Sosmed
Pernahkah anda mendengar istilah Manipulasi
Psikologis? Apakah anda pernah
mendengar Teori Persuasi? Dalam hubungan
interpersonal, seseorang mungkin menggunakan manipulasi psikologis untuk
mencapai tujuan mereka, seperti mendapatkan keuntungan atau memperoleh
kepercayaan.
Johan
Liebert (1994), “There’s nothing special
about being born. Not a thing. Most of the universe is just death, nothing
more. In this universe of ours, the birth of a new life on some corner of our
planet is nothing but a tiny, insignificant flash. Death is a normal thing. So
why live?”
"Tidak
ada yang istimewa tentang dilahirkan. Tidak ada. Sebagian besar alam semesta
hanyalah kematian, tidak lebih. Di alam semesta kita ini, kelahiran kehidupan
baru di sudut planet kita hanyalah kilatan kecil yang tidak berarti. Kematian
adalah hal yang normal. Jadi mengapa hidup?"
Dari
ungkapan Johan Liebert tersebut apakah anda mulai memahami sesuatu? Apakah anda membenarkan ungkapannya? Apakah anda malah
membantah dengan sekian macam argumen? Memang benar ungkapan tersebut sedikit membingungkan
kita, namun Liebert (1994) juga berucap “The big secret to
breaking the rules is to make it look as though you're following them.” Dimana pada ungkapan tersebut kita
diberi sebuah isyarat bahwa untuk melanggar sebuah aturan dan mendapatkan
keuntungan adalah dengan seolah – olah mengerjakan dan patuh pada aturan
tersebut.
Dalam konteksnya media sosial atau sosmed secara
istilah modernnya, memberikan gambaran nyata bahwa persuasi atau upaya
untuk mempengaruhi sikap,
keyakinan, atau perilaku seseorang dengan menggunakan berbagai strategi
komunikasi, sering kita
temui dan bahkan kita tidak menyadari akan hal itu. Sering kita tertarik
membeli produk yang telah diiklankan secara menarik pada beranda atau halaman
utama pada sosmed anda, seolah – olah anda sedang membutuhkan hal itu. Secara tidak langsung, pikiran anda diarahkan untuk
secara perlahan merasa membutuhkan produk tersebut. Apakah saya salah? Apakah
saya terlalu berlebihan?
Mari saya ajak anda membahas topik utama dalam pembahasan
pada kesempatan kali ini.
Beberapa
teknik persuasi yang umum digunakan dalam manipulasi psikologi di media sosial :
Rekayasa
Kekuatan Sosial: Menunjukkan bahwa banyak orang lain
sudah melakukan atau menyukai sesuatu dapat membuat individu merasa tekanan
untuk mengikuti, karena mereka ingin sesuai dengan mayoritas atau merasa bahwa
itu adalah tindakan yang benar.
Otoritas:
Memperkenalkan seseorang atau entitas sebagai otoritas dalam bidang tertentu
dapat meningkatkan kepercayaan dan kemungkinan seseorang untuk menerima pesan
atau tindakan yang disarankan.
Keterbatasan
Penawaran: Membatasi ketersediaan produk atau kesempatan
tertentu dapat meningkatkan keinginan seseorang untuk memperolehnya, karena
adanya rasa kekurangan atau eksklusivitas.
Keseragaman:
Mengulang pesan atau tindakan tertentu secara konsisten dapat memperkuat
persepsi tentang kebenaran atau kebenaran dari pesan tersebut.
Kredibilitas:
Menyajikan informasi atau testimonial dari sumber yang dianggap kredibel atau
otoritatif dapat membantu meyakinkan individu untuk menerima pesan atau
tindakan yang diusulkan.
Dari
5 tehnik sosmed diatas untuk memanipulasi anda, adakah anda mulai sedikit
mengiyakannya? Ataukah anda masih bingung dan sedikit mempertanyakan tehnik
tersebut? Coba hubungkan dengan ungkapan dari Liebert di atas tadi, lalu
simpulkan apa yang anda dapat?
Pada
saat ini memang cara yang digunakan sangat sulit untuk anda identifikasi, manipulasi
psikologi yang menggunakan teknik persuasi seperti ini bisa sangat kuat,
terutama jika pengguna tidak menyadari bahwa mereka sedang dipengaruhi. Kita
ambil contoh quotes atau kata – kata dari akun random yang muncul pada search
anda di salah satu sosmed anda, saya umpamakan tentang hubungan romansa. Dimana
pada kalimat tersebut berbunyi tentang bagaimana hubungan yang sehat dan
sejenisnya, tentang cara mencari pasangan ideal, atau bahkan tentang ciri –
ciri pasangan yang ideal, juga tentang sefrekuensi dalam sebuah hubungan itu
penting, dan sejenisnya.
Saya
ambil contoh tentang satu frekuensi itu penting dalam hubungan. Sekarang
frekuensi itu apa menurut anda? Lalu sefrekuensi itu yang bagaimana menurut
anda? Bukankah anda sudah termakan oleh tehnik manipulasi dari sosmed tersebut?
Bukankah tehnik persuasi yang digunakan cukup relevan bagi anda?
Apasih
manipulasi psikologi itu? Manipulasi psikologi adalah penggunaan teknik-teknik
psikologis untuk mempengaruhi pikiran, emosi, dan perilaku individu atau
kelompok dengan cara yang mungkin tidak mereka sadari atau tidak mereka
inginkan. Ahli psikologi telah mempelajari dan mengidentifikasi berbagai teknik
dan strategi manipulasi psikologi yang digunakan dalam berbagai konteks,
termasuk pemasaran, politik, dan hubungan interpersonal (Liebert, 1994). Dalam
kasusnya Johan Liebert melakukan manipulasi dengan cara :
Penggunaan
Informasi Pribadi: Johan sering menggunakan informasi
pribadi tentang orang lain untuk mengendalikan mereka atau mempengaruhi
tindakan mereka. Misalnya, dia mungkin menggunakan rahasia atau masa lalu
seseorang untuk memaksa mereka melakukan sesuatu yang dia inginkan.
Kemampuan
Berkomunikasi yang Efektif: Johan Liebert adalah seorang
pembicara yang cerdas dan karismatik. Dia mampu menggunakan kata-kata dan
ekspresi yang tepat untuk mempengaruhi pikiran dan emosi orang lain.
Manipulasi
Emosional: Johan sering memanipulasi emosi orang lain, baik
dengan memberi mereka harapan palsu, menimbulkan rasa takut, atau menciptakan
situasi yang menghasilkan tekanan emosional yang tinggi.
Penciptaan
Citra: Johan Liebert sering mengubah penampilannya dan
identitasnya untuk mencapai tujuan tertentu. Dia juga mampu menciptakan citra
yang menarik atau mengesankan yang membuat orang lain terpikat atau takut
padanya.
Penggunaan
Orang Lain sebagai Alat: Johan sering menggunakan orang lain
sebagai alat untuk mencapai tujuannya, bahkan jika itu berarti mengorbankan
mereka atau mengalihkan kesalahan kepada mereka.
Lalu
apa itu persuasi? Persuasi adalah upaya untuk mempengaruhi sikap, keyakinan,
atau perilaku seseorang dengan menggunakan berbagai strategi komunikasi. Dalam
konteks media sosial atau pemasaran online, teknik persuasif sering digunakan
untuk mempengaruhi perilaku pengguna, seperti membeli produk atau layanan
tertentu, berpartisipasi dalam promosi, atau berinteraksi dengan konten
tertentu (Liebert, 1994).
Kembali lagi pada satu frekuensi tadi, anda pasti
bertanya, apa hubungannya?
Mari saya jelaskan, apakah anda pernah bertanya, mengapa
sosmed mengerti mood kita, perasaan, dan kesukaan kita? Bagaimana sosmed
mengetahui itu semua? Mengapa yang direkomendasikan sosmed semua rilate atau
berhubungan dengan kondisi anda?
Alogaritma, rumus, atau data yang mesuk menganalisa
intensitas like, dan durasi anda menonton sebuah konten. Disitulah sistem mulai
membaca kebiasaan anda, seberapa lama anda melihat konten dan seberapa sering
anda memberikan like pada sebuah konten. Maka sistem akan selalu
merekomendasikan konten yang serupa kepada anda. Makadari itu postingan dan
story anda sebenarnya sedang dilihat oleh sistem mereka dan datanya tersimpan
sebagai alogaritma untuk melakukan analisa pada anda.
Kembali pada topik satu frekuensi tadi, anda pasti
semakin sering melihat konten dengan isi serupa dan lebih ke arah mendukung
tindakan anda dari pada konten yang memberikan pemahaman menyeluruh dalam hidup
anda. Bisa dikatakan bahwa sosmed adalah rekan anda dalam membenci sesuatu juga
merupakan sekutu anda dalam menyukai sesuatu. Mengapa demikian? Ketika anda
membenci beberapa konten, anda pasti akan sering melihat rekomendasi dari
sosmed tersebut juga berisikan hal yang sama dengan pemikiran anda. Heran
bukan?
Kembali lagi pada pertanyaan saya tadi tentang apa itu
sefrekuensi dan apa itu frekuensi dalam hubungan.
Frekuensi adalah aliran, jalan, atau pola pikir,
kebiasaan, dan lain sejenisnya dalam diri indivu. Sedangkan sefrekuensi adalah
diamana pasangan memiliki kesamaan pada semua spek tersebut. Benar begitu bukan
menurut anda? Atau anda berpendapat bahwa dalam konteks hubungan,
frekuensi sering kali merujuk pada seberapa sering pasangan melakukan aktivitas
tertentu bersama atau berkomunikasi satu sama lain. Ini mencakup berbagai aspek
hubungan, seperti interaksi fisik, komunikasi, dan waktu bersama. Misalnya,
frekuensi dalam hubungan dapat merujuk pada seberapa sering pasangan bertemu,
berbicara di telepon, atau melakukan kegiatan bersama?
Sebenarnya
itu sah – sah saja mengartikan seperti itu, namun, penting untuk dicatat bahwa
setiap pasangan memiliki preferensi dan kebutuhan yang berbeda-beda dalam hal
frekuensi interaksi. Beberapa pasangan mungkin merasa nyaman dengan tingkat
interaksi yang tinggi, sementara yang lain mungkin lebih suka memiliki lebih
banyak waktu untuk diri sendiri. Ketika anda sudah termakan oleh tehnik manipulasi menggunakan persuasi dari
sosmed, anda akan mengabaikan preferensi dan kebutuhan yang
berbeda-beda dari pasangan
anda.
Saya ibaratkan ketika pasangan anda lebih suka untuk
menghabiskan waktu libur hanya dengan di rumah saja, sedangkan anda lebih suka
untuk berlibur kesuatu tempat. Apakah anda akan mengatakan jika anda dan
pasangan anda tidak sefrekuensi? Apakah anda pernah berfikir jika omongan
pasangan anda terlalu sulit dimengerti? Atau mungkin anda pernah mengatakan
jika gaya bercanda pasangan anda tidak sejalan dengan anda, sehingga nilai
humornya tidak mengena pada anda?
Lalu anda membenarkan bahwa frekuensi menentukan tingkat
kenyamanan, apakah benar begitu? Bukankah anda sudah tercemar oleh teori dari
sosmed? Bukankah standar dari sefrekuensi tadi anda dapat dari internet? Apakah
anda memiliki standar frekuensi yang tidak didasari dari sosmed dan internet? Bukankah
itu bukan diri anda sendiri jika anda mengikuti persuasi dan manipulasi mereka?
Frekuensi jika ingin disamakan haruslah dibentuk secara
bersama. Pasti anda hanya mengharapkan satu frekuensi tercipta secara instan
bukan? Anda menginginkan seorang individu secara kebetulan memiliki pola pikir
dan segala elemen dalam frekuensi yang sama dengan anda? Anda berfikir bahwa
satu frekuensi sangat sulit dibentuk secara bersama karena terlalu merepotkan.
Itu sudah wajar, karena setiap indivudu selalu menginginkan sesuatu yang mudah,
seperti yang sempat saya bahas pada BAB Seven Deadly Sins : Sins of Sloth.
Anda akan merasa bahwa sesuatu yang membuat anda berfikir keras dan mendapatkan
sebuah tekanan yang tidak pernah biasa anda alami akan selalu mendorong anda
untuk menghindari hal tersebut. Mengapa demikian? Sudah naluri seorang manusia
untuk survive dengan melarikan diri menjauhi semua yang mengancam
keberlangsungan hidup mereka.
Dengan pola pikir seperti itu maka dan ditambah dengan
manipulasi dari sosmed semakin membuat anda melupakan siapa diri anda
sebenarnya. Dimana diri anda adalah individu unik dan mampu melampaui batasan
anda jika anda ingin. Mengapa anda tidak mencoba membuat satu frekuensi bersama
pasangan anda daripada susah – susah mencari yang anda inginkan? Bukankah hal
tersebut akan menambah warna dan wawasan anda dalam menjalani hidup? Apakah
anda hanya ingin menghindari hal yang mesusahkan? Apakah anda hanya ingin mengikuti
arahan dari sosmed? Atau anda hanya ingin mencari kenyamanan dari Sins of
Sloth?
Dalam prosesnya satu frekuensi dibuat berdasarkan
pemikiran dimana humanity adalah kuncinya, menghargai, dan memikirkan perasaan
dari pasangan anda adalah fondasi utama dalam pengolahannya. Dari sekian lama
waktu yang anda tepuh dengan pasangan anda pada akhirnya Sins of Sloth
mendorong untuk berkata bahwa tidak ada kecocokan dalam hubungan anda.
Sekrang kita menuju untuk memahami bahwa manipulasi yang
dilakukan sosmed cukup membuat generasi kelahiran tahun 2003 cukup tumbuh
dengan tetap mempertahankan ketidak tahuan mereka akan manipulasi tersebut.
Sosmed mempengaruhi pola pikir mereka dan membuat mereka memiliki batasan dalam
berfikir terbuka, yang mana itu diakibatkan informasi yang selalu mereka dapat
dengan instan dengan berbagai kemajuan tehnologi pada saat ini. Semakin sering
mereka saat ini memakan informasi dari sosmed, maka akan semakin memudar jati
diri mereka, mengapa demikian? Sosmed pada dasarnya mencuri jati diri anda,
sosmed mencuri pola pikir kreatif anda, sosmed mencuri humanity dalam diri
anda, sosmed mencuri pola pikir terbuka dengan memanfaatkan tehnik memaknai,
dan masih banyak lagi. Mengapa anda tidak mengambil apa yang sosmed curi dari
anda?
Banyak yang dicuri dari anda namun anda tidak menyadari
itu bukan? Dimana anda lebih menikmati pengakuan dari dunia sosmed dari pada
pengakuan nyata yang anda dapat dari hasil kerja keras anda sendiri tanpa ada
orang yang mengetahuinya. Memang benar pengakuan dari sosmed juga anda dapat
dari kerja keras juga, lantas mengapa anda mempostingnya? Apakah anda berfikir
hanya mengabadikan momen? Apakah anda tidak berfikir bahwa kutukan itu akan
selalu ada menyertai sebuah energi positif? Bagaimana jika ada salah seorang
akun yang mengutuk tindakan anda yang dia anggap sebagai pamer dan membuatnya
iri? Anda tidak menduga bukan?
Dalam dunia sosmed tidak semua pengakuan baik akan
memiliki makna yang baik pula, pada diri seseorang pastilah ada dosa iri (Sins
Of Envy, 2024). Apakah anda baru berfikir demikian atau anda sudah pernah
memikirkannya? Lantas mengapa anda menerjang itu semua?
Memang benar pada saat ini zamannya Self-branding secara online, dikarenakan itu lebih
efisien dalam menyimpan semua data pencapaian anda. Self-branding
sendiri adalah proses di mana seseorang
membangun dan mengelola citra diri mereka sendiri, baik secara online maupun
offline (Rachmaningrum, S.Psi., M.Si, 2023).
Ini melibatkan menyampaikan pesan yang konsisten tentang siapa diri mereka,
nilai-nilai, keahlian, dan keunikan mereka kepada orang lain. Tujuannya adalah
untuk menciptakan kesan positif dan membedakan diri dari orang lain dalam
industri atau komunitas tertentu. Self-branding melibatkan penggunaan media
sosial, portofolio online, networking, dan berbagai strategi lainnya untuk
membangun reputasi yang kuat dan menarik perhatian target audiens.
Maka
dari itu rebut kembali ambil kembali apa yang dicuri dari anda oleh sosmed, be
honorable (Grim Hustle, 2022).
Komentar
Posting Komentar
Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar