Postingan

Diary Fiktif - 2

Pada suatu malam di kota kecil, seorang wanita muda duduk sendirian di kamarnya. Ia memegang sebuah buku catatan yang sudah penuh dengan tulisan-tulisannya sendiri. Ia merenung sejenak sebelum mengambil pena dan mulai menulis lagi. "22 April 2023. Hari ini aku memulai sebuah petualangan baru. Aku akan membangun sebuah perusahaan sendiri dan aku tahu ini tidak akan mudah. Tapi sebagai seorang introvert, aku selalu mencari cara untuk mempelajari dan menyempurnakan setiap apa yang aku inginkan." Wanita muda ini adalah Emily, seorang introvert yang selalu mengejar impian dan berusaha untuk mempelajari segala hal yang ia inginkan. Setelah lulus kuliah, ia memutuskan untuk memulai bisnis sendiri dan menjadi bos bagi dirinya sendiri. Emily tahu bahwa ia harus bekerja keras dan belajar banyak, namun ia yakin bahwa ia memiliki kemampuan untuk melakukannya. Hari pertama ia memulai bisnisnya, Emily mulai menulis rencana bisnisnya di dalam buku catatannya. Ia mencatat setiap ide ya...

Perspectives 12

Menulis—sebuah kesenangan yang tak pernah saya duga akan menemukan jalannya—menjadi pelarian yang memikat setelah saya masuk ke lingkungan perkuliahan. Sebelumnya, saat bekerja, waktu saya begitu sempit hingga tidak ada ruang untuk hobi atau aktivitas yang sebenarnya bisa memberi saya rasa puas. Lima tahun lamanya saya membuang-buang waktu pada kegiatan yang hanya menguras tenaga dan biaya, tetapi tidak memberikan dampak berarti—seakan semuanya hanya sekadar rutinitas kosong. Namun, dalam enam bulan terakhir ini, saya menemukan waktu untuk benar-benar menyelami dunia baru yang sebelumnya saya abaikan, dunia perkuliahan. Di sana, saya menemukan mata kuliah filsafat yang, tanpa saya sadari, mengubah cara saya memandang banyak hal. Setiap kali merenung tentang apa yang saya pelajari, saya merasa bahwa pemahaman saya tentang dunia ini berubah. Namun, ada yang mengganjal. Saya mulai mengaplikasikan pemikiran filsafat itu dalam pekerjaan saya sebagai pengawas di agensi makanan dan minuman te...

Perspectives 11

Saya bukanlah seseorang yang puitis. Anda tahu itu, kan? Saya tak punya kemampuan merangkai kata seperti mereka yang mampu membuat puisi indah dan memukau. Coba lihatlah, untuk menulis puisi yang benar-benar bermakna, seseorang harus memiliki pembendaharaan kata yang luar biasa, sering membaca, dan terbiasa mengikuti berbagai lomba hanya untuk melihat dan memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam karya mereka. Semua itu membutuhkan usaha, bukan? Anda pasti tahu itu. Tapi, apakah Anda pernah merasa takut untuk memulai sesuatu hanya karena Anda merasa tidak akan pernah cukup baik? Bukankah itu yang selalu terjadi pada kita? Bayangkan jika saya tetap takut untuk membuat puisi. Saya akan terus terjebak dalam keraguan, tidak pernah berani mencoba. Dan Anda tahu, itu adalah hal yang paling mudah dilakukan, bukan? Menghindari kegagalan dengan tidak pernah mencoba. Tetapi, apakah Anda merasa itu benar? Tidak mencoba hanya karena takut gagal? Bukankah itu cara yang biasa digunakan orang-orang unt...

Perspectives 10

Manusia selalu berusaha memahami dirinya dalam konteks sosial. Sejak lahir, kita telah diprogram untuk mencari penerimaan, merasakan kehangatan dari keberadaan orang lain, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan. "Gregariousness," sebutan untuk naluri sosial manusia, bukan sekadar kebutuhan, tetapi juga jerat yang tak terlihat—sebuah ilusi kebebasan yang menyelimuti realitas sesungguhnya (R. Wahyu Widodo, S.Psi.,M.Si, 2022). Sekarang, pikirkanlah. Seberapa sering keputusan yang anda ambil benar-benar milik anda sendiri? Saat anda tertawa di tengah percakapan, apakah itu karena kebahagiaan sejati atau karena otak anda menginstruksikan bahwa itulah respons sosial yang diterima? Ketika anda memilih pakaian, apakah itu cerminan gaya pribadi atau hanya kepatuhan terhadap norma yang ditanamkan sejak lama? Setiap gerakan anda, setiap kata yang anda ucapkan, adakah yang benar-benar lahir dari kehendak bebas? Festinger (1957) dalam teori disonansi kognitif mengungkapkan bahwa manu...