The Second Choice

Apa yang anda ketahui tentang sebuah hubungan dalam kontek pasangan? Apakah anda memahami setiap potensi problem dalam setiap hubungan tersebut? Apakah anda pernah menyiapkan solusinya sebelum itu terjadi? Apakah anda pernah berfikir bawa anda sedang manjadi sebuah objek untuk diambil manfaatnya oleh pasangan anda? Pernahkah anda mendengar istilah Second Choice? Apakah anda menegetahui istilah tersebut? Apakah anda sekarang merasa telah menjadi objek tersebut? Atau malah anda menjadi pelaku yang menghadirkan sekian macam problem tersebut?

Pada kesempatan kali ini saya akan sedikit membahas mengapa individu baik selalu bertemu dengan pasangan yang red flag, dan dalam fokusnya akan saya bahas dari sudut pandang Second Choice.

Tanda anda hanya dijadikan pilihan kedua / second choice adalah hubungan tidak ada progres / disitu-situ saja / tidak ada masa depannya, selalu menghindar ketika membahas prihal perasaan, pasangan anda senang ketika anda effort all in dan menunjukkan rasa sayang ke dia, akan tetapi dia tidak pernah melakukan hal itu dengan alasan bahwa anda akan seenaknya sendiri / ngelunjak jika dia melakukan hal yang sama dengan apa yang anda lakukan. Selalu menghindar jika ditanya prihal perasaaan, ketika anda bertanya ”kamu sayang aku apa tidak?” kemungkinan jawabannya adalah ”kurang tau, tapi aku mau kamu disamping ku / aku mau kamu menemaniku”. Apakah anda merasakan itu pada pasangan anda? Atau anda pernah menjumpai hal semacam itu disekitar anda?

Hal ini identik dengan playing victim, dimana anda akan selalu disalahkan agar dia tetap bisa mendominasi dalam hubungan tersebut. Dalam kondisinya, masihlah memiliki hubungan dengan Sins Of Pride. Dimana dia akan merasa bangga akan superioritasnya dalam piramida hubungan, ketika anda mulai masuk kedalam perangkap manipulasinya. Playing victim akan lebih sering bisa dilakukan kepada anda oleh mereka karena metodenya yang paling gampang ketika dia hanya membutuhkan anda untuk memenuhi hasrat dia akan validasi dan backup dari seorang individu lain. Anda dibuat seolah sering melakukan kesalahan dan menyakiti dia, yang pada kenyataannya dialah pelaku sebenarnya, ketika anda mulai meyakini bahwa anda tidak pernah melakukan hal benar menurut dia. Anda akan mulai melakukan effort lebih dan lebih untuk menutupi semua kesalahan anda, itu lah tujuan sebenarnya dari pelaku playing victim.

Kesalahan yang tidak nyata itu dia kemas dalam sebuah drama agar fakta dapat dia belokkan, dan disajikan dalam meja sebagai makanan utama terbaik saat itu. Sehingga anda tidak dapat mengelak dari citarasa yang nikmat dari hidangan tersebut, dan anda secara tidak sadar akan berusaha untuk memuji dan menerima itu semua. Bukankah itu menakutkan? Individu yang menjadi second choice adalah mereka yang sangat membutuhkan pasangan sehingga dia tidak pernah memperdulikan tingkat kesehatan dalam sebuah hubungan. Bahkan hubungan yang tidak sehat sekali pun akn mereka anggap sehat jika individu tersebut benar-benar sangat membutuhkan pasangan.

Individu yang menjadi target dari second choice adalah mereka yang tidak good looking, kurang pergaulan, sedikit teman, green flag, dan kurangnya pengetahuan tentang sosmed. Good looking disini bukan yang fisiknya tampan, melainkan yang enak dipandang. Salah satu contoh dari yang saya maksud adalah dimana anda menggunakan pakaian yang serasi, rapi dan cocok dengan forum yang anda datangi. Kurang lebih mengarah pada enak dipandang, meski anda tidak tampan dan cantik secara fisik, paling tidak anda tidak menggunakan kaos oblong dan sandal japit ketika menghadiri suatu forum. Sedangkan untuk sedikit teman disini adalah mereka yang hidup hanya untuk bekerja dan fokus dengan masa depan, dimana tidak ada teman sebaya untuk bercerita atau berbagi pandangan prihal masalah dalam suatu hubungan. Individu semacam ini rentan menjadi target dari second choice, disamping kurangnya teman, individu yang kurang memiliki pengetahuan akan dunia sosmed juka sangat rentang menjadi target. Dikarenakan sosmed juga berperan memberikan sebuah peringatan atau warning, sejenis alarm dalam hal semacam ini. Memang dalam beberapa kasus sosmed adalah pencuri jati diri seorang individu, namun dalam kondisi tretentu, seorang individu mampu untuk menetralisisr dampak buruk dari penggunaan sosmed dengan metode tertentu. Metode tersebut adalah dengan mengambil kembali apa yang sosmed curi dari diri kita, dengan cara memanfaatkan sosmed sesuai dengan kebutuhan bukan ketergantungan. Manfaatkan dan tidak untuk dimanfaatkan.

Individu yang green flag cenderung atau terbiasa baik, memberi perhatian, penuh afeksi, sering sabar, dan sejenisnya. Potensi individu green flag melebihi batas dalam berbuat baik adalah diangka 59% yang mana hal tersebut malah membuatnya menjadi sasaran empuk bagi pelaku second choice. Mengapa demikian? Individu dengan karakter green flag lebih mengetumakan kepuasan dan kebahagiaan individu yang mereka anggap dalam hidup mereka. Sehingga hal tersebut bisa bertambah 3,5% potensi seorang individu green flag melebihi batas dalam berbuat baik dan melupakan ketegasan. Tidak jarang juga si green flag terjebak dalam siklus ”tidak enakan” atau lebih sering kita sebut ”tidak tega-an”.

Saya ambil contoh seorang yang green flag menenyakan pada pasangannya prihal perasaan pasangannya pada dirinya. Ketika si green flag bertanya, bagaimana perasaan kamu ke aku? Pelaku second choice berpotensi 69% menjawab tidak tahu. Dengan dikuti argumen atau pernyataan ”tapi aku ingin tetap bersama kamu” atau ”aku tidak mau kalau tidak sama kamu” atau juga ”cinta itu tidak bisa dijelaskan, jika aku bisa menjelaskan perasaan ku ke kamu, itu pertanda bukan cinta” dan lain sejenisnya. Apakah anda pernah mendengar ungkapan seperti itu? Atau anda pernah mengalami momen itu secara langsung? Atau bahkan anda pelakunya?

Individu yang kurang pengalaman dalam menjalin hubungan sosial juga rentan menjadi sasaran second choice, dikarenakan pengalaman yang mereka miliki dalam menghadapi problom dalam sebuah hubungan bisa dikatakan kurang matang. Mengapa demikian? Karena kematangan seorang individu menyelesaikan sebuah problem adalah dari pengalaman mereka selama menjalani masa hidupnya, jika selama masa hidupnya individu tersebut kurang menjalin hubungan sosial, maka problem yang berkaitan dengan hubungan sosial akan sangat minim tercapai.

Contoh simpelnya, ketika anda lebih fokus dengan pekerjaan dan hobi anda tanpa memperdulikan lingkungan sekitar anda, problem apa yang mungkin anda dapat? Apakah problem dalam konteks hubungan dengan sesama manusia? Apakah problem dalam memahami sesama manusia? Tentu bukan, poten terbesarnya adalah munculnya problem yang berkaitan dengan pekerjaan atau hobi anda. Seperti contoh pekerjaan anda sedang berjalan tidak lancar atau seperti terkendala sebuah masalah dimana tidak berjalan sesuai rencana anda, dan ini tidak ada kaitannya dengan masalah dalam hubungan sosial anda, faktor erorr dalam pekerjaan sangat sulit terprediksi secara teknis. Sedangkan untuk hobi, dan kebiaasaan anda biasanya adalah anda menemukan kesulitan dalam menjalninya.

Sedangkan untuk problem dalam konteks hubungan sosial adalah dimana masalah muncul akibat anda sulit memahami hubungan dengan sesama individu, baik dalam memahami ucapan, penekanan ego, dan sejenisnya. Pengalaman inilah yang anda butuhkan dalam mencegah anda menjadi target dari second choice. Mencegah lebih baik dari mengobati, apakah anda sering mendengar istilah itu? Memang benar second choice sangat abstrak secara teknis, namun bisa muncul beberapa gejala yang bisa kita jadikan acuan untuk mengenali second choice.

Terkadang individu kita menikmati menjadi target dari second choice, mengapa demikian? Mungkin anda bertanya, bukankah kita tidak memahami situasi tersebut? Bukankah hal tersebut dikatakan abstrak? Dan sejenisnya. Menikmati disini saya artikan sebagai pilihan dari anda, sebenarnya mengindikasi gejala atau item ringan yang muncul sangat memungkinkan. Tapi terkadang ada beberapa individu yang mengabaikan itu dengan dalih malas berfikir negatif dan biarkan waktu yang menentukan. Jika memang seperti itu pilihannya bukankah sama saja dengan membuang waktu pada hal yang tidak berguna? Memang tidak bisa dipungkiri berfikir santai adalah kebiasaan yang dilakukan anak muda zaman sekarang. Mereka lebih memilih mengabaikan komitmen dalam sebuah hubungan romansa, mereka menganggap bahwa komitmen bisa dilakukan jika waktunya sudah pas. Sedangkan item apa yang mengindikasikan waktu yang pas tersebut? Tidak ada bukan? Dan itu hanya masing-masing individu yang mengetahuinya, karena tiap individu bersifat unik, baik kapasitas maupun pola pikir mereka.

Second choice, memberikan kita kenyamanan yang cukup menjanjikan, dimana kita diberikan suatu hubungan tanpa sebuah keterikatan. Maksudnya disini adalah dalam second choice, pelakunya akan disuguhkan dengan hubungan yang menguntungkan dimana dia memiliki sekian banyak backup an bantuan dan validasi dari sekian banyak alternatif atau sejenisnya. Sedangkan pelakunya ketika diuntungkan dengan sekian banyak tehnik dia beradadi puncak piramida, mengapa demikian? Ketika pelaku second choice menggunakan sekian macam metode dalam darak psikologi, dia akan mampu mengendalikan korbannya tanpa takut kehilangan sosok dari korban dan targetnya, hal itu dikarenakan sudah ada backup atau pengganti yang siap menggantikan tugas dari target second choice tersebut (Akayuki Todo, 2012).

Namun, bagaimana pun juga, dari sisi korban atau target dari second choice, mereka hanya akan mengalami dilema dan stres akibat dari kebingungan menalar perasaan dan pemecahan solusi dari sekian masalah yang diberikan oleh pelaku dari second choice. Dalam hal ini, individu yang menjadi "second choice" cenderung merasa terjebak dalam hubungan yang tidak sehat meskipun menyadari bahwa hubungan tersebut tidak membawa progres atau kebahagiaan yang sejati. Mereka merasa ketergantungan emosional atau psikologis terhadap pasangan mereka, meskipun menyadari bahwa mereka hanya dijadikan pilihan kedua dan tidak dihargai sepenuhnya dalam hubungan tersebut.

Sebagaimana teori kecanduan dan ketergantungan dalam psikologi, ketergantungan emosional ini dapat menyebabkan individu merasa sulit untuk melepaskan diri dari hubungan yang merugikan, meskipun mereka menyadari bahwa itu tidak sehat. Seperti kecanduan lainnya, hubungan ini memberikan dorongan singkat atau penghilang rasa sakit sementara, seperti rasa dicintai atau diakui, yang membuat individu kembali lagi dan lagi meskipun mengetahui bahwa itu hanya memberikan kepuasan yang sesaat.

Bagaimana menurt anda? Apakah anda mulai memahami sesuatu? Apakah anda mulai merasakan beberapa gejala dari second choice? Apakah anda mulai berfikir bahwa anda adalah pelakunya? Apakah anda juga berfikir bahwa sekarang anda adalah target / korban dari second choice?

Dalam konteks yang sebenarnya, tanggung jawab dan belajar untuk melaksanakannya merupakan hal yang sangat penting dalam menjalin hubungan sosial, terutama hubungan romansa. Jika hubungan romansa tidak disertai dengan komitmen, maka bisa dianggap sebagai lelucon belaka. Mengapa seseorang memilih untuk menjalin hubungan romansa jika mereka tidak siap untuk menghadapi komitmen? Komitmen adalah fondasi dari hubungan romansa yang sehat, karena dengan adanya komitmen, batasan yang tidak sehat dapat dihindari. Bahkan sifat-sifat pasangan yang cenderung negatif, seperti posesif dan kecurigaan berlebihan, dapat diminimalisir dengan adanya komitmen dan rasa percaya.

Namun, Heisenberg, (2013) menjelaskan tentang teori penolakan atau penyangkalan diri, di mana individu dalam hubungan yang tidak sehat cenderung menolak atau menyangkal kebenaran yang tidak nyaman atau menghadapi tanggung jawab atas perilaku mereka sendiri. Hal ini mengakibatkan penguatan pola perilaku yang merugikan, karena individu tersebut menolak untuk mengakui atau menghadapi dampak negatif dari perilaku mereka. Sebagai contoh, individu mungkin menolak untuk mengakui bahwa mereka terjebak dalam second choice, dimana mereka tidak mendapatkan penghargaan dari pasangan mereka dengan lak, mereka hanya mendapatkan perhatian dan waktu dari pelaku second choice dengan alakadarnya, bukankah itu merugikan?

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan

Perspectives 12

Perspectives 4: DIBALIK SEBUAH TABIR