Iri dalam Bayang-Bayang Cinta
Halo. . . .
Taukah
anda prihal kondisi pasangan anda secara menyeleruh? Atau pernahkah anda
mengetahui kebutuhan pasangan anda terhadap suatu hal / objek / kebiasaan yang
sejenis seperti ritual? Ritual disini yang saya maksud adalah dimana ketika
pasangan anda tidak akan melakukan sebuah aktifitas sebelum melakukan hal itu.
Lalu apakah anda pernah melihat beberapa hal atau tindakan pasangan anda yang
sedikit kurang normal, misal seperti ketika anda menceritakan kegiatan anda
setelah seharian dikantor dan pasangan Anda menanggapinya hanya dengan kata
“sabar” atau hanya dengan tanggapan datar tanpa ada kalimat selanjutnya?
Pada
beberapa momen, apakah anda mulai merassa curiga atau merasa bahwa keberadaan
pasangan Anda mengancam keberlangsungan hidup anda? Disini yang saya maksud
mengancam adalah anda merasa bahwa pasangan anda berpotensi mengungguli
pencapaian anda dan akan merendahkan nilai anda? Apakah pasangan anda pernah
mengatakan bahwa pencapaian yang anda peroleh saat ini hanya sebuah
keberuntungan? Atau pernahkah pasangan anda membandingkan pencapaian anda
dengannya dalam konteks koneksi yang membantu dan berperan dalam pencapaian
saat ini? Apakah pasangan anda sering mengkritik langkah dan pilihan anda?
Jika
semua pertanyaan tadi anda jawab dengan “iya” maka bisa saya simpulkan bahwa
ada Sin Of Envy. Brown, C. (2002), dalam jurnalnya "Dosa dalam Mitos:
Analisis Legenda 'Bayangan Jiwa Terkutuk," Dosa (Envy) adalah salah satu
dari tujuh dosa pokok dalam tradisi Kristen, yang juga dikenal sebagai
"tujuh dosa mematikan." Dalam bahasa Inggris, dosa ini disebut
"Envy." Envy merujuk pada perasaan tidak puas dan iri terhadap
keberhasilan, prestasi, atau kebahagiaan orang lain. Ini adalah bentuk
keinginan yang merusak, di mana seseorang merasa tidak senang dengan
keberhasilan atau kebahagiaan orang lain dan bahkan mungkin berharap agar
mereka mengalami kegagalan atau penderitaan.
Pasangan
anda terkadang tidak sadar dengan tindakan tersebut, bisa jadi hal itu
disebabkan oleh tekanan dari lingkungannya dan bisa juga berasal dari dorongan
kebiasaan pasangan anda sejak sebelum bertemu dengan anda yang dia dapat dari
lingkungannya, dan lain sejenisnya. Banyak sekian macam dorongan yang memicu
timbulnya iri dalam diri pasangan anda, namun dari sekian macam dorongan
tersebut ada 1 dorongan yang sangat signifikan dalam memicu lahirnya iri dalam
diri pasangan anda. Itu adalah pemikirannya, mengapa demikian?
Sekarang
saya tanya pada anda, setiap informasi masuk tanpa melalui proses kah? Pasti
melalui proses terlebih dahulu. Wujud fisik yang merupakan penerima atau
receiver dari informasi di luar tubuh kita, lalu diproses oleh otak menggunakan
pikiran dan diberikan wujud respon berdasar pengolahan informasi tersebut
menggunakan pola pikir sebagai dasar pemrosesannya. Sekarang saya ibaratkan
skincare yang merupakan kebutuhan wanita di zaman sekarang, menurut pria
skincare tidak terlalu penting karena tanpa skincare pun wanita bisa tampil
cantik dengan menjaga kebersihan dan menggunakan ketentuan perawatan tubuh
dalam agama dan medis. Namun mengapa bagi wanita, skincare itu hampir seperti
kebutuhan pokok?
Yap,
betul. Itu adalah hasil dari persuasi yang wanita dapat dari media, terutama
media sosial. Persuasi menyebabkan individu yang tadinya tidak terlalu
membutuhkan produk tersebut, berpikir dia sangat membutuhkan produk tersebut.
Bagiaman tidak, jika setiap hari individu tersebut selalu melihat iklat dengan
ujaran yang menjabarkan seberapa butuhnya tubuh anda dengan produk tersebut
tidak tertari, jelas secara perlahan, lambat laun individu tersebut akan
mengubah pola fikirnya menjadi seperti ujaran dari iklan tersebut.
Itu
hanya contoh. Sekarang banyak ujaran dan postingan yang menyinggung
keberuntungan seseorang dalam mencapai pencapaiannya sekarang.
Kemarin
ada klien saya mengatakan pada saya bahwa ada individu yang mengkritik individu
yang memilih menempuh jalur kuliah. Dia mengatakan bahwa anak kuliah itu hanya
pengangguran berkelas dan tongkrongan elit. Namun apa respon saya? Saya
ibaratkan dengan gelas dan air. Ketika gelas itu beri air mengapa anda tidak
berpikir untuk mengisinya? Dan itulah mengapa seseorang akan mengkritik atau
berpendapat pada orang lain, hal itu dikarenakan orang yang menjadi objek
kritik tidak memenuhi kriteria terisi bagi oknum yang memberi keritik tersebut.
Bagai gelas yang sudah terisi air, mahasiswa yang lulus dan bekerja tidak akan
tersinggung dengan ujaran tersebut, karena mereka merupakan gelas dengan air
didalamnya. Sedangkan mahasiswa yang merasa tersinggung dengan ujaran tersebut,
bagaikan gelas kosong yang tidak mau diisi dengan air. Kenapa harus
tersinggung, bukankah itu sebuah kenyataan? Akui saja dan anda akan mendapatkan
sebuah pandangan baru. Mengapa anda tersinggung dengan ujaran yang demikian?
Apakah anda merasa iri dengan pencapaian oknum yang memberi kritikan tersebut?
Sekarang
bagaimana jika kasusnya seorang cewek iri dengan pencapaian pasangannya?
Sebagai
contoh, seseorang yang merasa iri terhadap pasangannya yang sukses secara
profesional mungkin mengembangkan delusi bahwa pasangan mereka mencapai
kesuksesan itu karena faktor di luar kemampuan atau kerja keras mereka, seperti
keberuntungan atau hubungan pribadi tertentu. Mereka mungkin memperbesar
kekurangan atau kesalahan pasangan mereka dalam benak mereka sendiri untuk
meredam perasaan inferioritas yang muncul dari perasaan iri.
Johan
Liebert (2007) menjelaskan tanda-tanda ketika seseorang merasa iri kepada anda
:
1. Mereka akan selalu mengkritik langkah dan pilihan anda, sebagai upaya untuk merusak kepercayaan diri anda.
2. Mereka ankan menganggap anda sebagai ancaman, mereka akan berusaha melampaui pencapaian anda, dan ingin terlihat lebih bersinar dari pada anda.
3. Mereka akan memuji anda di depan publik, namun mereka akan menyelipkan pesan negatif di dalam pujian tersebut.
4. Mereka akan menyebarkan gosip atau berbicara buruk tentang anda sebagai upaya untuk merendahkan anda di mata orang lain.
5. Mereka akan mengatakan bahwa anda hanya beruntung, dan mereka akan membandingkan pencapaian orang lain terhadap anda.
Beberapa
faktor yang terlibat dalam kasus ini, (Liebert, 2007) :
- Ketidakamanan diri : Wanita tersebut
merasa tidak aman atau tidak percaya diri dalam hubungannya, dan melihat
pencapaian pasangannya sebagai ancaman terhadap harga dirinya sendiri.
- Perbandingan Sosial : Wanita tersebut
mungkin merasa terdorong untuk membandingkan dirinya dengan pasangannya
atau orang lain dalam lingkungan sosialnya. Pencapaian pasangannya bisa
membuatnya merasa tidak sebanding atau merasa kurang berhasil.
- Ketidakpuasan Pribadi : Wanita
tersebut mungkin merasa tidak puas dengan pencapaian atau keadaan hidupnya
sendiri, dan melihat pencapaian pasangannya sebagai pengingat akan
ketidakpuasan tersebut.
- Kecemburuan : Ada kemungkinan bahwa
ada elemen kecemburuan yang terlibat, di mana wanita tersebut mungkin iri
dengan perhatian atau penghargaan yang diberikan kepada pasangannya karena
pencapaiannya.
Dalam
psikoanalisis, perasaan iri bisa dipahami sebagai akibat dari konflik batin dan
pikiran yang rumit, perasaan iri seringkali dianggap sebagai hasil dari konflik
internal yang kompleks di dalam pikiran seseorang. Ini bisa muncul dari
pertentangan antara keinginan dan kebutuhan yang mungkin tidak terpenuhi, atau
perasaan inferioritas yang muncul dari perbandingan dengan orang lain.
Misalnya, seseorang mungkin merasa tidak aman tentang pencapaian atau kemampuan
mereka sendiri, dan melihat orang lain yang lebih sukses sebagai ancaman
terhadap harga diri mereka. Hal ini seringkali menjadi sumber kecemasan yang
bisa memicu reaksi tidak sehat seperti kritik terhadap orang lain atau upaya
untuk merasa lebih baik dengan menurunkan orang lain.
Dalam
hal ini kita bisa melihatnya dari perspektif struktur kepribadian, yang
mencakup id, ego, dan superego.
Id
:
Bagian kepribadian yang didorong oleh naluri dan kebutuhan yang tidak disadari.
Di sini, perasaan iri bisa muncul sebagai respons terhadap keinginan atau
kebutuhan yang tidak terpenuhi secara memadai. Saya ambil contoh, ketika
pasangan anda tidak memiliki orang tua atau pasangan anda berasal dari keluarga
yang tidak utuh. Pasti pasangan anda sedikit banyak menyinggung bahwa
terpenuhinya kondisi anda sekarang ini adalah berkat bantuan dan dukungan dari
keluarga anda. Banyak perceraian atau berakhirnya sebuah hubungan hanya karena
ujaran “kamu mah enak dapet dukungan begitu dari keluarga kamu”.
Membanding-bandingkan adalah sebuah hal yang wajar, namun hal itu bisa
menyinggu perasaan pasangan. Pasangan anda terdorong melontarkan ujaran
tersebut pada anda diakibatkan sifat yang kurang bersyukur dengan keadaan dia
yang sekarang, perbandingan yang dia gunakan terlalu tinggi melampau standarnya.
Ego:
Bagian kepribadian yang bertindak sebagai mediator antara id dan realitas
eksternal. Ego mencoba untuk memenuhi kebutuhan id dengan cara yang realistis,
namun dalam konteks perasaan iri, ego mungkin merasa terancam oleh pencapaian
atau kesuksesan orang lain, sehingga memunculkan perasaan tidak aman atau
inferioritas.
Superego:
Bagian kepribadian yang menginternalisasi nilai-nilai, norma-norma, dan standar
moral. Ketika seseorang merasa iri terhadap pencapaian orang lain, superego
mereka mungkin menambahkan dimensi moral atau etis ke dalam perasaan tersebut,
membuat mereka merasa buruk karena merasa iri.
Jadi
kesimpulannya, penting bagi kita untuk menyadari kompleksitas perasaan iri
dalam hubungan, terutama dalam konteks pasangan. Perasaan iri bisa muncul dari
berbagai faktor psikologis, seperti ketidakamanan diri, perbandingan sosial,
atau ketidakpuasan pribadi. Namun, kita juga perlu mengenali bahwa perasaan iri
bisa menjadi salah satu dosa pokok dalam tradisi Kristen, yang menyoroti sisi
moral dan etis dari perasaan tersebut. Oleh karena itu, penting untuk
berkomunikasi secara terbuka dan jujur dalam hubungan, serta mengembangkan
empati dan pengertian terhadap perasaan dan kebutuhan pasangan kita. Dengan
demikian, kita dapat membangun hubungan yang kuat dan saling mendukung, tanpa
terjerat oleh perasaan iri yang merusak.
Sumber
Pustaka
Brown, C. (2002). “Sin in Myth: Analysis
of the 'Cursed Soul's Shadow' Legend.” Journal of Religious Studies, 15(3),
45-59.
Baumeister, Roy F., and Mark R. Leary.
(1995). "The Need to Belong: Desire for Interpersonal Attachments as a
Fundamental Human Motivation." Psychological Bulletin, 117(3), 497-529.
Finkel, Eli J., et al. (2012). "The
New Science of Romantic Relationships: Building Bridges Between Brain and
Behavior." Current Directions in Psychological Science, 21(2), 105-110.
Guerrero, Laura K., Peter A. Andersen, and
Walid A. Afifi. (2017). Close Encounters: Communication in Relationships. 5th
edition. Sage Publications.
Hendrick, Susan S., and Clyde Hendrick.
(2006). Close Relationships: A Sourcebook. Sage Publications.
Liebert, Johan. (2007). Signs of Envy in
Relationships: Understanding the Dynamics of Jealousy and Competition.
Psychology Today.
Montoya, R. Matthew, Robert S. Horton, and
Jeffrey Kirchner. (2008). "Is Actual Similarity Necessary for Attraction?
A Meta-Analysis of Actual and Perceived Similarity." Journal of Social and
Personal Relationships, 25(6), 889-922.
Rubin, Zick. (1973). Liking and Loving: An
Invitation to Social Psychology. Holt, Rinehart, and Winston.
Wood, Julia T. (2015). Interpersonal
Communication: Everyday Encounters. 8th edition. Cengage Learning.
Freud, Sigmund. (1923). The Ego and the
Id. Hogarth Press.
Komentar
Posting Komentar
Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar