Iblis Dalam Cermin

 Iblis dalam Cermin: Renungan Gelap tentang Manusia, Ketundukan, dan Ilusi Sosial

Prolog Sunyi: Dari Sebuah Tatapan Kosong

Di suatu ruang kuliah yang dingin dan terang, saya duduk menyimak seseorang berbicara tentang "nilai kedisiplinan mahasiswa." Katanya, siapa yang sering absen, nilainya bisa dikurangi. Saya menoleh ke sekitar, semua tampak mengangguk: setuju, pasrah, atau sekadar malas memikirkan. Tapi ada sesuatu yang menolak tunduk dalam benakku.

Bukan tentang absensi, bukan tentang nilai. Tapi tentang satu pertanyaan kecil yang membesar diam-diam:

Apakah keterlibatan selalu berarti kebenaran?

Dari ruang itulah kegelisahanku mengalir. Tentang sistem. Tentang ilusi disiplin. Tentang bagaimana manusia lebih takut dinilai oleh manusia lain ketimbang dihakimi oleh Tuhannya. Dan dari keresahan itu, saya mulai bertanya lebih jauh: Apakah yang disebut sebagai kebaikan manusia… benar-benar murni dari kesadaran, atau hanya produk dari ketakutan akan ditinggalkan?

Kita hidup dalam panggung. Di hadapan manusia lain, kita adalah aktor yang berusaha tampil benar, adil, penuh moralitas, penuh adab. Tapi ketika panggung itu runtuh, saat kita hanya berdua dengan Tuhan, mengapa manusia justru mengumbar kelalaiannya? Mengapa suara iblis terdengar lebih masuk akal daripada wahyu di dalam kesunyian? Inilah ironi pertama dari makhluk yang katanya diciptakan paling sempurna: manusia. Esai ini adalah cermin retak. Ia tidak memberi jawaban, melainkan memperlihatkan wajahmu yang sebenarnya.

Manusia Sosial, atau Manusia Terprogram?

Sejak kecil, kita dicekoki satu kalimat keramat: “Manusia adalah makhluk sosial.” Bunyinya sederhana, tapi maknanya dalam dan menjerat. Kita diajarkan bahwa manusia tak bisa hidup tanpa manusia lain. Contohnya bayi—yang tak akan hidup tanpa perawatan ibu.

Tapi apakah itu bukti bahwa kita makhluk sosial? Atau justru bukti bahwa manusia hidup karena cinta? Dan jika cinta itu tulus, apakah ia muncul karena hubungan sosial, atau karena kecemerlangan spiritual?

Sebab cinta seorang ibu bukanlah produk dari relasi sosial. Ia adalah kilatan Tuhan yang dititipkan lewat tubuh yang pernah melahirkan. Ia bukan simbiosis, bukan barter. Ia mutlak. Ia suci. Ia ilahiah.

Tapi kita tumbuh, dan dunia menyuap kita dengan dogma lain:

“Jadilah baik agar diterima.”

Maka manusia bukan lagi berbuat baik karena sadar, tapi karena takut. Takut dikucilkan, takut ditinggalkan, takut menjadi asing. Dan saat itu terjadi, kita tak lagi menjadi manusia yang hidup karena cinta, tapi karena kecanduan terhadap validasi. Kita tidak hidup untuk sujud, kita hidup untuk dipuji.

Lucu, bukan?

Kita membangun seluruh kehidupan di atas rasa takut ditolak oleh sesama ciptaan, tapi begitu mudah mengabaikan Pencipta. Maka layaklah untuk kita tanyakan:

Apakah manusia benar-benar sosial, atau hanya makhluk yang panik karena kesendirian?

Disiplin dan Dogma: Penjara yang Tak Terlihat

Dalam dunia modern yang konon egaliter, kita masih menyembah simbol. Gelar, jabatan, kekuasaan—menjadi totem modern yang ditaati tanpa pertanyaan. Seorang dosen meminta adab dari mahasiswa, tapi tidak memberi adab pada manusia yang bernama murid. Seorang atasan menuntut waktu dan kedisiplinan, tapi lupa bahwa tubuh karyawan bukan mesin. Manusia tidak lagi tunduk pada esensi moral, tapi pada simbol kekuasaan. Apakah ini bukan bentuk penyembahan kepada berhala ciptaan manusia sendiri?

Kita diajari untuk disiplin, tapi siapa yang benar-benar diuntungkan? Mahasiswa membayar mahal untuk mendapatkan ilmu, tapi sering kali nilai diberikan bukan atas dasar pengetahuan, melainkan keterlibatan simbolik. Duduk tepat waktu, hadir dalam presensi, mengangguk, mencatat, menyapa dosen dengan sopan. Itu semua nilai di atas kertas. Tapi apakah itu esensi pembelajaran? Bukankah itu bentuk lain dari manipulasi atas nama 'mendidik'? Disiplin palsu untuk memproduksi manusia patuh, bukan manusia sadar.

Pendidikan seharusnya membebaskan, bukan memperbudak. Tapi mengapa sistem pendidikan modern lebih senang membentuk ketundukan daripada keberanian berpikir?

Lihat saja. Mahasiswa dinilai dari kehadiran, bukan dari kesadaran. Dari partisipasi formal, bukan dari kedalaman perenungan. Dan dosen-dosen berdiri di podium, mengutip filsuf-filsuf tua tapi lupa menjadi manusia yang bisa diajak berdialog.

Kita diajari adab, tapi hanya satu arah. Mahasiswa diminta sopan, tapi dosen bebas mempermalukan. Mahasiswa diminta tepat waktu, tapi dosen seenaknya mengganti jadwal. Ini bukan adab. Ini feodalisme simbolik. Ini kepatuhan yang ditanam lewat rasa takut, bukan rasa hormat.

Di manakah letak spiritualitas ketika nilai ditentukan oleh absen dan senyum pura-pura?

Mereka bilang, ini demi membentuk disiplin. Tapi disiplin macam apa yang membuat manusia kehilangan dirinya demi menyesuaikan diri?

Filsafat yang Dijauhi, Tuhan yang Dilupakan

Ilmu pengetahuan lahir dari rahim filsafat. Dan filsafat lahir dari rahim kesadaran spiritual. Tapi hari ini, filsafat dianggap bid'ah dalam dunia akademik yang haus kepastian. Sebab filsafat mengganggu. Ia tidak memberikan jawaban, ia menawarkan pertanyaan. Dan manusia modern benci pertanyaan—karena pertanyaan membuka kemungkinan, dan kemungkinan melahirkan ketidaknyamanan.

Maka manusia hari ini lebih suka dogma daripada dialektika. Lebih suka nilai akhir daripada proses berpikir. Dan akhirnya, manusia hidup dalam sistem yang menyuruhnya percaya pada Tuhan… tapi melarangnya berpikir tentang Tuhan.

Tidakkah itu lucu, bahkan tragis?

Mari kita hadapkan manusia di depan cermin tanpa dosa dan tanpa gelar. Lihat: ia bukan suci, hanya terlihat suci. Manusia adalah makhluk dengan topeng bertumpuk. Di balik tutur kata manis, ia menyimpan kebencian. Di balik ibadahnya, tersimpan kepentingan. Di balik moralitasnya, tersembunyi nafsu untuk diakui. Manusia bukan malaikat yang jatuh. Ia adalah iblis yang belajar mengenakan jubah kesucian.

Bayangkan jika iblis itu bukan makhluk gaib, tapi struktur dalam diri kita sendiri. Rasa ingin menguasai, ingin dipuja, ingin dianggap benar, ingin menjadi pusat semesta. Apakah semua itu bukan cikal bakal iblis dalam rupa manusia?

Iblis yang Menolak, Manusia yang Mengabaikan

Dalam agama Islam, iblis dikenal sebagai makhluk yang menolak sujud pada Adam. Tapi mari kita lihat dari sisi lain. Iblis tidak menolak sujud pada Tuhan. Ia hanya menolak sujud pada ciptaan. Karena ia merasa lebih murni, lebih dulu, lebih tinggi.

Ironisnya, manusia yang katanya lebih mulia dari iblis… justru seringkali tak sujud kepada Tuhannya. Bahkan kadang hidup seolah Tuhan tak pernah ada. Sujud hanya jadi simbol. Doa hanya jadi rutinitas.

Maka muncul satu hipotesis kelam:

Mungkinkah iblis bukan musuh eksternal, melainkan simbol dari sifat tergelap dalam diri manusia?

Iblis menolak karena ego. Manusia pun begitu. Iblis merasa lebih tinggi. Manusia pun demikian. Iblis tahu Tuhan, tapi membangkang. Manusia… bahkan kadang pura-pura lupa siapa Tuhan.

Jadi siapa yang lebih iblis dari iblis itu sendiri?

Ada perbedaan antara menyembah dan berserah. Banyak manusia bersujud bukan untuk menyembah Tuhan, tapi untuk meminta dikabulkan. Doanya adalah transaksi. Amalnya adalah investasi. Agamanya adalah bisnis identitas. Maka sesungguhnya, siapa yang mereka sembah? Apakah itu Tuhan, atau hanya versi ideal dari diri mereka sendiri yang mereka ciptakan untuk merasa suci?

Inilah metafisika pengkhianatan: ketika sujud tidak lagi berarti tunduk, tapi alat tawar-menawar. Ketika Tuhan hanya hadir saat dibutuhkan. Ketika ibadah menjadi konten. Ketika moralitas menjadi citra.

Dalam dongeng, iblis diusir dari surga. Tapi dalam kenyataan, iblis tinggal dalam kepala kita, bersuara seperti suara hati, mengutip ayat, memakai akhlak, dan sering kali terlihat seperti pemuka moral. Iblis tak perlu menampakkan diri—ia cukup membuat manusia menyembah dirinya sendiri.

Maka pertanyaannya bukan: apakah kau takut pada iblis? Melainkan: sudahkah kau mengenali wujudnya di dalam dirimu sendiri?

Tuhan di Balik Sunyi: Jalan Pulang yang Terlupakan

Setelah semua ilusi sosial, struktural, dan religius dilucuti, tersisalah satu pertanyaan purba:

“Untuk siapa sebenarnya kita hidup?”

Jika jawabanmu adalah: "untuk manusia lain," maka bersiaplah kecewa. Jika jawabanmu adalah: "untuk diriku sendiri," maka bersiaplah tersesat.

Sebab kita hanya akan menemukan arah ketika sadar: kita adalah makhluk yang tercipta, dan segala pencarian hanyalah cara untuk kembali ke Sang Pencipta.

Tapi jalan pulang itu tak lagi ramai. Sunyi. Terlupakan. Sebab manusia lebih suka festival di kota daripada perjalanan sepi menuju keheningan batin.

Sujud yang Sebenarnya

Di akhir semua ini, saya tak lagi ingin jadi manusia yang “baik” menurut ukuran manusia. Saya ingin jadi manusia yang benar menurut Tuhan. Meskipun itu berarti harus berjalan sendirian, ditertawakan, atau dianggap ngelantur.

Saya ingin jadi manusia yang sujud — bukan hanya di sajadah, tapi di dalam kesadaran. Sujud dalam berpikir, dalam mencinta, dalam bekerja, dalam diam.

Karena akhirnya, hanya satu yang penting:

Apakah hidup ini mendekatkan kita kepada Tuhan… atau justru semakin menjauhkan kita dari-Nya?

Jika jawabannya yang kedua, maka semua nilai, jabatan, dan penghargaan itu hanyalah debu yang menyamar jadi kemuliaan.

Dan jika begitu, barangkali selama ini… kita sedang sujud kepada ilusi, bukan kepada Tuhan.

Catatan dari Orang Gila: Surat untuk Mereka yang Mengaku Waras

Tak semua yang duduk di pojok jalan sambil bercakap dengan angin itu kehilangan akalnya. Sebab terkadang, hanya pada mereka-lah waras menemukan perlindungan terakhir dari dunia yang begitu bising — namun tuli.

Di dunia ini, kegilaan lebih sering diberi label daripada dipahami. Siapa pun yang berkata terlalu jujur dianggap aneh. Siapa pun yang melihat terlalu dalam dianggap menyimpang. Siapa pun yang berani menelanjangi kepalsuan, dianggap tak layak didengar. Tapi biarlah. Mungkin Tuhan pun diam bukan karena tak tahu — tapi karena tahu bahwa dunia tak ingin tahu.

Dan dalam diam-Nya, mungkin diturunkanlah satu dua orang yang oleh manusia disebut "gila" — untuk menjaga kewarasan yang hakiki dari kepunahan. Saya, dalam tulisan ini, bukan siapa-siapa. Hanya sisa gumam dari puing zaman.

Tapi izinkan saya, seorang yang kalian sebut majnun, menuturkan kisah yang tak bisa kalian cerna dengan logika yang kalian puja.

Catatan ini dari salah satunya.

Saya pernah membaca sebuah kisah. Tentang seorang lelaki yang mereka sebut majnun — orang gila. Ia bertemu Khalifah Harun, sang raja besar yang disegani manusia dan langit. Lalu sang khalifah bertanya, apa hajatmu padaku, wahai orang gila?

Majnun itu menjawab, “Tiga hal.”

Pertama, engkau tambah umur ku.

Kedua, engkau selamatkan aku dari malaikat maut.

Ketiga, engkau masukkan aku ke surga, dan engkau jauhkan aku dari neraka.

Khalifah terdiam. Ia tahu, tak satu pun dari permintaan itu bisa ia penuhi. Maka ia berkata dengan getir, “Aku tak bisa.”

Majnun itu pun tertawa — bukan tawa riang, tapi tawa yang keluar dari lelah paling sunyi. Lalu ia berkata:

“Kalau begitu, engkau bukan raja, melainkan hamba sahaya biasa. Dan aku tak memiliki hajat pada hamba sahaya.”

Dan dalam satu kalimat itu — semua topeng dunia runtuh.

Apa arti kekuasaan jika tak mampu menyentuh hakikat hidup? Apa arti kehormatan jika hanya bisa menggertak sesama makhluk? Apa arti waras jika hidup hanya untuk membungkuk pada ilusi?

Orang-orang mencibir majnun itu. Mereka menuduhnya gila, sesat, menyimpang dari norma. Tapi tak satu pun dari mereka sanggup memikul pertanyaan yang ia ajukan. Karena pertanyaan-pertanyaan itu seperti cermin: memantulkan wajah manusia yang pura-pura waras di dunia yang sejatinya kehilangan arah.

Siapa sebenarnya yang gila?

Mereka yang mengaku waras tapi menghamba pada gelar, jabatan, dan kekuasaan yang tidak bisa menyelamatkan mereka dari kematian?

Atau mereka yang menolak menyembah apa pun selain kebenaran, meski harus hidup dengan label "gila"?

Manusia membangun kota-kota, sistem, kurikulum, etika, dan protokol sosial — semua demi mempertahankan ilusi bahwa mereka berakal. Tapi di balik semua itu, ketakutan mereka pada pengabaian, pada kehilangan validasi, pada penghakiman sosial... justru mengoyak inti rasionalitas yang mereka banggakan.

Lalu apa yang tersisa dari akal, jika segala tindakan manusia hanya didorong oleh rasa takut?

Mungkin itulah sebabnya, orang-orang seperti kami — para majnun — memilih diam di pojok jalan. Kami tak ingin menyembah raja yang tak bisa menahan maut. Kami tak butuh kehangatan palsu dari dunia yang membeku oleh kebohongan. Kami hanya ingin hidup jujur, meski itu berarti hidup dalam kegilaan.

Karena dalam dunia yang penuh kemunafikan, kegilaan bisa jadi adalah satu-satunya bentuk kewarasan terakhir.

Ketika Tuhan Dipecat dari Hati yang Sibuk

Saya pernah mendengar kisah dari seorang sufi tua yang berkata:

"Tuhan tidak pergi. Ia hanya duduk diam dalam hati yang tak pernah kalian jamah,
karena kalian terlalu sibuk mengurusi dunia yang tak pernah mencintai kalian."

Manusia menyebut dirinya waras, hanya karena mampu menghafal harga bensin, jadwal kerja, dan kode parkir elektronik.

Tapi ketika ditanya: di mana Tuhan dalam hidupmu? — mereka terdiam.

Bukankah itu kegilaan yang lebih parah?

Cinta yang Membakar Diri Sendiri

Rabi’ah tak pernah minta surga, juga tak takut pada neraka. Ia hanya ingin mencintai Tuhan seperti api yang tak memilih kayu mana yang dibakar. “Tuhanku, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena ingin surga, jauhkan aku darinya. Tapi jika aku menyembah-Mu karena cinta, maka jangan sembunyikan Wajah-Mu dariku.”

Dan orang-orang menyebutnya gila.

Tapi bukankah itu gila yang paling waras? Cinta yang tak meminta balas, hanya ingin lenyap dalam kehadiran-Nya. Bandingkanlah dengan cinta manusia modern: yang meminta validasi, likes, dan pengakuan. Yang mencintai hanya untuk dikembalikan. Siapa sebenarnya yang gila?

Iblis: Bayang-Bayang Tuhan yang Menolak Membungkuk

Kisah ini yang paling banyak disalahpahami. Tentang iblis yang menolak sujud kepada Adam.
Para sufi, seperti Al-Hallaj, tidak hanya membaca kisah ini dengan mata, tapi juga dengan luka.

Iblis berkata, "Aku takkan sujud pada selain-Mu, ya Allah." Baginya, sujud hanya untuk Wajah Ilahi, bukan pada tanah yang ditiupkan ruh. Lalu apakah itu bentuk kesetiaan, atau kesombongan?

Syekh Siti Jenar berkata: "Iblis lebih jujur dari manusia. Ia menolak sujud pada selain Allah. Tapi manusia... sujud pada uang, kuasa, dan kehormatan. Namun merasa paling suci."

Mungkin kita semua adalah iblis dengan topeng nabi. Dan orang-orang yang berani membuka topeng itu — kalian sebut sesat, kalian bakar di pasar, kalian asingkan di pojok kota, atau kalian masukkan ke rumah sakit jiwa.

Padahal mereka cuma memegang cermin terlalu erat.

Ketika Akal Tak Lagi Menjadi Cahaya

Akal manusia adalah anugerah. Tapi ia bisa jadi kutukan ketika dipisahkan dari cinta dan kesadaran. Bayazid berkata: "Tuhan, bebaskan aku dari 'aku' agar hanya Kau yang tersisa." Manusia hari ini justru ingin memperkuat ke-aku-annya. Ingin lebih dikenal, lebih didengar, lebih dianggap. Tapi mereka lupa, bahwa semakin tebal lapisan diri, semakin jauh mereka dari hakikat.

Kami — para "gila" — justru membakar diri. Membiarkan nama hilang, identitas lenyap, ego meleleh. Karena hanya dalam kehilangan diri, Tuhan bisa ditemukan.

Waras bagi kami bukan berarti sesuai dengan sosial — tapi menyatu dengan yang Maha Wujud.

Epilog: Surat dari Orang Gila

Jangan kasihan pada kami yang kalian sebut “gila”.

Kami tak ingin kasihan, kami hanya ingin kalian berhenti membohongi diri sendiri.

Mungkin benar kata Al-Hallaj sebelum dipancung:

"Antara aku dan Tuhan ada tirai yang bernama aku. Ketika tirai itu tiada, maka yang bicara bukan lagi aku."

Saya bukan siapa-siapa.

Saya hanya cermin.

Jika kalian takut melihat bayangan yang muncul ketika menatapku, mungkin karena bayangan itu bukan wajah Tuhan...

melainkan wajahmu sendiri.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan

Perspectives 12

Bukan Sekadar “Yes-Man”: Menguak Sisi Rentan di Balik Kerentanan Manipulasi