ini, kita juga harus mempertanyakan lebih jauh: apa yang sebenarnya kita inginkan? Kenapa kita bisa merasa depresi? Apakah itu karena ketidaksesuaian antara keinginan kita dan kenyataan yang kita hadapi? Mengapa kita merasa berhak atas semua itu, bahkan saat kita tahu bahwa tidak ada satu pun hal di dunia ini yang sepenuhnya kita miliki? Ini adalah inti dari perilaku tamak, yang dipicu oleh kebutuhan psikologis yang lebih dalam untuk merasa bahwa kita mengendalikan dunia sekitar kita. Namun, kenyataannya adalah bahwa kita tidak selalu bisa mengontrol kondisi-kondisi tersebut. Ketika kita merasa kehilangan atau tidak mendapatkannya, kita bisa terjebak dalam pola pikir yang penuh frustrasi, yang semakin memperburuk keadaan kita (Weidman, 2022).

Teori manipulasi psikologis yang relevan dalam konteks ini adalah "toxic entitlement," di mana individu merasa bahwa segala sesuatu berhak untuk mereka, yang terkadang mendorong mereka untuk berperilaku tidak sehat demi mencapai tujuan mereka (Wang & Zhang, 2021). Dalam hal ini, perilaku tamak sering kali disertai dengan penolakan terhadap kenyataan dan pencarian untuk memenuhi keinginan tanpa memperhatikan kebutuhan atau batasan orang lain. Apa yang memicu depresi di sini adalah ketidaksesuaian antara keinginan yang tidak realistis dan kenyataan yang tidak dapat dikendalikan.

Topik bahasan kali ini adalah tamak, salah satu dari tujuh dosa besar dalam diri manusia. Sering disamakan dengan rakus, saya beri penjelasan sederhana: tamak merujuk pada keinginan yang berlebihan untuk memiliki lebih banyak atau memperoleh keuntungan materi yang lebih besar. Sifat tamak dapat terkait dengan keinginan untuk kekayaan, kekuasaan, atau keuntungan pribadi lainnya. Dalam beberapa konteks, tamak dapat memiliki konotasi yang lebih luas, termasuk keinginan untuk pengetahuan, pengalaman, atau prestise sosial, bukan hanya terbatas pada kekayaan materi. Rakus, di sisi lain, merujuk pada keinginan yang berlebihan dan serakah untuk makan atau menikmati sesuatu, terutama dalam hal jumlah atau intensitas. Sifat rakus sering terlihat dalam hubungan dengan makanan atau konsumsi, tetapi dapat merujuk pada keinginan yang tidak terkendali dalam berbagai konteks. Rakus seringkali memiliki konotasi yang lebih spesifik terkait dengan hasrat untuk menikmati atau memiliki lebih banyak dari sesuatu, terutama dalam konteks kesenangan atau konsumsi.

Tamak dan rakus mungkin terlihat serupa, namun keduanya mencerminkan dimensi psikologis yang sangat berbeda. Tamak berfokus pada kepuasan akan kepemilikan, yaitu dorongan untuk mengumpulkan lebih banyak hal, barang, atau kekayaan tanpa batas meskipun kebutuhan sudah tercukupi. Sifat tamak ini seringkali berakar pada narcissistic supply (Miller, 2018), di mana seseorang merasa bahwa nilai diri mereka hanya dapat diukur dengan apa yang mereka miliki. Dalam konteks ini, kepemilikan menjadi simbol status dan kontrol, dan memiliki lebih banyak hal memberikan rasa aman yang bergantung pada validasi eksternal. Ini adalah manifestasi dari self-serving bias (Miller & Ross, 1975), di mana seseorang secara sistematis meyakini bahwa mereka berhak atas lebih banyak, meskipun tidak ada bukti objektif yang mendukung klaim tersebut. Mereka merasa berhak untuk terus mendapatkan lebih banyak, bukan karena kebutuhan yang rasional, tetapi karena untuk mengisi kekosongan emosional dalam diri mereka yang timbul dari kekurangan afeksi atau pengakuan.

Sementara itu, rakus lebih berhubungan dengan keinginan untuk mengonsumsi lebih banyak, baik itu dalam bentuk materi, kekuasaan, atau bahkan perhatian, tanpa pernah merasa puas. Rakus adalah bentuk yang lebih ekstrem dari keinginan untuk mengambil tanpa batas, yang berakar pada psychopathy (Hare, 1999), di mana seseorang terfokus pada pencapaian tujuan pribadi tanpa mempertimbangkan dampaknya pada orang lain. Keinginan untuk konsumsi yang terus-menerus ini datang dari dorongan internal yang tidak pernah merasa cukup, bahkan setelah pencapaian besar. Rakus sering kali dikaitkan dengan pola pikir yang sangat Machiavellian (Christie & Geis, 1970), di mana individu tersebut tidak hanya ingin mengonsumsi lebih banyak, tetapi juga bersedia mengorbankan orang lain atau aturan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Namun, di balik kedua sifat ini, terdapat elemen-elemen manipulasi dark psychology yang mengarahkan seseorang untuk tidak hanya menginginkan lebih, tetapi untuk memanipulasi keadaan atau orang lain demi keuntungan pribadi. Dark Triad, yang terdiri dari narsisisme, Machiavellianisme, dan psikopati, dapat berperan besar dalam memperburuk sifat tamak ini (Jones & Paulhus, 2021). Seseorang dengan ciri-ciri ini mungkin akan merasa tidak puas dengan apa yang dimiliki dan terus mencari cara untuk mengontrol atau mengeksploitasi orang lain demi keuntungan pribadi mereka. Ketamakan bukan hanya soal keinginan materi, tetapi juga soal kontrol, kekuasaan, dan dominasi, yang sering kali muncul dalam hubungan interpersonal atau sosial.

Penelitian terkini oleh Kuehner et al. (2022) menunjukkan bahwa perilaku tamak tidak hanya berdampak pada kesejahteraan psikologis individu, tetapi juga dapat memperburuk dinamika sosial dan interpersonal dalam kelompok. Individu yang tamak sering kali mengabaikan nilai moral atau etika, menggunakan manipulasi untuk mencapai tujuannya. Mereka mungkin menggunakan gaslighting, di mana mereka memanipulasi persepsi orang lain untuk menciptakan rasa kebingungan dan ketidakpercayaan, atau bahkan moral disengagement, yang memungkinkan mereka untuk bertindak tidak etis tanpa rasa bersalah (Bandura, 2019). Manipulasi ini sering melibatkan pengalihan tanggung jawab atau menciptakan ketergantungan psikologis pada orang lain untuk mempertahankan dominasi.

Dalam konteks ini, tamak bukan hanya tentang akumulasi barang atau kekuasaan, tetapi lebih kepada penciptaan ketergantungan psikologis pada orang lain, yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat dominasi mereka. Perilaku ini sering kali didorong oleh kecemasan eksistensial—ketakutan mendalam akan kehilangan status atau kekuasaan—yang memicu seseorang untuk selalu mencari lebih tanpa pernah merasa puas (Hurst et al., 2023).

Perbedaan mendasar antara tamak dan rakus adalah bahwa tamak berfokus pada kepemilikan sebagai suatu pencapaian status atau citra diri yang ingin dipertahankan, sementara rakus berfokus pada proses konsumsi itu sendiri sebagai bentuk pencapaian tanpa batas yang terus menggerogoti tanpa pernah merasa puas. Dalam dark psychology, kedua perilaku ini beroperasi dengan cara yang saling melengkapi namun berbeda, di mana tamak lebih terkait dengan keinginan untuk mengendalikan apa yang dimiliki, sementara rakus lebih terkait dengan keinginan untuk menggunakan segala hal demi kepuasan ego pribadi, bahkan dengan cara yang destruktif.

Sebagai contoh, seorang karyawan yang tamak mungkin akan terus-menerus menuntut kenaikan gaji dan pengakuan tanpa memperhatikan seberapa besar kontribusinya terhadap perusahaan. Mereka mungkin merasa bahwa lebih banyak uang atau barang akan memenuhi rasa tidak aman mereka. Sebaliknya, seorang manajer yang rakus akan terus-menerus mencari proyek baru dan tantangan lebih besar, meskipun sudah memiliki banyak tanggung jawab, hanya untuk memperbesar ego mereka atau mendapatkan bonus yang lebih tinggi. Rakus ini tidak peduli pada kesejahteraan tim atau apakah mereka sudah bekerja terlalu banyak; yang penting adalah memperoleh lebih banyak, tanpa memperhitungkan konsekuensinya.

Dengan demikian, meskipun tamak dan rakus memiliki kesamaan dalam menggambarkan sifat serakah, tamak mencakup dimensi yang lebih kompleks dalam hal kekuasaan dan kontrol, serta ketergantungan psikologis terhadap orang lain. Rakus, di sisi lain, lebih terfokus pada konsumsi atau kepuasan diri secara langsung, tetapi keduanya berakar pada ketidakpuasan mendalam dan pencarian tanpa akhir akan pemenuhan yang tidak pernah tercapai.

Kita ambil contoh seseorang yang bekerja di perusahaan dengan gaji yang sudah besar. Namun, sifat tamaknya mendorongnya untuk terus-menerus meminta kenaikan gaji setiap bulan, meskipun kinerjanya tidak selalu memenuhi target perusahaan. Ini adalah contoh dari manipulasi psikologis yang terkait dengan cognitive dissonance (Festinger, 1957), di mana individu tersebut secara internal membenarkan tindakannya meskipun tidak ada bukti yang mendukung klaimnya. Dalam hal ini, mereka mungkin meyakini bahwa mereka berhak atas lebih banyak uang karena kebutuhan internal yang tidak terpuaskan, meskipun kenyataannya mereka sudah memperoleh lebih dari cukup. Perilaku seperti ini sering kali berakar pada keinginan untuk mengendalikan situasi dan memperbesar ego pribadi, yang kemudian menjadi landasan untuk self-serving bias (Miller & Ross, 1975)—yaitu kecenderungan untuk menilai keberhasilan sebagai hasil dari upaya mereka sendiri, namun menyalahkan kegagalan pada faktor eksternal.

Di sisi lain, kita melihat contoh seorang manajer proyek di perusahaan IT. Meski kinerjanya baik dan sudah menerima penghargaan, ia terus-menerus mengejar proyek baru dan menuntut lebih banyak tanggung jawab tanpa mempertimbangkan keseimbangan tim. Ini mencerminkan sifat rakus yang tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga pada orang lain di sekitarnya. Dalam psikologi sosial, ini dapat dijelaskan dengan konsep narcissistic supply (Miller, 2018), yang mengacu pada kebutuhan untuk selalu mendapat pujian dan validasi untuk menjaga citra diri yang tinggi. Manajer ini, dengan keinginannya untuk memperbesar reputasinya, tidak mempertimbangkan dampak terhadap tim. Dalam konteks ini, ia melakukan manipulasi terhadap timnya dengan meningkatkan beban kerja mereka demi keuntungan pribadi.

Dari kedua contoh ini, kita dapat melihat pola yang menarik: keinginan untuk memiliki lebih dari yang sebenarnya diperlukan, dan mengabaikan kenyataan bahwa kebutuhan tersebut tidak selalu rasional atau bahkan sehat. Dalam kedua kasus tersebut, kita menghadapi fenomena dark triad (Paulhus & Williams, 2002), di mana sifat-sifat psikologis seperti narsisisme, Machiavellianisme, dan psikopati tercermin dalam pola perilaku ini. Individu yang terjebak dalam pola pikir tamak seringkali tidak hanya melibatkan diri dalam perilaku yang merugikan dirinya sendiri, tetapi juga memperburuk kesejahteraan orang lain dalam prosesnya.

Sekarang, cobalah untuk merenung: Mengapa kita merasa kita berhak atas sesuatu yang pada kenyataannya tidak dapat kita kontrol sepenuhnya? Dalam kasus ini, keinginan untuk memiliki lebih banyak uang atau lebih banyak kekuasaan muncul dari ego, yang berusaha untuk membenarkan tindakan yang tidak seimbang. Namun, jika keinginan ini hanya muncul dari ego kita sendiri, mengapa kita mengharapkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan yang sebenarnya berasal dari dalam diri kita? Ironisnya, kita bahkan mungkin tidak mampu memenuhinya sendiri, apalagi berharap orang lain melakukannya.

Pikirkan lagi. Apa yang sebenarnya kita cari dengan tamak dan rakus ini? Apakah itu hanya untuk memuaskan ego sementara, atau ada sesuatu yang lebih mendalam yang kita coba tutupi?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan

Perspectives 12

Bukan Sekadar “Yes-Man”: Menguak Sisi Rentan di Balik Kerentanan Manipulasi