Mengatasi Overthinking dengan Filosofi Hidup Jepang untuk Gen Z
Mengatasi Overthinking dengan Filosofi Hidup Jepang untuk Gen Z
Overthinking adalah salah satu
tantangan psikologis yang kerap dihadapi banyak orang dalam kehidupan modern.
Pikiran yang terus-menerus berputar tanpa henti sering kali mengakibatkan
stres, kecemasan, dan kelelahan mental. Fenomena ini dapat menghambat kemampuan
seseorang untuk membuat keputusan, merusak keseimbangan emosional, dan
menurunkan produktivitas. Dalam dunia yang serba cepat ini, menemukan teknik
untuk mengelola overthinking menjadi semakin penting untuk menjaga kesehatan
mental dan kualitas hidup.
Filosofi kehidupan dari Jepang
seperti Ikigai (生きがい), Kaizen (カイゼン), Shoshin (初心), dan Hara Hachi Bu (胃八分) menawarkan pendekatan yang
sederhana namun mendalam untuk menghadapi overthinking. Dengan mengintegrasikan
konsep-konsep ini ke dalam keseharian, seseorang dapat melatih pikiran untuk
lebih fokus, membangun kebiasaan positif, dan mencapai ketenangan batin.
Artikel ini akan menjelaskan bagaimana masing-masing prinsip tersebut dapat
diterapkan sebagai teknik praktis untuk menghentikan overthinking.
Apa Itu Overthinking dan Mengapa
Harus Dikelola?
Overthinking adalah pola berpikir
yang terlalu banyak menganalisis situasi hingga menciptakan kecemasan. Menurut
sebuah studi dalam Journal of Behavioral Therapy and Experimental Psychiatry
(2017), overthinking sering dikaitkan dengan gangguan kecemasan dan depresi.
Pola ini membuat seseorang sulit membuat keputusan, menurunkan produktivitas,
dan merusak keseimbangan emosional. Bagi Gen Z, yang selalu terhubung dengan
informasi dan media sosial, risiko overthinking menjadi lebih tinggi. Maka,
diperlukan solusi praktis untuk mengelola pikiran secara efektif.
Sebagai respons terhadap masalah
ini, pendekatan yang berakar dari budaya Jepang menawarkan solusi yang unik.
Prinsip Ikigai membantu individu menemukan tujuan hidup yang jelas,
sehingga pikiran dapat diarahkan pada hal-hal yang bermakna. Kaizen
mengajarkan bahwa fokus pada perbaikan kecil dapat membantu mengalihkan
perhatian dari kekhawatiran besar. Shoshin mendorong seseorang untuk
membuka diri terhadap perspektif baru, sehingga tidak terjebak dalam pola pikir
yang stagnan. Terakhir, Hara Hachi Bu mengingatkan pentingnya
keseimbangan dalam segala aspek, termasuk kebiasaan berpikir.
Mengatasi Overthinking dengan
Filosofi Hidup Jepang untuk Gen Z
Ikigai (生きがい), yang secara harfiah berarti
"alasan untuk hidup," menekankan pentingnya menemukan keseimbangan
antara empat elemen utama: Apa yang kamu cintai, Apa yang kamu kuasai, Apa
yang dibutuhkan dunia, Apa yang bisa menghasilkan uang (Mogi, 2017). Dengan
memahami hubungan antara keempat elemen ini, kita dapat menemukan tujuan hidup
yang jelas dan fokus. Ken Mogi dalam The Little Book of Ikigai
menjelaskan bahwa hidup dengan Ikigai dapat menciptakan rasa syukur dan
kebahagiaan dalam keseharian, meskipun melalui tugas-tugas kecil. Dengan kata
lain, fokus pada tujuan yang bermakna dapat mengurangi kekhawatiran berlebihan
tentang hal-hal yang tidak penting.
Konsep Ikigai sejalan dengan
teori-teori psikologi positif yang menekankan pentingnya makna dan tujuan hidup
dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis individu. Sebagai contoh, teori
Self-Determination dari Deci dan Ryan (2000) menekankan pentingnya kebutuhan
akan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan sosial untuk mencapai motivasi
intrinsik dan kesejahteraan. Dalam konteks Ikigai, elemen-elemen seperti
"Apa yang kamu cintai" dan "Apa yang kamu kuasai" dapat
dihubungkan dengan kebutuhan kompetensi dan otonomi, yang merupakan kunci untuk
motivasi yang berkelanjutan. Sedangkan "Apa yang dibutuhkan dunia"
dan "Apa yang bisa menghasilkan uang" mengarah pada kebutuhan
keterhubungan sosial dan tujuan yang lebih besar yang memberi rasa makna dalam
hidup.
Lebih lanjut, konsep Ikigai juga
sejalan dengan teori makna hidup dari Frankl (1946), yang berpendapat bahwa
pencarian makna adalah motivasi utama dalam kehidupan manusia. Menurut Frankl,
orang yang merasa hidup mereka bermakna cenderung memiliki kesejahteraan
psikologis yang lebih baik, bahkan ketika menghadapi tantangan atau kesulitan.
Pencarian Ikigai dapat memberikan makna yang lebih dalam dalam menjalani
kehidupan sehari-hari, bahkan dalam tugas-tugas kecil sekalipun. Hal ini dapat
mengurangi perasaan kecemasan dan ketidakpuasan yang sering timbul dari fokus
pada hal-hal yang kurang bermakna (Steger, 2009).
Menurut Ken Mogi (2017), hidup
dengan Ikigai dapat menciptakan rasa syukur dan kebahagiaan dalam keseharian,
yang berhubungan dengan konsep "flow" yang dijelaskan oleh
Csikszentmihalyi (1990). Flow adalah keadaan mental di mana individu sepenuhnya
terlibat dalam aktivitas yang mereka lakukan, sering kali merasakan kebahagiaan
dan kepuasan yang mendalam. Ketika seseorang menemukan tujuan hidup yang
bermakna dan melibatkan dirinya dalam aktivitas yang mereka cintai dan kuasai,
mereka lebih cenderung mengalami flow, yang meningkatkan kesejahteraan
psikologis mereka.
Dalam konteks ini, fokus pada
tujuan yang bermakna, seperti yang dijelaskan dalam konsep Ikigai, dapat
mengurangi kekhawatiran berlebihan tentang hal-hal yang tidak penting. Hal ini
sejalan dengan prinsip mindfulness, yang berfokus pada perhatian penuh dan
penerimaan terhadap pengalaman saat ini tanpa penilaian berlebihan (Kabat-Zinn,
1990). Dengan menerapkan prinsip-prinsip Ikigai, individu dapat mencapai
keadaan mental yang lebih tenang dan puas, serta mengurangi stres dan kecemasan
yang sering muncul akibat kehidupan yang tidak terarah.
Kaizen (カイゼン), yang secara harfiah berarti
"perbaikan berkelanjutan," merupakan konsep yang pertama kali
dikembangkan di Jepang dan telah diadopsi dalam berbagai bidang, termasuk
manajemen dan psikologi. Menurut Masaaki Imai (1986), Kaizen berfokus pada perbaikan
kecil yang dilakukan secara konsisten. Dalam buku Kaizen and Continuous
Improvement, Imai menekankan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari
langkah-langkah kecil yang dilakukan setiap hari. Prinsip ini dapat diadaptasi
untuk mengatasi tantangan psikologis seperti overthinking, yaitu kecenderungan
untuk memikirkan suatu masalah secara berlebihan, yang sering kali menghambat
kemampuan seseorang untuk mengambil tindakan nyata.
Teori psikologi yang mendukung
pendekatan ini dapat ditemukan dalam konsep cognitive-behavioral therapy
(CBT) yang dipelopori oleh Aaron Beck. CBT berfokus pada perubahan pola pikir
yang tidak adaptif dan mendorong individu untuk melibatkan diri dalam perilaku
yang konstruktif meskipun perasaan cemas atau khawatir mungkin masih ada (Beck,
1976). Dalam konteks mengatasi overthinking, pendekatan Kaizen dapat diterapkan
dengan memecah masalah besar menjadi tugas-tugas kecil yang lebih dapat
dikelola. Dengan cara ini, individu tidak merasa kewalahan oleh besarnya tugas
yang harus diselesaikan, dan mereka dapat bergerak maju dengan langkah-langkah
kecil yang terasa lebih terjangkau dan realistis.
Proses ini sejalan dengan prinsip
dasar dalam teori self-regulation yang dikembangkan oleh Baumeister dan
Vohs (2007), yang menunjukkan bahwa kemampuan untuk mengelola pikiran dan
perilaku melalui langkah-langkah kecil dapat meningkatkan kontrol diri.
Menggunakan pendekatan Kaizen, seseorang dapat mengurangi kecenderungan untuk
terjebak dalam perasaan cemas atau terbelenggu oleh perasaan tidak mampu
menyelesaikan masalah besar sekaligus. Sebagai contoh, daripada mencoba
menyelesaikan tugas besar secara sekaligus, seseorang bisa memulai dengan
langkah sederhana seperti menyusun outline atau membaca satu artikel yang
relevan. Hal ini tidak hanya membantu untuk mengurangi kecemasan, tetapi juga
memperkuat rasa pencapaian melalui perbaikan bertahap.
Dengan demikian, Kaizen tidak hanya
relevan dalam dunia manajemen dan bisnis, tetapi juga memberikan panduan
praktis untuk mengatasi tantangan psikologis seperti overthinking. Fokus pada
perbaikan bertahap ini membantu individu untuk meraih pencapaian besar dengan
mengurangi rasa cemas dan memperbaiki kesejahteraan psikologis mereka melalui
tindakan kecil yang konsisten.
Shoshin (初心), yang diterjemahkan sebagai
"pikiran pemula," adalah konsep penting dalam praktik Zen yang
mengajak kita untuk memulai setiap hal dengan pikiran yang terbuka, tanpa
prasangka atau asumsi. Dalam karya Zen Mind, Beginner’s Mind, Zen Master
Shunryu Suzuki (1970) menggambarkan pikiran pemula sebagai keadaan mental yang
penuh dengan rasa ingin tahu dan kebebasan, bertolak belakang dengan pikiran
yang telah "terlatih" atau berpengalaman yang cenderung dibatasi oleh
pengetahuan yang ada. Suzuki berpendapat bahwa dengan mengadopsi sikap Shoshin,
kita dapat menghindari pemikiran yang terkungkung dalam pengalaman masa lalu
dan memelihara keterbukaan terhadap pengalaman baru.
Dalam psikologi, prinsip Shoshin
sejalan dengan konsep cognitive flexibility, yang merujuk pada kemampuan
untuk berpindah antara berbagai ide dan pendekatan dalam menghadapi masalah
(Scott, 2022). Ketika seseorang mengadopsi mentalitas pemula, mereka lebih
mampu mengatasi cognitive rigidity yang sering kali muncul karena
pengaruh pengalaman atau pengetahuan yang sudah ada. Cognitive flexibility
memungkinkan individu untuk lebih adaptif, menerima pandangan yang berbeda, dan
melihat masalah dengan perspektif baru yang lebih kreatif.
Keterbukaan terhadap perspektif
baru ini juga dapat dijelaskan melalui teori growth mindset yang
dikembangkan oleh Carol Dweck (2006). Dweck berargumen bahwa individu dengan growth
mindset percaya bahwa kemampuan mereka dapat berkembang seiring waktu
melalui usaha dan pembelajaran, berbeda dengan individu yang memiliki fixed
mindset yang cenderung merasa bahwa kemampuan mereka terbatas dan statis.
Dengan menerapkan konsep Shoshin, seseorang bisa mengembangkan pola pikir ini,
menganggap tantangan sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang, bukan
sebagai ancaman.
Overthinking sering kali muncul
ketika seseorang terjebak dalam penilaian berulang berdasarkan pengalaman atau
asumsi masa lalu yang tidak relevan. Kecenderungan ini sejalan dengan fenomena cognitive
bias, khususnya confirmation bias, di mana seseorang lebih cenderung
mencari informasi yang mengonfirmasi keyakinan atau pengalaman sebelumnya,
alih-alih terbuka pada informasi baru (Nickerson, 1998). Shoshin mengajak kita
untuk melepaskan bias ini dengan membiarkan diri kita melihat situasi atau
masalah tanpa terbawa oleh prasangka atau asumsi yang tidak relevan.
Dengan mengadopsi Shoshin, kita
bisa:
- Melepaskan asumsi yang tidak
relevan,
mengurangi pengaruh confirmation bias yang membatasi kemampuan kita
untuk melihat alternatif solusi.
- Membuka diri terhadap
perspektif baru,
yang mendukung pengembangan cognitive flexibility dan growth
mindset, memungkinkan kita untuk mengeksplorasi berbagai cara untuk
menyelesaikan masalah.
- Melihat masalah dari sudut
pandang yang segar,
yang membuka jalan bagi solusi kreatif yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Dengan demikian, mengadopsi prinsip
Shoshin bukan hanya memberikan kebebasan dalam berpikir, tetapi juga memperkaya
proses pemecahan masalah dan pertumbuhan pribadi, menciptakan ruang bagi
inovasi dan pemikiran yang lebih terbuka.
Hara Hachi Bu (胃八分), sebuah kebiasaan
makan dari masyarakat Okinawa, mengajarkan untuk berhenti makan saat merasa 80%
kenyang (Buettner, 2008). Konsep ini tidak hanya mendukung kesehatan fisik,
tetapi juga memiliki dampak yang signifikan terhadap keseimbangan mental.
Kebiasaan ini bertujuan untuk menghindari makan berlebihan yang dapat
menyebabkan rasa kekenyangan dan penurunan energi setelah makan, serta
berpotensi mengganggu konsentrasi dan fokus.
Dalam buku The Blue Zones,
Buettner (2008) mengidentifikasi bahwa pola makan yang moderat, seperti Hara
Hachi Bu, berkontribusi pada penuaan yang lebih sehat dan lebih panjang. Ini
sejalan dengan penelitian yang menyatakan bahwa makan berlebihan dapat memicu
proses inflamasi dalam tubuh yang berhubungan dengan penyakit kronis (Micha et
al., 2017). Makan dalam porsi yang lebih kecil juga dapat menjaga kestabilan
energi sepanjang hari, menghindari perasaan lesu atau penurunan produktivitas
yang sering kali terjadi setelah makan berat.
Namun, prinsip Hara Hachi Bu dapat
diterapkan dalam konteks yang lebih luas, tidak hanya dalam kebiasaan makan,
tetapi juga dalam pengelolaan energi mental. Salah satu aspek penting dalam
teori psikologi adalah konsep self-regulation atau pengaturan diri, yang
merujuk pada kemampuan individu untuk mengontrol pikiran, emosi, dan perilaku
dalam rangka mencapai tujuan jangka panjang (Baumeister & Vohs, 2007).
Dengan berhenti sebelum berpikir terlalu banyak atau merencanakan secara berlebihan,
individu dapat mengatur kapasitas mental mereka, menghindari mental fatigue,
dan menjaga keseimbangan dalam aktivitas sehari-hari.
Selain itu, konsep cognitive
load theory (Sweller, 1988) mengungkapkan bahwa otak manusia memiliki
kapasitas terbatas dalam memproses informasi. Terlalu banyak berpikir atau
merencanakan dalam waktu yang bersamaan dapat menyebabkan cognitive overload,
yang berdampak pada penurunan kualitas keputusan dan produktivitas. Dengan
demikian, berhenti sejenak saat merasa overthinking, seperti yang dianjurkan
dalam prinsip Hara Hachi Bu, memungkinkan individu untuk menghindari kelebihan
beban kognitif dan menjaga fokus pada hal-hal yang lebih penting.
Sebagai contoh, ketika seseorang
merasa terjebak dalam rumination atau berpikir berlebihan tentang suatu
masalah, menerapkan kebiasaan Hara Hachi Bu dengan berhenti sejenak dan
bertanya pada diri sendiri: "Apakah saya perlu memikirkan ini
sekarang?" akan membantu untuk menghemat energi mental yang dapat digunakan
untuk tugas-tugas yang lebih produktif dan relevan (Nolen-Hoeksema, 2015).
Secara keseluruhan, prinsip Hara
Hachi Bu, meskipun berasal dari kebiasaan makan, dapat diterapkan dalam banyak
aspek kehidupan. Mengontrol kebiasaan berlebihan, baik itu dalam hal makan,
berpikir, atau bekerja, adalah kunci untuk menjaga keseimbangan antara
kesehatan fisik dan mental. Prinsip ini, didukung oleh teori psikologi tentang
pengaturan diri dan beban kognitif, memberikan kerangka kerja yang berguna
dalam menjaga produktivitas, efisiensi, dan kesejahteraan secara keseluruhan.
Langkah Praktis untuk
Mengintegrasikan Filosofi Jepang
1.
Temukan
Ikigai-mu. Buat
daftar hal-hal yang kamu cintai, kuasai, dan bisa menghasilkan manfaat.
Prioritaskan aktivitas yang mencerminkan keempat elemen tersebut.
2.
Gunakan
prinsip Kaizen.
Pilih satu kebiasaan kecil yang ingin kamu ubah atau tambahkan. Mulailah dengan
langkah sederhana, seperti menulis jurnal selama 5 menit setiap malam.
3.
Latih
Shoshin. Setiap
kali menghadapi masalah, tanyakan: Apa yang bisa saya pelajari dari situasi
ini? Hindari berpikir bahwa kamu sudah tahu segalanya.
4.
Praktikkan
Hara Hachi Bu dalam berpikir.
Ketika merasa mulai tenggelam dalam overthinking, berhenti dan fokuslah pada
tindakan kecil yang bisa segera dilakukan.
Filosofi Jepang seperti Ikigai,
Kaizen, Shoshin, dan Hara Hachi Bu memberikan kerangka kerja yang relevan dan
praktis bagi Gen Z dalam mengatasi overthinking. Dengan mengaplikasikan
prinsip-prinsip tersebut, Anda tidak hanya dapat mengelola pikiran dengan lebih
efektif, tetapi juga menemukan jalan hidup yang lebih bermakna dan produktif.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Shunryu Suzuki: "In the beginner's mind
there are many possibilities, but in the expert's mind there are few."
Dengan menjaga pikiran yang terbuka dan mengambil langkah-langkah kecil yang
konsisten, Anda dapat keluar dari lingkaran overthinking dan menemukan
kedamaian dalam setiap momen kehidupan.
Daftar Pustaka
Buettner,
D. (2008). The Blue Zones: Lessons for Living Longer From the People Who've
Lived the Longest. National Geographic.
Imai,
M. (1986). Kaizen and Continuous Improvement. Random House.
Mogi,
K. (2017). The Little Book of Ikigai: The Essential Japanese Way to Finding
Your Purpose in Life. Penguin Life.
Suzuki,
S. (1970). Zen Mind, Beginner's Mind. Weatherhill.
Journal
of Behavioral Therapy and Experimental Psychiatry. (2017). Overthinking and its
impact on mental health.
Csikszentmihalyi,
M. (1990). Flow: The psychology of optimal experience. Harper & Row.
Deci,
E. L., & Ryan, R. M. (2000). The "what" and "why" of
goal pursuits: Human needs and the self-determination of behavior.
Psychological Inquiry, 11(4), 227-268.
Frankl,
V. E. (1946). Man's search for meaning. Beacon Press.
Kabat-Zinn,
J. (1990). Full catastrophe living: Using the wisdom of your body and mind to
face stress, pain, and illness. Delacorte Press.
Steger,
M. F. (2009). Meaning in life. In S. J. Lopez & C. R. Snyder (Eds.), The
Oxford handbook of positive psychology (2nd ed., pp. 679-687). Oxford
University Press.
Baumeister,
R. F., & Vohs, K. D. (2007). Self-regulation, ego depletion, and
motivation. Social and Personality Psychology Compass, 1(1), 115-128.
Beck,
A. T. (1976). Cognitive therapy and the emotional disorders. International
Universities Press.
Dweck,
C. S. (2006). Mindset: The new psychology of success. Random House. Nickerson,
R. S. (1998). Confirmation bias: A ubiquitous phenomenon in many guises. Review
of General Psychology, 2(2), 175-220.
Scott,
J. M. (2022). Cognitive flexibility: Theory, applications, and practices.
Oxford University Press.
Micha,
R., Peñalvo, J. L., Cudhea, F., & Rehm, C. D. (2017). Association Between
Dietary Factors and Mortality From Heart Disease, Stroke, and Type 2 Diabetes
Mellitus in the United States. JAMA, 317(9), 912–924.
Nolen-Hoeksema,
S. (2015). Emotion regulation and psychopathology: The role of cognitive
emotion regulation. Annual Review of Clinical Psychology, 11, 561-585.
Sweller,
J. (1988). Cognitive load during problem solving: Effects on learning.
Cognitive Science, 12(2), 257-285.
Komentar
Posting Komentar
Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar